Naik Transportasi Umum di Negara Ini, Ternyata Jauh Berbeda dari Indonesia
Laila - Tuesday, 15 September 2026 | 12:45 PM


Naik Transportasi Umum di Negara Ini, Ternyata Jauh Berbeda dari Indonesia
Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau hidup di Jakarta—atau kota besar lainnya di Indonesia—itu isinya cuma tentang bertahan hidup di tengah kemacetan? Bangun subuh, lari-larian ngejar KRL yang penuhnya minta ampun, atau pasrah kejebak macet dua jam di ojek online cuma buat menempuh jarak lima kilometer. Rasanya kayak rutinitas yang bikin jiwa raga jompo sebelum waktunya. Nah, sensasi ini mendadak hilang dan berganti jadi rasa heran luar biasa pas gue berkesempatan nyobain transportasi umum di negara maju, sebut saja salah satu negara di Asia Timur yang terkenal dengan keteraturannya.
Begitu menginjakkan kaki di sana, hal pertama yang bikin gue bengong adalah konsep "waktu". Di Indonesia, kalau jadwal bus bilang datang jam 07.00, itu artinya kita harus siap-siap mental buat nunggu sampai jam 07.15, atau malah jam 07.30 kalau abangnya lagi asyik ngopi. Tapi di sini? Gila, men. Kalau jadwal tertulis 08.02, maka di menit 08.01 kereta itu udah kelihatan moncongnya di ujung peron. Pas 08.02, pintu kebuka. Telat satu menit aja, itu udah dianggap aib nasional. Gue yang biasanya penganut aliran "jam karet" mendadak jadi manusia paling disiplin sedunia karena takut ditinggal.
Satu hal lagi yang bikin iri setengah mati adalah fasilitas pejalan kakinya. Di negara ini, naik transportasi umum itu satu paket sama jalan kaki. Dan jalannya itu nggak bikin emosi. Trotoarnya lebar, rata, nggak ada lubang jebakan betmen, apalagi kang bakso yang tiba-tiba mangkal di tengah jalan. Di sini, orang-orang jalan kaki itu kayak lagi fashion show, sat-set-sat-set, nggak perlu takut diserempet motor yang naik ke trotoar. Padahal kalau di tanah air, mau ke minimarket depan komplek aja kita mending starter motor daripada keringetan. Di sini, jalan 10 ribu langkah sehari itu rasanya enteng banget karena udaranya bersih dan jalurnya manusiawi.
Masuk ke dalam keretanya, suasananya beda 180 derajat sama KRL Jabodetabek di jam sibuk. Bukannya nggak ramai, ya. Rame sih rame banget, apalagi pas jam berangkat kantor. Tapi, ada satu "peraturan tidak tertulis" yang dipegang teguh sama semua orang: keheningan. Nggak ada tuh orang telponan teriak-teriak ngebahas cicilan paylater, nggak ada suara TikTok-an tanpa headset yang berisik banget, apalagi ibu-ibu rumpi yang suaranya menggelegar dari gerbong ujung ke ujung. Semua orang sibuk sama dunianya sendiri—baca buku, tidur, atau sekadar bengong menatap jendela. Suasananya tenang banget, sampai-sampai suara gesekan rel pun kedengeran jelas. Ini beneran terapi buat kaum introvert.
Terus, sistem pembayarannya itu lho, simpel banget sampai bikin pengen nangis. Cukup punya satu kartu sakti, lo bisa naik apa aja. Bus, kereta, tram, sampai belanja di minimarket pun bisa pakai kartu itu. Nggak perlu repot-repot ngubek dompet cari uang receh atau instal sepuluh aplikasi berbeda cuma buat bayar ongkos. Semuanya terintegrasi dengan mulus. Integrasi ini yang bikin pindah-pindah moda transportasi jadi nggak berasa beban. Turun dari kereta, jalan dikit, bus udah nunggu di depan pintu keluar. Skemanya tuh kayak udah direncanain matang-matang, bukan yang asal bangun terus nunggu masyarakat adaptasi sendiri.
Tapi ya, ada satu sisi unik yang bikin gue kangen Indonesia pas lagi naik transportasi di sana. Di sini, interaksinya kaku banget. Semua orang kayak robot yang diprogram buat sampai ke tujuan secepat mungkin. Nggak ada tuh drama "Mbak, permisi mau lewat" yang dibalas dengan senyuman atau obrolan basa-basi sama bapak-bapak di sebelah soal politik negara. Di Indonesia, transportasi umum itu kadang jadi panggung drama kehidupan yang seru buat diamati. Ada tukang jualan tahu sumedang yang masuk ke bus (walau kadang ganggu), ada pengamen yang suaranya lumayan, atau sekadar obrolan random yang bikin kita ngerasa "manusiawi".
Naik transportasi umum di negara orang emang bikin mata terbuka lebar. Ternyata, kalau sistemnya bener, kita nggak butuh-butuh amat bawa kendaraan pribadi yang bikin polusi. Transportasi umum yang nyaman itu bukan cuma soal kendaraannya bagus, tapi soal gimana waktu kita dihargai dan gimana hak kita sebagai pejalan kaki dipenuhi. Pulang dari sana, gue cuma bisa berharap semoga sistem transportasi di Indonesia bisa makin keren. Ya, minimal jadwalnya jangan terlalu kreatif lah ya telatnya.
Kesimpulannya, pengalaman ini beneran jadi culture shock yang positif. Meskipun harus banyak jalan kaki dan kudu diam kayak lagi ikut ujian nasional di dalam kereta, kenyamanannya nggak ada lawan. Ini bukan cuma soal teknologi, tapi soal budaya antre dan saling menghormati ruang publik. Buat kalian yang ada rencana ke luar negeri, cobain deh eksplor kotanya pakai transportasi umum. Dijamin, kalian bakal ngerasain bedanya dan mungkin bakal pulang dengan sedikit rasa "iri" yang memotivasi buat memperbaiki keadaan di negeri sendiri. Emang bener kata orang, pengalaman adalah guru terbaik, tapi pengalaman naik kereta tepat waktu itu beneran kayak mimpi indah yang nggak pengen disudahi.
Next News

Ternyata Nomor Kamar Hotel Tidak Selalu Berurutan, Ini Alasannya
in 6 hours

Ternyata Ada Alasan Kenapa Hotel Sering Menggunakan Sprei Berwarna Putih
in 6 hours

Hack Dapur yang Terlihat Sepele, Tapi Bisa Menghemat Banyak Waktu
in 6 hours

Jajanan Tradisional yang Mendadak Viral, Ternyata Punya Cerita Menarik
in 6 hours

Makanan Ini Mendadak Viral di Media Sosial, Apa yang Membuatnya Begitu Populer?
in 6 hours

Mengenal Tradisi Unik Masyarakat Batak yang Sarat Makna
in 6 hours

Kenapa Warga Negara Ini Mematikan Lampu Saat Perayaan Tertentu?
in 6 hours

Tradisi Menyambut Bayi di Berbagai Negara, Ada yang Bikin Haru
in 6 hours

Begini Rasanya Berbelanja di Pasar Tradisional Negara Lain, Ada yang Bikin Kaget
in 6 hours

Batuk Darah Jangan Diabaikan, Ini Penyebab dan Tanda Bahayanya
in 4 hours





