VAPE: Benarkah Lebih Aman Dari Rokok?
Liaa - Monday, 02 March 2026 | 04:46 AM


Vape atau rokok elektrik bekerja dengan memanaskan cairan (e-liquid) yang biasanya mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, serta perisa. Uap inilah yang kemudian dihirup pengguna.
Menurut World Health Organization (WHO), rokok elektrik tidak bisa dianggap aman.
WHO menyatakan bahwa aerosol vape tetap mengandung zat berbahaya dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang.
Apakah Vape Lebih Aman dari Rokok?
Beberapa studi menyebutkan bahwa kadar zat karsinogen pada vape memang lebih rendah dibanding rokok konvensional.
Namun, bukan berarti tanpa risiko.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan adanya kasus EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury), yaitu cedera paru akut yang berkaitan dengan penggunaan vape, terutama produk ilegal atau tidak terstandar.
Dampak Vape bagi Tubuh
1️⃣ Ketergantungan Nikotin
Nikotin bersifat adiktif dan dapat meningkatkan tekanan darah serta denyut jantung. Pada remaja, nikotin dapat mengganggu perkembangan otak.
2️⃣ Risiko Gangguan Paru
Paparan bahan kimia seperti formaldehida dan akrolein dalam aerosol dapat mengiritasi saluran napas dan memicu peradangan.
3️⃣ Dampak pada Jantung
Penelitian dalam jurnal Circulation menyebutkan bahwa penggunaan rokok elektrik dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi pembuluh darah.
Bagaimana dengan Remaja?
WHO secara tegas menyatakan bahwa peningkatan penggunaan vape di kalangan remaja menjadi perhatian global. Rasa buah dan kemasan menarik membuat produk ini lebih mudah diterima anak muda.
Padahal, paparan nikotin pada usia muda dapat memengaruhi konsentrasi, kontrol impuls, dan risiko kecanduan zat lain di masa depan.
Apakah Vape Bisa untuk Berhenti Merokok?
Beberapa negara menggunakan rokok elektrik sebagai alat bantu berhenti merokok dengan pengawasan medis. Namun, WHO menegaskan bahwa efektivitasnya masih diperdebatkan dan tetap memerlukan regulasi ketat.
Di Indonesia, pengawasan produk tembakau alternatif berada di bawah regulasi pemerintah termasuk pengawasan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia terkait keamanan produk konsumsi.
Vape bukan tanpa risiko. Meski mungkin memiliki paparan zat tertentu yang lebih rendah dibanding rokok konvensional, tetap ada potensi bahaya bagi paru, jantung, dan otak — terutama bagi remaja dan non-perokok.
Vape dilarang keras di lebih dari 30 negara, dengan larangan total (impor, penjualan, dan penggunaan) diterapkan di negara-negara seperti Singapura, Thailand, Vietnam, Hong Kong, India, Brasil, Argentina, Qatar, dan Turki. Sanksinya berat, mulai dari denda ribuan dolar hingga hukuman penjara.
Pastikan untuk memeriksa peraturan setempat sebelum bepergian ke negara-negara tersebut untuk menghindari sanksi hukum yang berat.
Pilihan paling aman bagi kesehatan tetaplah tidak merokok sama sekali, baik konvensional maupun elektronik.
Next News

Mengapa Daun Bisa Berubah Warna? Ini Penjelasan Ilmiahnya
14 minutes ago

Mitos atau Fakta: Makan Timun Saat Haid Berbahaya? Ini Penjelasan Medisnya
18 minutes ago

Mengapa Hobi Berkebun Kembali Digemari? Ini Alasan di Balik Tren Tanam di Rumah
22 minutes ago

Alasan Musik Menjadi Teman Saat Bekerja, Benarkah Bisa Meningkatkan Fokus?
26 minutes ago

Perlukah Menggunakan Face Mist Setiap Hari? Ini Penjelasan dan Manfaatnya
30 minutes ago

Benarkah Air Beras Baik untuk Kecantikan Kulit? Ini Fakta yang Perlu Anda Ketahui
34 minutes ago

Fakta Menarik Tentang Bambu: Tanaman yang Tumbuh Cepat dan Punya Banyak Manfaat
40 minutes ago

Fakta Unik: Paket Mi Instan Terbesar di Dunia Ternyata Dibuat di Indonesia
17 hours ago

Fakta Unik Niger, Negara dengan Penduduk Termuda di Dunia
17 hours ago

Fakta Unik San Marino: Negara Kecil yang Memiliki Lebih Banyak Mobil daripada Penduduk
17 hours ago





