Senin, 10 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Regional & Nasional

Tapsel Serap 231,37 Ton Gabah Petani hingga Juni 2026, Lahan Rusak Jadi Kendala

RAU - Monday, 10 August 2026 | 07:51 AM

Background
Tapsel Serap 231,37 Ton Gabah Petani hingga Juni 2026, Lahan Rusak Jadi Kendala

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, terus mendorong penyerapan hasil panen petani sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan daerah. Hingga Juni 2026, total gabah petani yang berhasil diserap mencapai 231,37 ton.

Kepala Dinas Pertanian Tapsel, Taufik Batubara, menyebut penyerapan tersebut berlangsung sejak Januari hingga Juni 2026. Kegiatan itu dilakukan di tiga kecamatan, yaitu Batang Angkola, Angkola Timur, dan Sayurmatinggi.

Taufik mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Bulog serta berbagai pihak terkait agar penyerapan gabah petani dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Adapun penyerapan gabah tersebar di beberapa wilayah. Di Kelurahan Pintu Padang II tercatat sebanyak 62.487 kilogram, kemudian Aek Nauli sebesar 77.000 kilogram. Selanjutnya, penyerapan di Pargarutan Julu mencapai 7.890 kilogram dan Aek Badak Julu sebanyak 84.000 kilogram.

Meski demikian, upaya penyerapan gabah masih menghadapi sejumlah hambatan. Salah satu kendala utama adalah kerusakan lahan pertanian akibat bencana. Berdasarkan hasil asesmen, sekitar 1.380,5 hektare lahan sawah di Tapanuli Selatan mengalami kerusakan.



Sejumlah kawasan yang menjadi sentra produksi, seperti Sipirok, Batang Angkola, dan Sayurmatinggi, masih menjalani proses reklamasi. Sementara itu, beberapa lahan pertanian di Batang Toru masih tertutup material pasir sehingga belum bisa kembali digunakan untuk bercocok tanam.

Kerusakan tersebut berpengaruh terhadap produksi padi daerah. Berkurangnya lahan produktif secara otomatis turut menekan jumlah gabah lokal yang tersedia untuk diserap.

Selain faktor kerusakan lahan, kualitas dan kadar air gabah juga menjadi persoalan dalam proses penyerapan. Sebagian petani masih menggunakan metode penjemuran tradisional yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena kualitas gabah merupakan salah satu faktor penting dalam proses penyerapan. Karena itu, koordinasi antara pemerintah, petani, Bulog, dan pihak terkait terus dilakukan agar hasil panen petani tetap dapat terserap secara optimal.