Minggu, 25 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Pesona Kamera Tua: Alasan Anak Skena Pilih Analog dibanding Digital

Laila - Wednesday, 02 September 2026 | 12:00 PM

Background
Pesona Kamera Tua: Alasan Anak Skena Pilih Analog dibanding Digital

Nostalgia yang Gak Pernah Mereka Alami: Mengapa Gen Z Begitu Terobsesi dengan Kamera Analog

Bayangkan sebuah skenario yang lumrah terjadi di kedai kopi hits di Jakarta Selatan atau Jogja belakangan ini. Ada anak muda, pakai outfit ala-ala skena dengan tote bag di bahu, tapi di lehernya bukan menggantung kamera mirrorless terbaru seharga motor matic. Alih-alih, yang menggantung adalah sebongkah besi tua bermerek Canon AE-1 atau Nikon FM2 yang mungkin usianya lebih tua dari umur kakak tertua mereka. Sesekali, mereka membidik objek, memutar tuas kokang dengan bunyi 'trek-trek' yang memuaskan, lalu menjepret dengan suara shutter yang mantap. Tidak ada layar LCD di belakang kamera. Tidak ada fitur autofocus yang secepat kilat. Hanya ada mereka, lensa, dan segulung film yang harganya sekarang bikin dompet menjerit.

Fenomena kembalinya kamera analog di kalangan Gen Z ini sebenarnya agak ironis. Kita bicara tentang generasi yang lahir dan besar dengan teknologi digital di genggaman. Mereka adalah generasi yang bisa mengambil ribuan foto hanya dalam satu sesi nongkrong pakai iPhone, lalu menghapusnya begitu saja kalau merasa pipinya kelihatan sedikit lebih lebar. Tapi entah kenapa, mereka justru jatuh cinta pada teknologi yang lambat, mahal, dan penuh ketidakpastian ini. Kenapa sih?

Melawan Arus Kesempurnaan Digital yang Membosankan

Kita harus jujur, hasil jepretan smartphone zaman sekarang itu terlalu sempurna. Saking sempurnanya, foto-foto itu jadi terasa "dingin" dan tanpa jiwa. Algoritma AI di ponsel kita bekerja keras menghaluskan kulit, menyeimbangkan cahaya, sampai terkadang hasilnya terlihat terlalu dipaksakan. Di sinilah kamera analog masuk sebagai antitesis. Gen Z bosan dengan kesempurnaan yang instan. Mereka justru mencari ketidaksempurnaan.

Grain atau bintik-bintik pada foto, light leak alias bocornya cahaya yang memberikan semburat warna oranye tak terduga, hingga saturasi warna yang kadang nggak akurat, justru itulah yang dicari. Ada semacam estetika "romantisme kegagalan" di sana. Foto yang sedikit blur atau warnanya agak kekuningan malah dianggap lebih estetik dan punya cerita daripada foto tajam 48 megapiksel yang bisa diambil siapa saja. Bagi Gen Z, analog adalah tentang menangkap rasa, bukan sekadar menangkap cahaya.

Ritual yang Mengalahkan Instanitas

Ada satu kata yang sering muncul kalau kita ngobrol sama pecinta analog: Proses. Menggunakan kamera analog itu ribet, dan anehnya, keribetan itulah nilai jualnya. Ada ritual yang harus dijalani. Mulai dari memilih roll film yang karakternya beda-beda (Kodak Gold buat yang suka tone hangat, atau Fujifilm buat yang suka nuansa hijau adem), memasang film ke dalam spool dengan hati-hati supaya nggak terbakar, sampai memutar tuas kokang secara manual.



Kamera analog memaksa penggunanya untuk "slow down". Karena satu roll film biasanya cuma berisi 36 atau 24 frame, setiap jepretan jadi terasa sangat berharga. Kamu nggak bakal asal jepret kayak pakai HP. Kamu akan berpikir berkali-kali: Apakah komposisinya sudah pas? Apakah cahayanya cukup? Karena setiap klik artinya kamu sedang membakar uang ribuan rupiah. Sensasi "berpikir sebelum bertindak" inilah yang memberikan kepuasan tersendiri di tengah dunia yang serba buru-buru.

