Tradisi Menyambut Bayi di Berbagai Negara, Ada yang Bikin Haru
Laila - Tuesday, 15 September 2026 | 12:50 PM


Tradisi Menyambut Bayi di Berbagai Negara: Dari yang Unik Sampai Bikin Mewek
Kabar kelahiran bayi itu ibarat dapet transferan saldo kaget di akhir bulan, senangnya nggak kaleng-kaleng. Tapi, urusan menyambut manusia baru di bumi ini bukan cuma soal belanja popok segunung atau nyiapin kamar estetik ala Pinterest. Di balik tangisan pertama yang memecah kesunyian rumah sakit, ada rentetan tradisi turun-temurun yang dilakukan orang tua sebagai wujud syukur sekaligus doa. Dari yang sifatnya spiritual banget sampai yang kedengarannya agak 'ajaib', setiap budaya punya cara sendiri buat bilang "Selamat datang di dunia, Nak!"
Kalau kita ngomongin tradisi, Indonesia jelas jagonya. Tapi sebelum kita bahas tetangga jauh, mari kita tengok dulu keribetan yang berfaedah di negeri sendiri. Di Jawa, misalnya, ada tradisi mengubur ari-ari atau plasenta. Buat sebagian orang luar, mungkin ini terdengar agak horor, tapi bagi masyarakat kita, ari-ari dianggap sebagai 'saudara kembar' si bayi yang menjaga selama di kandungan. Makanya, prosesi menguburnya pun nggak sembarangan; harus dibersihkan, ditaruh di kendil, dikasih lampu biar 'terang jalannya', sampai didoakan biar si anak jadi orang bener. Belum lagi acara aqiqah atau potong rambut yang biasanya dibarengi dengan bagi-bagi nasi kotak ke tetangga. Vibes-nya itu lho, hangat dan penuh kekeluargaan.
Hadiah Bukan Buat Bayi, Tapi Buat Tamu: Ala Brasil
Pindah agak jauh ke Brasil, ada tradisi yang bakal bikin kamu mikir, "Kok mereka baik banget ya?" Biasanya, kalau kita nengok bayi, kita yang bawa kado, entah itu baju bayi yang gemoy atau sekadar amplop. Tapi di Brasil, situasinya agak terbalik. Orang tua si jabang bayi sudah menyiapkan lembrancinhas atau suvenir kecil buat siapa pun yang datang berkunjung ke rumah sakit atau rumah mereka.
Suvenirnya macam-macam, bisa berupa cokelat, parfum mini, atau benda-benda lucu dengan pesan terima kasih karena sudah mau menengok. Logikanya sederhana tapi kena di hati: mereka merasa sangat bahagia dengan kehadiran anggota keluarga baru, dan mereka ingin membagikan kebahagiaan itu kepada orang-orang terdekat. Benar-benar definisi 'memberi adalah menerima' yang dilakukan secara harfiah. Jadi, jangan heran kalau pulang dari rumah sakit di Brasil, kantong belanjaan kamu malah makin penuh.
Finlandia: Tidur di Kardus Adalah Sebuah Kemewahan
Kalau kamu melihat foto bayi di Finlandia tidur di dalam kotak kardus, jangan buru-buru pengen bikin donasi. Itu bukan karena orang tuanya nggak mampu beli kasur bayi, tapi karena itu adalah program pemerintah yang sudah ada sejak tahun 1930-an. Namanya Maternity Package. Isinya lengkap kap-kap; mulai dari baju musim dingin, perlengkapan mandi, sampai pembalut buat ibunya.
Yang paling ikonik adalah kotaknya itu sendiri yang didesain aman untuk jadi tempat tidur pertama si bayi. Tradisi ini terbukti berhasil menurunkan angka kematian bayi di Finlandia karena memberikan standar keamanan tidur yang sama bagi semua anak, tanpa memandang status sosial. Ada pesan mendalam di sini: setiap anak lahir dengan kesempatan yang sama. Sederhana, fungsional, tapi sekaligus mengharukan karena menunjukkan betapa negara benar-benar 'hadir' sejak hari pertama manusia bernapas.
Jepang: Ritual Oshichiya dan Harapan di Atas Kertas
