Kamis, 27 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Tanaman Herbal di Sekitar Kita: Mana yang Sering Dimanfaatkan Masyarakat?

Laila - Thursday, 27 August 2026 | 12:00 PM

Background
Tanaman Herbal di Sekitar Kita: Mana yang Sering Dimanfaatkan Masyarakat?

Si Paling Herbal: Menebak Isi Apotek Hidup di Belakang Rumah Kita

Pernah nggak sih kamu lagi enak-enak rebahan, tiba-tiba merasa tenggorokan gatal atau badan mulai "nggreges" alias nggak enak body? Reaksi pertama anak muda zaman sekarang mungkin buka aplikasi halodoc atau cari obat warung yang bungkusnya warna-warni. Tapi, kalau ada Ibu atau Nenek di dekat kita, biasanya instruksinya beda. "Ngapain minum obat kimia, itu ambil jahe di dapur atau petik sirih di depan!" Nah, di sinilah kearifan lokal mulai bekerja.

Indonesia itu sebenarnya adalah 'apotek raksasa' yang menyamar jadi hutan dan pekarangan rumah. Mau di desa atau di gang sempit Jakarta sekalipun, pasti ada saja warga yang hobi nanam tanaman "ajaib" ini. Nggak sekadar hobi berkebun biar estetik ala Pinterest, tapi tanaman-tanaman ini memang beneran jadi penyelamat di saat darurat. Istilah kerennya sih back to nature, tapi bagi kita, ini soal tradisi yang sudah mendarah daging. Yuk, kita absen satu-satu, mana saja tanaman herbal yang paling sering muncul di kehidupan sehari-hari kita.

1. Jahe: Sang MVP di Kala Hujan

Kalau kita bicara soal tanaman herbal paling populer, jahe adalah pemenang mutlaknya. Jahe ini ibarat selebritas di dunia rimpang. Mau dibuat minuman hangat, campuran masakan, sampai jadi permen pun ada. Rasanya yang pedas-pedas hangat itu emang "gak ada obat" kalau urusan mengusir masuk angin. Apalagi kalau musim hujan mulai datang dan badan terasa jompo, segelas wedang jahe atau STMJ (Susu Telur Madu Jahe) rasanya sudah seperti pelukan hangat dari mantan—eh, maksudnya dari Ibu.

Selain bikin hangat, jahe juga sering jadi andalan buat yang sering mabuk perjalanan. Daripada dikit-dikit minum obat tidur biar pingsan di bus, mending ngunyah jahe atau minum airnya. Katanya sih, kandungan gingerol-nya itu yang bikin perut anteng. Nggak heran kalau jahe selalu ada di setiap dapur warga, minimal terselip di antara tumpukan bawang merah dan bawang putih.

2. Kunyit: Si Kuning yang Serbabisa

Selanjutnya ada kunyit. Tanaman ini punya warna yang sangat ikonik, yang kalau kena tangan saking susahnya hilang, bisa bikin kita disangka habis ikut pemilu selama seminggu. Tapi di balik warnanya yang "ngejreng" itu, kunyit adalah antibiotik alami paling ampuh yang dimiliki masyarakat kita. Punya luka gores? Parut kunyit. Perut kembung atau telat bulan buat para cewek? Minum jamu kunyit asam.



Observasi kecil-kecilan saya, kunyit asam itu adalah energy drink versi kearifan lokal. Segar, sehat, dan nggak bikin jantung berdebar-debar kayak habis minum kopi tiga gelas. Bahkan sekarang, kunyit naik kelas jadi "Turmeric Latte" di kafe-kafe mahal luar negeri. Padahal di pasar tradisional kita, seribu perak sudah dapat segenggam besar.

3. Lidah Buaya: Dari Rambut Sampai Perut

Kalau tanaman yang satu ini biasanya jadi penghias pagar atau pot-pot di teras. Lidah buaya alias Aloe Vera ini memang tampilannya agak berduri dan lendirnya bikin geli buat sebagian orang, tapi manfaatnya luar biasa. Sejak zaman sekolah dasar, kita sudah diajarin kalau lidah buaya itu bagus buat rambut biar lebat dan hitam berkilau. Padahal ya, sensasi dinginnya itu yang bikin ketagihan.

