Kamis, 12 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Internasional

Rupiah Hari Ini, Dolar AS Terus Meroket Dekati 17 Ribu

Liaa - Wednesday, 11 March 2026 | 02:40 AM

Background
Rupiah Hari Ini, Dolar AS Terus Meroket Dekati 17 Ribu

Dolar Hampir Tembus 17 Ribu

Pernah nggak sih kalian bangun pagi, niatnya mau scrolling TikTok nyari hiburan atau liat video kucing lucu, eh malah disuguhi berita kurs dolar yang bikin mules? Kalau iya, kita satu frekuensi. Beberapa hari terakhir ini, timeline berita kita nggak jauh-jauh dari angka yang bikin mata mendelik: Rp 16.855 per dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, di beberapa momen, angka itu sempat "genit" banget mau nyolek angka Rp 17.000. Bayangkan, tujuh belas ribu rupiah cuma buat satu keping koin hijau dari negeri Paman Sam!

Buat sebagian orang, mungkin ini cuma angka statistik di layar televisi atau aplikasi saham. Tapi buat kita-kita yang hobi belanja barang impor, yang suka langganan aplikasi streaming pakai kurs luar, atau yang lagi nabung buat liburan ke Jepang (biar bisa foto di depan Tokyo Tower), angka ini adalah sebuah horor nyata. Rasanya kayak lagi asik-asik jalan kaki, eh tiba-tiba disalip sama bus yang knalpotnya nembak tepat di depan muka. Kaget, kesel, sekaligus sesak napas.

Kenapa Sih Si Hijau Ini Hobi Banget Naik Gunung?

Kalau kita tanya pengamat ekonomi, jawabannya pasti panjang lebar pakai istilah kayak "hawkish," "interest rate," sampai "global uncertainty." Tapi kalau mau diterjemahin pakai bahasa tongkrongan, masalahnya itu kayak gini: Amerika Serikat itu lagi jadi "primadona" yang egois. Bank sentral mereka, The Fed, masih betah banget nahan suku bunga tinggi. Efeknya? Investor dunia lebih milih naruh duitnya di sana daripada di negara berkembang kayak kita. Duit-duit itu pada mudik ke Amerika, dan otomatis permintaan dolar naik gila-gilaan. Hukum pasar berlaku: kalau barang banyak yang cari tapi stoknya rebutan, ya harganya selangit.

Belum lagi urusan perang yang nggak kelar-kelar di Timur Tengah. Dunia itu kecil, kawan. Ada bom jatuh di sana, harga minyak dunia langsung "panic buying," dan ujung-ujungnya dolar makin perkasa karena dianggap sebagai aset yang paling aman atau safe haven. Kita yang di sini? Ya cuma bisa ngeliatin layar sambil elus dada, nungguin kapan rupiah bisa balik perkasa lagi kayak zaman dulu.

Dampaknya ke Kita, Dari iPhone Sampai Tahu Tempe

Mungkin ada yang mikir, "Ah, gue kan nggak punya dolar, ngapain pusing?" Eits, jangan salah. Ekonomi kita itu kayak benang kusut yang saling nyambung. Coba liat gadget yang kalian pegang sekarang. Hampir semua komponennya atau malah unitnya itu impor. Kalau dolar naik, ya jangan kaget kalau harga HP baru yang kalian incer tiba-tiba naik beberapa ratus ribu. Yang tadinya sisa budget bisa buat beli casing lucu, sekarang malah harus nombok buat unit utamanya doang.



Dan jangan lupakan urusan perut. Kita ini negara agraris, tapi kedelai buat tahu sama tempe itu masih banyak yang didatangkan dari luar negeri. Kalau dolar makin mahal, biaya impor kedelai otomatis membengkak. Pilihannya cuma dua buat tukang tahu: harganya dinaikin, atau ukurannya dibikin makin tipis sampai setipis kartu ATM. Sedih nggak tuh? Makan tempe goreng berasa makan kerupuk karena saking tipisnya.

Belum lagi buat temen-temen yang kerjanya jadi freelancer buat klien luar negeri. Oke, mungkin kalian seneng karena bayaran dolarnya kalau dikonversi ke rupiah jadi makin banyak. "Wah, cuan gede nih!" pikir kalian. Tapi inget, biaya hidup di dalam negeri juga pelan-pelan ikut naik mengikuti arus inflasi. Jadi ya, sebenernya sama aja bohong kalau harga nasi padang langganan kalian juga ikutan naik lima ribu per porsi.

Usaha Pemerintah dan Harapan Kita yang "Pasrah tapi Berusaha"

Bank Indonesia (BI) jelas nggak tinggal diam. Mereka biasanya melakukan intervensi pasar, jual-jual dolar simpanan mereka biar rupiah nggak terlalu "terjun bebas." Tapi ya itu, melawan arus ekonomi global itu ibarat kita nahan banjir pakai gayung. Bisa, tapi capeknya minta ampun. Pemerintah juga terus berusaha narik investor masuk, tapi ya namanya juga pasar, mereka pasti cari tempat yang paling menguntungkan dan aman.

Lalu, apa yang bisa kita lakuin sebagai rakyat jelata yang cuma bisa nonton berita? Ya, nggak banyak selain mengatur ulang strategi keuangan. Mungkin rencana ganti laptop tahun ini harus dipending dulu sampai situasi mendingan. Atau yang biasanya tiap weekend jajan kopi susu kekinian yang harganya 40 ribuan, mungkin bisa dikurangi frekuensinya jadi dua minggu sekali. Belajar bikin kopi sendiri di rumah pakai alat seadanya juga nggak buruk-buruk amat kok, malah jadi punya skill baru.

Selain itu, ini saatnya kita lebih "cinta produk-produk Indonesia" bukan cuma karena slogan, tapi karena keadaan mendesak. Kalau kita belanja produk lokal, setidaknya perputaran duitnya masih di sini-sini aja, nggak perlu banyak drama konversi kurs yang bikin kepala pusing.



Tarik Napas, Jangan Lupa Bahagia

Dolar tembus Rp 16.855 dan hampir Rp 17.000 memang bukan kabar yang enak didengar sambil minum teh sore-sore. Ini adalah pengingat kalau dunia sedang tidak baik-baik saja dan kita harus makin pintar kelola uang. Tapi jangan sampai angka-angka di bursa efek itu merenggut kebahagiaan kita. Ekonomi itu siklus, ada kalanya di bawah, ada kalanya (semoga secepatnya) di atas.

Intinya, tetap pantau berita tapi jangan sampai bikin stres berlebihan. Tetap kerja keras, tetap kreatif cari peluang, dan yang paling penting: jangan hobi foya-foya pakai paylater pas kurs lagi nggak ngotak kayak sekarang. Kita nggak tahu kapan rupiah bakal "balas dendam," tapi untuk sekarang, mari kita kencangkan ikat pinggang sambil berharap si hijau itu capek naik gunung dan mau turun gunung lagi.