Selasa, 15 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Makanan Ini Mendadak Viral di Media Sosial, Apa yang Membuatnya Begitu Populer?

Laila - Tuesday, 15 September 2026 | 12:55 PM

Background
Makanan Ini Mendadak Viral di Media Sosial, Apa yang Membuatnya Begitu Populer?

Kenapa Sih Makanan Aneh Bisa Mendadak Viral? Rahasia di Balik Antrean Mengular dan FOMO Kita Semua

Pernah nggak sih kalian lagi asyik scrolling TikTok atau Instagram, terus tiba-tiba timeline penuh sama satu jenis makanan yang sama? Mulai dari selebgram, food vlogger, sampai temen SMA yang biasanya jarang posting, mendadak semuanya pamer lagi makan makanan itu. Entah itu pastry yang bentuknya bulat sempurna dan lumer pas dibelah, atau seblak yang cara masaknya pakai cobek kayu tapi bumbunya bikin mata melotot. Fenomena ini bukan hal baru, tapi selalu sukses bikin kita bertanya-tanya: sebenernya ini makanan beneran enak atau cuma menang di "estetika" doang sih?

Fenomena makanan viral di Indonesia itu ibarat musim hujan di Jakarta; datangnya tiba-tiba, bikin heboh, dan kadang bikin macet di mana-mana karena antreannya yang nggak masuk akal. Kita masih inget gimana dulu orang rela antre berjam-jam demi segelas Es Kepal Milo, atau gimana hebohnya Odading Mang Oleh yang katanya bikin kita jadi Iron Man. Tapi, apa sih sebenernya formula rahasia yang bikin sebuah makanan mendadak jadi penguasa jagat maya?

Visual yang "Pornographic" alias Foodporn

Zaman sekarang, kita makan pakai mata dulu baru pakai mulut. Kalau dulu kriteria makanan enak itu cukup rasa dan aroma, sekarang harus ditambah satu variabel wajib: Instagrammable. Makanan yang viral biasanya punya daya tarik visual yang kuat banget. Entah itu lelehan keju yang narik banget pas ditarik (cheese pull), warna-warni yang kontras, atau tekstur yang kelihatan sangat "crunchy" pas digigit.

Visual ini penting banget karena media sosial itu platform visual. Kita nggak bisa nyium bau atau ngerasain tekstur lewat layar HP, makanya mata yang harus dimanjakan duluan. Istilahnya adalah "Foodporn." Ketika sebuah video memperlihatkan cokelat cair yang tumpah-tumpah dari dalam croissant, otak kita secara otomatis ngirim sinyal lapar, meskipun sebenernya kita baru aja selesai makan nasi padang sebungkus. Keinginan buat memotret makanan yang cakep ini juga jadi dorongan kuat buat orang-orang beli. Karena kalau belum diposting di Story, rasanya kayak belum beneran makan makanan itu, ya kan?

Kekuatan FOMO yang Nggak Ada Obatnya

Faktor kedua, dan mungkin yang paling kuat, adalah FOMO alias Fear of Missing Out. Manusia itu makhluk sosial yang secara alami nggak mau ngerasa ketinggalan zaman. Pas kita ngelihat semua orang di circle kita nyobain "Dubai Chocolate" yang harganya selangit itu, ada perasaan nggak nyaman kalau kita nggak ikut nyoba. Kita ngerasa "kurang update" atau "nggak gaul" kalau nggak tahu rasanya makanan yang lagi didebatin seantero internet.



Psikologi kelangkaan atau scarcity juga sering dimainkan di sini. Biasanya, makanan viral itu susah didapat. Entah stoknya terbatas, cuma ada di satu lokasi tertentu, atau antreannya yang bikin kaki gempor. Hal-hal yang susah didapat ini malah bikin orang makin penasaran. Rasa penasaran ini seringkali ngalahin akal sehat. Kita jadi rela berangkat subuh-subuh atau bayar jastip (jasa titip) dengan harga dua kali lipat cuma demi membuktikan: "Gue udah nyobain, lho!"