Tapi tahu nggak, kalau lidah buaya sekarang makin sering dimanfaatkan buat kecantikan (skincare) dan kesehatan pencernaan? Banyak orang yang mulai berani mengolah daging lidah buaya jadi minuman segar. Rasanya hambar sih, tapi teksturnya yang kenyal mirip jeli itu unik banget. Cuma ya itu, pas mengupasnya harus hati-hati kalau nggak mau gatal-gatal kena getah kuningnya.

4. Daun Sirih: Antiseptik Alami Sejak Zaman Majapahit

Ingat nggak tradisi nenek-nenek kita yang hobi "nyirih" sampai giginya jadi merah kehitaman? Ternyata itu bukan sekadar gaya hidup, tapi rahasia kenapa gigi orang tua zaman dulu tetap kuat meski sudah lanjut usia. Daun sirih punya kandungan antiseptik yang luar biasa kuat. Kalau anak zaman sekarang mimisan, biasanya orang tuanya bakal langsung gulung-gulung daun sirih buat disumbat ke hidung. Ajaibnya, darahnya langsung berhenti.

Nggak cuma itu, daun sirih hijau maupun merah juga sering digunakan buat masalah kewanitaan atau sekadar cuci mata yang merah. Meski sekarang sudah banyak produk pembersih kemasan yang pakai ekstrak sirih, tetap saja banyak yang lebih percaya sama rebusan daun sirih asli. Katanya sih, lebih "mantul" dan alami tanpa bahan pengawet.



5. Temulawak: Penyelamat Anak Susah Makan

Kalau kamu dulu adalah anak kecil yang kalau disuruh makan harus drama kejar-kejaran dulu sama Ibu, pasti kamu akrab dengan temulawak. Tanaman ini adalah musuh sekaligus sahabat anak-anak. Rasanya pahit-pahit getir gimana gitu, tapi khasiatnya buat nambah nafsu makan memang juara. Sampai sekarang, kalau ada orang yang badannya makin subur, sering banget dibilang "pasti rajin minum temulawak ya?".

Selain buat urusan perut, temulawak juga sering dimanfaatkan untuk kesehatan hati atau liver. Tanaman ini adalah bukti kalau yang pahit-pahit itu biasanya justru membawa kebaikan. Ya, mirip-mirip sama nasihat orang tua lah, pahit didengar tapi benar adanya.

Kenapa Kita Masih Cinta Herbal?

Di era yang serba digital ini, kenapa sih tanaman herbal masih eksis? Menurut opini pribadi saya, ini karena ada ikatan emosional dan rasa percaya yang turun-temurun. Ada semacam rasa tenang ketika kita tahu apa yang kita konsumsi itu berasal langsung dari tanah, tanpa campur tangan laboratorium kimia yang rumit. Selain itu, harganya yang murah meriah (bahkan gratis kalau tinggal petik) jadi solusi paling rasional buat kantong masyarakat kita.

Memanfaatkan tanaman herbal bukan berarti kita anti-sains atau menolak pengobatan modern. Justru, tanaman-tanaman ini adalah pelengkap. Ada kepuasan tersendiri saat kita berhasil meracik jamu sendiri di dapur dan merasa baikan setelah meminumnya. Itu adalah bentuk kemandirian kesehatan paling dasar yang kita punya.

Jadi, tanaman herbal mana yang paling sering nongkrong di dapurmu? Apa pun itu, mari kita jaga kelestariannya. Jangan sampai kita lebih hafal nama-nama obat di apotek modern daripada nama tanaman berkhasiat yang tumbuh tepat di bawah jendela kamar kita. Karena pada akhirnya, alam sudah menyediakan semuanya, tinggal kitanya saja yang mau belajar meracik atau tidak.



Tags