Lalu, ada momen menantikan hasil scan yang dikirim oleh lab film. Menunggu hasil cuci-cetak itu rasanya mirip-mirip kayak menunggu balasan chat dari gebetan: ada rasa deg-degan, penasaran, dan sedikit cemas kalau ternyata fotonya gagal total alias 'gosong'. Begitu link Google Drive berisi hasil scan masuk ke email, rasanya seperti mendapat hadiah kejutan. Kejutan yang tidak bisa diberikan oleh layar preview instan di kamera digital.

Bukan Sekadar Hobi, Tapi Identitas Skena

Tak bisa dipungkiri, tren ini juga dipicu oleh faktor gaya hidup dan media sosial. Instagram yang awalnya adalah platform berbagi foto, sekarang malah dipenuhi video pendek. Foto-foto analog dengan bingkai putih khas hasil scan atau warna-warna vintage yang otentik menjadi cara bagi Gen Z untuk tampil beda di feed mereka. Mengunggah foto dengan caption "Shot on Film" atau hashtag #FilmIsNotDead seolah menjadi tanda bahwa si pemilik akun adalah orang yang apresiatif terhadap seni dan proses.

Komunitas lab film pun menjamur. Tempat-tempat seperti Lab Rana, Soup n Film, atau berbagai lab lokal di tiap kota jadi titik kumpul baru. Di sana mereka tidak cuma menitipkan film untuk dicuci, tapi juga bertukar informasi soal tempat beli kamera bekas yang masih bagus atau berbagi tips cara memotret di kondisi low-light tanpa flash. Analog telah menjadi perekat sosial baru yang sangat organik.

Meskipun Dompet Harus "Boncos"

Kalau ada satu hal yang paling sering dikeluhkan para pemain analog baru, itu adalah harga. Harga roll film sekarang sudah tidak masuk akal dibanding lima atau sepuluh tahun lalu. Dulu, bawa uang lima puluh ribu masih bisa dapat satu roll film dan sisa buat beli es kopi. Sekarang? Satu roll Kodak Portra bisa dibanderol seharga makan siang mewah di mall. Belum lagi biaya cuci dan scan-nya.



Tapi herannya, kenaikan harga ini nggak bikin minat mereka surut. Malah makin banyak yang rela menabung atau menyisihkan uang jajan demi bisa motret satu roll sebulan. Mungkin karena bagi Gen Z, pengalaman (experience) lebih berharga daripada barang itu sendiri. Mereka rela "boncos" atau boros demi sebuah kenangan yang tercetak di atas seluloid, sesuatu yang sifatnya fisik dan bisa dipegang, bukan sekadar data digital yang gampang hilang kalau memori HP penuh.

Kesimpulan: Melawan Lupa dengan Klise

Pada akhirnya, kembalinya kamera analog di tangan Gen Z adalah bentuk kerinduan pada sesuatu yang nyata di dunia yang makin maya. Di tengah gempuran Metaverse, AI, dan filter-filter wajah yang makin canggih, memegang kamera analog yang berat dan berisik memberikan perasaan bahwa mereka benar-benar hadir di momen tersebut.

Analog bukan cuma soal tren gaya-gayaan. Ini adalah cara generasi muda menghargai waktu dan kesalahan. Bahwa hidup nggak harus selalu dipotret dengan sempurna. Kadang, hidup itu indah justru karena ada grain-nya, ada bocor cahayanya, dan ada proses menunggu yang panjang untuk melihat hasilnya. Selama masih ada anak muda yang mau bersabar memutar tuas kokang, tampaknya semboyan "Film Is Not Dead" akan terus relevan sampai bertahun-tahun ke depan.

Tags