Masyarakat Jepang dikenal sangat menghargai proses dan detail, termasuk dalam menyambut bayi. Ada tradisi bernama Oshichiya yang dilakukan pada malam ketujuh setelah bayi lahir. Inti dari acara ini adalah pemberian nama secara resmi. Di zaman dulu, tingkat kematian bayi sangat tinggi, jadi kalau bayi bisa bertahan sampai hari ketujuh, itu dianggap sebagai kemenangan besar yang harus dirayakan.
Nama si bayi akan ditulis dengan kaligrafi yang indah di atas kertas shuji dan dipajang di ruang tengah atau dekat altar keluarga. Selain itu, ada juga tradisi Okuizome atau upacara makan pertama saat bayi berusia 100 hari. Tenang, bayinya nggak beneran disuruh makan ramen, kok. Makanannya cuma disentuhkan ke bibir bayi sebagai simbol harapan agar si anak tidak pernah kekurangan makanan sepanjang hidupnya. Harapan yang sangat mendasar tapi sangat relate dengan kekhawatiran semua orang tua di dunia.
Armenia: Menunggu 40 Hari untuk Dunia
Pernah dengar istilah 'masa nifas' yang sangat ketat? Di Armenia, ada tradisi di mana ibu dan bayinya tidak diperbolehkan meninggalkan rumah selama 40 hari pertama setelah kelahiran. Hanya anggota keluarga inti yang boleh berkunjung. Tujuannya bukan buat sok eksklusif atau antisosial, tapi lebih ke perlindungan medis dan spiritual. Secara medis, bayi baru lahir memang rentan kena virus, kan?
Setelah 40 hari berlalu, barulah mereka mengadakan pesta besar atau upacara di gereja. Si bayi bakal didandani secantik atau seganteng mungkin untuk pertama kalinya diperkenalkan ke dunia luas. Ada perasaan lega dan haru ketika akhirnya 'masa pingitan' itu berakhir dan si kecil siap memulai petualangannya sebagai makhluk sosial. Ini semacam pengingat bahwa pertumbuhan itu butuh waktu dan kesabaran.
Kenapa Tradisi-Tradisi Ini Penting?
Mungkin buat sebagian orang modern, ritual-ritual di atas kesannya ribet atau bahkan nggak logis. Tapi kalau kita kupas lagi, semua tradisi ini punya satu akar yang sama: rasa sayang yang nggak terbatas. Tradisi adalah cara manusia merayakan kehidupan di tengah dunia yang makin lama makin terasa dingin dan individualis. Lewat bubur merah putih, kotak kardus, atau kaligrafi nama, kita sebenarnya sedang membangun ekosistem dukungan buat si anak dan orang tuanya.
Pada akhirnya, mau disambut pakai pesta pora atau sekadar doa sunyi di kamar bayi, yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga amanah tersebut. Karena setiap bayi yang lahir membawa pesan bahwa Tuhan belum putus asa terhadap manusia. Jadi, buat kalian yang baru jadi orang tua atau lagi nunggu hari H, semangat ya! Ingat, kalian nggak sendirian, ada jutaan orang tua lain di belahan bumi berbeda yang juga lagi repot ngurusin ari-ari atau nyiapin suvenir buat tamu dengan rasa haru yang sama.
Next News

Ternyata Nomor Kamar Hotel Tidak Selalu Berurutan, Ini Alasannya
in 6 hours

Ternyata Ada Alasan Kenapa Hotel Sering Menggunakan Sprei Berwarna Putih
in 6 hours

Hack Dapur yang Terlihat Sepele, Tapi Bisa Menghemat Banyak Waktu
in 6 hours

Jajanan Tradisional yang Mendadak Viral, Ternyata Punya Cerita Menarik
in 6 hours

Makanan Ini Mendadak Viral di Media Sosial, Apa yang Membuatnya Begitu Populer?
in 6 hours

Mengenal Tradisi Unik Masyarakat Batak yang Sarat Makna
in 6 hours

Kenapa Warga Negara Ini Mematikan Lampu Saat Perayaan Tertentu?
in 6 hours

Naik Transportasi Umum di Negara Ini, Ternyata Jauh Berbeda dari Indonesia
in 6 hours

Begini Rasanya Berbelanja di Pasar Tradisional Negara Lain, Ada yang Bikin Kaget
in 6 hours

Batuk Darah Jangan Diabaikan, Ini Penyebab dan Tanda Bahayanya
in 4 hours





