Sayuran Terkena Abu Vulkanik, Masih Aman Dimakan? Ini Penjelasannya
RAU - Monday, 07 September 2026 | 05:26 PM


Respons setiap tanaman terhadap abu vulkanik bisa berbeda. Penelitian yang dipublikasikan dalam bidang geosains dan lingkungan menunjukkan bahwa tingkat kerusakan tanaman dapat meningkat seiring bertambahnya jumlah abu yang menumpuk.
Dalam penelitian tersebut, beberapa jenis tanaman seperti selada, kubis, bawang, dan wortel diuji dengan paparan abu vulkanik buatan dalam jumlah berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa selada dan kubis mengalami dampak yang lebih besar dibandingkan bawang dan wortel.
Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah bentuk tanaman. Sayuran berdaun seperti selada dan kubis memiliki permukaan daun yang lebih luas sehingga lebih mudah menangkap dan menahan abu.
Sementara itu, sayuran umbi seperti wortel memiliki bagian yang dikonsumsi berada di dalam tanah sehingga pola paparannya berbeda dengan sayuran yang bagian makannya berada di atas permukaan tanah.
Abu Vulkanik Tidak Hanya Berupa Debu
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan abu vulkanik itu sendiri. Abu dan gas hasil erupsi dapat membawa berbagai unsur atau senyawa, termasuk fluorida, logam berat, serta senyawa sulfur.
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), keberadaan zat-zat tersebut menjadi salah satu alasan mengapa keamanan tanaman dan bahan pangan perlu diperhatikan setelah terjadi erupsi gunung api.
Ada perbedaan antara abu yang sekadar menempel di permukaan sayuran dengan zat yang telah masuk ke lingkungan pertumbuhan tanaman.
Jika abu hanya berada di permukaan, pencucian dengan air bersih dapat membantu mengurangi kontaminasi. Namun, apabila tanaman atau tanah telah terpapar unsur tertentu dalam konsentrasi tinggi, mencuci permukaan sayuran tidak selalu dapat menghilangkan zat yang sudah terserap.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Sayuran Terkena Abu?
Jika sayuran hanya terkena abu vulkanik dalam jumlah tipis, tidak perlu langsung membuangnya. Pisahkan sayuran yang terkena abu, kemudian buang bagian yang rusak atau sangat kotor.
Setelah itu, cuci sayuran secara menyeluruh menggunakan air bersih sebelum dikonsumsi.
Hindari menggunakan sabun, deterjen, atau bahan pembersih lainnya pada sayuran. Tujuan pencucian adalah menghilangkan partikel abu yang menempel pada permukaan.
Namun, kondisi berbeda berlaku jika sayuran tertutup abu dalam jumlah sangat banyak, berada di wilayah yang sangat dekat dengan sumber erupsi, atau terdapat peringatan dari pihak berwenang mengenai kemungkinan kontaminasi bahan pangan.
Dalam situasi tersebut, pencucian saja tidak dapat dijadikan satu-satunya patokan keamanan. Kandungan abu serta tingkat paparan terhadap tanaman dan lingkungan juga harus dipertimbangkan.
Jadi, sayuran yang terkena abu vulkanik tipis masih mungkin dikonsumsi setelah dicuci dengan air bersih, tetapi sayuran dengan paparan berat atau berada di wilayah yang mendapat peringatan kontaminasi sebaiknya tidak dikonsumsi sebelum ada kepastian dari otoritas terkait.
Next News

Hujan Abu Vulkanik, Bolehkah Menjemur Pakaian di Luar Rumah? Ini yang Perlu Diperhatikan
in 7 hours

Mengapa Kebersihan Kasur Penting bagi Kenyamanan Tidur?
19 minutes ago

Bersih, Sehat, dan Cantik: Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dilakukan Setiap Hari
19 minutes ago

Mengapa Membersihkan Ponsel Juga Penting untuk Kebersihan Sehari-hari?
19 minutes ago

Mengapa Handuk Tidak Sebaiknya Digunakan Terlalu Lama?
19 minutes ago

Seberapa Sering Sebenarnya Kita Harus Mengganti Sprei?
19 minutes ago

9 Makanan yang Perlu Dibatasi untuk Menjaga Kesehatan Ginjal
in 6 hours

Sering Makan Mi Instan Pakai Nasi? Ini Dampaknya bagi Tubuh
in 6 hours

7 Tanda Ginjal Anak Bermasalah yang Perlu Dikenali Orang Tua
in 6 hours

7 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Bikin Wajah Cepat Tua, Hindari!
in 6 hours





