Selasa, 15 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Begini Rasanya Berbelanja di Pasar Tradisional Negara Lain, Ada yang Bikin Kaget

Laila - Tuesday, 15 September 2026 | 12:45 PM

Background
Begini Rasanya Berbelanja di Pasar Tradisional Negara Lain, Ada yang Bikin Kaget

Begini Rasanya Berbelanja di Pasar Tradisional Negara Lain, Ada yang Bikin Kaget

Kalau kamu tipikal traveler yang hobi banget pamer foto di depan menara Eiffel atau Taj Mahal, itu sah-sah saja. Tapi buat saya, esensi dari sebuah perjalanan itu bukan cuma soal landmark ikonik yang fotogenik di Instagram, melainkan soal perut dan bagaimana orang lokal bertahan hidup. Dan tempat paling jujur untuk melihat itu semua cuma satu: pasar tradisional. Ada semacam magis yang nggak bisa dijelaskan lewat kata-kata saat kita menginjakkan kaki di pasar negara orang. Bau amis ikan, aroma rempah yang menusuk hidung, sampai teriakan penjual yang bahasanya sama sekali nggak kita pahami, semuanya menyatu jadi satu simfoni yang asyik.

Tapi jujur ya, belanja di pasar tradisional luar negeri itu nggak selamanya seindah di vlog-vlog kuliner. Kadang ada momen yang bikin kita pengen melongo, ketawa, atau malah pengen cepat-cepat balik ke hotel karena merasa "culture shock" yang lumayan kencang. Pengalaman ini jauh beda sama kenyamanan supermarket ber-AC yang semuanya sudah tertata rapi dan punya label harga pasti.

Bukan Sekadar Transaksi, Tapi Adu Mental

Satu hal yang paling bikin kaget saat belanja di pasar tradisional negara-negara berkembang, misalnya di Vietnam atau India, adalah urusan tawar-menawar. Di Indonesia, kita mungkin sudah jago nawar harga cabai atau daster di Pasar Tanah Abang. Tapi coba deh, nawar di pasar Ben Thanh di Ho Chi Minh City. Rasanya kayak lagi ikut turnamen debat tingkat internasional tapi pakai bahasa isyarat.

Para pedagang di sana punya insting predator yang tajam. Mereka tahu mana turis yang dompetnya tebal dan mana yang cuma mau tanya-tanya doang. Seringkali, harga yang ditawarkan ke kita itu bisa tiga kali lipat dari harga asli. Di sini mental kita diuji. Kalau nggak berani nawar sampai "berdarah-darah", ya siap-siap saja dompet kering. Uniknya, di balik ketegangan tawar-menawar itu, ada senyum tipis atau malah omelan lucu dari si penjual saat kita akhirnya sepakat di harga tertentu. Itu yang bikin pengalaman belanja jadi terasa sangat manusiawi.

Pasar yang Lebih Bersih dari Kamar Kos Kita

Nah, kalau bicara soal kaget, ada jenis kaget yang berbeda saat kita mampir ke pasar tradisional di negara maju seperti Jepang atau Korea Selatan. Kalau di pikiran kita pasar itu identik dengan becek, bau, dan lalat yang beterbangan, lupakan semua itu saat masuk ke Nishiki Market di Kyoto atau Gwangjang Market di Seoul.



Pasarnya bersih banget! Lantainya kering, penataan barangnya sangat estetis, dan yang paling gila, nggak ada bau menyengat sama sekali. Padahal mereka jualan ikan mentah dan fermentasi yang aromanya biasanya kuat banget. Di sini kita kaget karena standar kebersihannya bikin kita merasa bersalah kalau buang sampah sembarangan. Tapi ya itu, harganya juga seringkali bikin kita kaget dua kali. Satu buah stroberi yang bentuknya sempurna bisa seharga satu porsi ayam geprek plus es teh manis di Jakarta. Memang ada harga, ada rupa.

Kuliner Ekstrim yang Bikin Geleng Kepala

Pindah ke zona kuliner, pasar tradisional di luar negeri seringkali jadi tempat "uji nyali". Kalau di pasar kita paling aneh cuma ketemu sate torpedo kambing, di pasar malam Thailand atau beberapa wilayah di Tiongkok, kamu bakal nemu camilan yang bikin dahi mengkerut. Kalajengking goreng, ulat sutra, sampai serangga air yang ukurannya segede jempol kaki manusia.

Melihat orang lokal ngunyah serangga itu kayak kita lagi makan kacang atom, rasanya ajaib banget. Ada rasa penasaran, tapi nyali seringkali ciut duluan. Belum lagi kalau kita main ke pasar di Amerika Latin atau Afrika, di mana bagian-bagian tubuh hewan yang menurut kita nggak lazim dimakan, malah dipajang dengan gagahnya. Di situlah kita sadar bahwa definisi "enak" dan "normal" itu ternyata sangat relatif dan tergantung koordinat GPS kita berada.

Bahasa Kalbu Adalah Kunci

Hambatan terbesar tentu saja soal komunikasi. Nggak semua pedagang pasar bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia. Di sinilah kreativitas kita ditantang. Kita bakal jadi ahli pantomim dadakan. Mau beli ayam? Kita bakal menirukan suara ayam sambil mengepakkan tangan. Mau tanya harga? Jari tangan jadi alat hitung paling akurat.

Lucunya, meskipun nggak nyambung secara verbal, transaksi tetap jalan terus. Ada semacam koneksi batin antara pembeli dan penjual. Senyuman, anggukan kepala, dan kalkulator adalah tiga pilar utama diplomasi di pasar tradisional. Pengalaman ini nggak bakal kamu dapatkan kalau belanja di mall mewah yang kasirnya cuma bilang "Ada tambahan lainnya, Kak?".



Mengapa Harus ke Pasar?

Mungkin ada yang tanya, ngapain sih repot-repot ke pasar tradisional kalau sudah ada minimarket yang praktis? Jawabannya simpel: karena di pasarlah kita bisa melihat wajah asli sebuah bangsa. Di pasar, kita bisa melihat bagaimana para ibu rumah tangga berinteraksi, bagaimana para buruh panggul bekerja keras, dan bagaimana geliat ekonomi akar rumput berputar.

Belanja di pasar tradisional luar negeri itu memberikan perspektif baru. Kita jadi lebih menghargai keberagaman, belajar sabar, dan yang paling penting, belajar bersyukur. Ternyata, meskipun kita beda negara dan beda bahasa, urusan perut dan keinginan untuk mendapatkan barang bagus dengan harga murah itu sifatnya universal.

Jadi, kalau besok-besok kamu punya kesempatan liburan ke luar negeri, jangan cuma mampir ke toko souvenir yang isinya gantungan kunci buatan pabrik. Luangkan waktu pagi-pagi sekali, cari pasar tradisional terdekat, dan rasakan sendiri sensasinya. Dijamin, ada cerita unik yang bakal kamu bawa pulang selain sekadar foto-foto estetik. Entah itu cerita tentang dipalak harga mahal, atau cerita tentang nemu jajanan paling enak sejagat raya yang namanya pun kamu nggak tahu. Itulah seni dari sebuah perjalanan.

Tags