Narasi dan Cerita di Balik Makanan

Kadang, bukan cuma soal rasa atau tampilan, tapi soal cerita di baliknya. Coba lihat gimana Seblak Coet ala Rafael Tan bisa meledak. Bukan karena seblaknya pakai bahan dari planet lain, tapi karena ada sosok "Mamang Rafael" yang membawakan kontennya dengan cara yang sangat lokal, lucu, dan apa adanya. Ada sentuhan personal yang bikin orang ngerasa deket.

Begitu juga dengan makanan yang viral karena "hidden gem." Narasi tentang warung kecil di gang sempit yang katanya udah jualan puluhan tahun tapi baru ketahuan sekarang, itu selalu laku keras. Orang ngerasa kayak lagi nemuin harta karun. Media sosial suka banget sama cerita-cerita "underdog" kayak gini. Akhirnya, orang-orang nggak cuma beli makanan, tapi mereka beli pengalaman dan cerita buat diceritain lagi ke orang lain.

Self-Reward dan Alasan "Healing"

Mari jujur-jujuran, hidup sebagai budak korporat atau mahasiswa yang dikejar deadline itu berat. Makanya, istilah "self-reward" sering jadi tameng buat kita jajan makanan viral yang sebenernya harganya kadang nggak masuk akal. Makanan manis, berlemak, atau yang lagi tren sering dianggap sebagai bentuk pelarian singkat dari stres seharian. "Nggak apa-apa deh mahal dikit, yang penting happy," gitu biasanya pembelaan kita.

Makanan viral seringkali diposisikan sebagai barang mewah yang masih terjangkau (affordable luxury). Kita mungkin belum bisa beli tas branded atau mobil mewah setiap bulan, tapi buat beli sepotong kue yang lagi hits seharga 80 ribu rupiah, kita masih mampu lah ya. Makan makanan viral ngasih kita kepuasan instan dan rasa "mampu" yang menyenangkan hati.



Masalahnya, Apakah Worth It?

Tapi di balik semua kegilaan itu, ada satu pertanyaan besar: apakah rasanya beneran enak? Nggak jarang kita nemuin makanan yang viralnya cuma karena strategi marketing atau algoritma semata. Pas dicobain, rasanya ya... standar aja. Bahkan kadang mengecewakan. Istilahnya "overrated." Ini yang sering bikin orang kapok, tapi lucunya, besoknya ada tren baru lagi, dan kita tetap aja ikut antre lagi.

Fenomena makanan viral ini sebenernya menunjukkan betapa kuatnya pengaruh komunitas digital terhadap kebiasaan konsumsi kita. Kita nggak lagi cuma butuh kenyang, tapi butuh validasi dan koneksi. Tapi ya itu, tren makanan biasanya datang dan pergi secepat kilat. Hari ini Cromboloni, besok mungkin nasi goreng yang dimasak pakai mesin cuci (jangan sampai ya!).

Kesimpulan

Jadi, apa yang membuat makanan mendadak viral? Jawabannya adalah kombinasi antara visual yang menggoda, rasa penasaran karena FOMO, narasi yang kuat, dan kebutuhan kita buat dapet hiburan instan. Nggak ada salahnya kok ikut tren makanan viral. Anggap aja itu bagian dari petualangan kuliner dan cara buat tetap terhubung sama apa yang lagi terjadi di dunia luar.

Tapi pesen saya cuma satu: jangan sampai dompet kalian "boncos" cuma demi konten yang umurnya cuma 24 jam di Instagram Story. Tetaplah jadi konsumen yang kritis. Kalau emang rasanya nggak enak, ya bilang nggak enak. Jangan karena semua orang bilang enak, kalian jadi maksa buat suka. Karena pada akhirnya, lidah kita masing-masinglah hakim paling jujur untuk urusan rasa. Selamat berburu kuliner viral, dan jangan lupa bawa powerbank pas lagi antre!

Tags