Ribuan Jemaah Padati Al Aqsa Usai Akses Dibuka Kembali
Nanda - Saturday, 11 April 2026 | 09:45 AM


Otoritas Israel kembali membuka akses menuju Kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur pada Kamis, 9 April 2026, setelah penutupan total selama 40 hari akibat eskalasi konflik yang pecah sejak akhir Februari lalu.
Sejak waktu fajar, ribuan warga Palestina mulai memadati gerbang kompleks suci tersebut. Laporan di lapangan menyebutkan sekitar 3.000 jemaah berhasil menunaikan salat subuh berjemaah untuk pertama kalinya sejak akses ditutup secara ketat.
Dalam pernyataan resminya, Departemen Wakaf Islam Yerusalem menyampaikan bahwa pintu Al-Aqsa kembali dibuka bagi seluruh jemaah mulai waktu subuh.
Pengamanan Ketat di Kota Tua
Meski akses telah dipulihkan, aparat keamanan Israel tetap memberlakukan penjagaan intensif di kawasan Kota Tua Yerusalem. Ratusan personel kepolisian dan penjaga perbatasan ditempatkan di berbagai titik masuk menuju area suci untuk memantau arus pengunjung. Kepolisian menyebut langkah tersebut dilakukan sesuai arahan Komando Pertahanan Dalam Negeri.
Sebelumnya, pembatasan diberlakukan terhadap umat Muslim, Kristen, dan Yahudi di sejumlah situs suci di Yerusalem menyusul situasi perang regional sejak 28 Februari 2026. Penutupan itu memicu sorotan internasional mengingat sensitivitas sejarah dan keagamaan wilayah tersebut.
Sebelum pembukaan kembali, relawan dan pengelola masjid melakukan pembersihan serta persiapan area salat. Selain Al-Aqsa, akses ke Gereja Makam Suci juga dibuka kembali bagi umat Kristiani.
Perpanjangan Durasi Kunjungan Picu Kritik
Di sisi lain, keputusan pembukaan ini diiringi kebijakan yang menuai kontroversi. Otoritas Israel memperpanjang waktu kunjungan harian bagi kelompok pemukim Israel selama 30 menit dari jadwal sebelumnya. Kini, kunjungan dijadwalkan pada pukul 06.30–11.30 serta sesi sore pukul 13.30–15.00.
Langkah tersebut mendapat kecaman dari otoritas Palestina. Mahmoud Al-Habbash, Ketua Mahkamah Agung Palestina sekaligus penasihat presiden urusan agama, menilai kebijakan itu berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.
Ia menyatakan bahwa perpanjangan durasi kunjungan dinilai melanggar status quo historis dan dapat menghambat kebebasan beribadah umat Muslim. Al-Habbash juga memperingatkan bahwa kebijakan yang dianggap provokatif di kompleks suci tersebut berisiko memperluas ketegangan apabila tidak segera ditangani secara diplomatik oleh komunitas internasional.
Next News

Ancaman Badai Raksasa yang Dekati Jepang hingga China
2 days ago

Korban Jiwa Gempa Venezuela Tembus 4.000 Orang, Ribuan Hilang
2 days ago

BMKG: Hujan ringan guyur sebagian besar Indonesia pada Jumat
a month ago

Bagaimana Piramida Mesir Dibangun Tanpa Alat Berat? Mengungkap Teknologi Hebat Peradaban Kuno
a month ago

Liburan ke Swiss? Jangan Lewatkan 9 Tempat Indah Ini
a month ago

Sejarah Taj Mahal: Kisah Cinta Shah Jahan dan Mumtaz Mahal yang Menjadi Warisan Dunia
a month ago

Yordania Kecam Langkah Israel Menyita Properti Wakaf di Sekitar Masjid Al-Aqsa
2 months ago

Sleepy Hollow Nyata di Kazakhstan, Warga Bisa Tidur Berhari-hari
2 months ago

Mengapa India Sering Disebut Vrindavan? Ini Sejarah dan Fakta Menariknya
2 months ago

7 Fakta Menarik Kekaisaran Mughal, Kerajaan Islam Terbesar di India
2 months ago





