Senin, 1 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Penyebab Cegukan Tiba-tiba dan Cara Mengatasinya Secara Alami

Laila - Monday, 01 June 2026 | 09:45 PM

Background
Penyebab Cegukan Tiba-tiba dan Cara Mengatasinya Secara Alami

Misteri di Balik Bunyi Hik: Kenapa Sih Kita Bisa Cekukan?

Bayangin lagi asyik-asyiknya first date di kafe estetik, suasana lagi romantis, obrolan lagi mengalir deras, tiba-tiba dari tenggorokan kamu keluar bunyi "hik!" yang nyaring banget. Belum sempat minta maaf, semenit kemudian bunyi itu muncul lagi. "Hik!" Terus berulang sampai muka kamu merah menahan malu dan si gebetan cuma bisa senyum canggung sambil nyodorin gelas air mineral. Momen ini bukan cuma merusak suasana, tapi juga bikin kita bertanya-tanya: sebenernya dosa apa yang kita perbuat sampai tubuh tega banget ngeluarin bunyi aneh di waktu yang nggak tepat?

Cekukan, atau dalam bahasa medisnya disebut singultus, adalah salah satu fenomena tubuh paling random yang pernah ada. Ia datang nggak diundang, dan seringkali pulangnya juga nggak permisi. Di tongkrongan, biasanya ada aja mitos yang berseliweran kalau kita lagi cekukan. Ada yang bilang lagi dikangenin mantan, ada yang bilang lagi jadi omongan orang, sampai ada yang nyaranin buat naruh potongan kertas basah di jidat. Tapi, kalau kita bedah dari sisi sains dan logika santai, penyebab cekukan itu sebenernya lebih ke masalah teknis di dalam mesin tubuh kita sendiri.

Si Diafragma yang Sedang "Ngambek"

Inti dari segala keributan suara "hik" ini ada pada otot besar bernama diafragma. Otot ini letaknya di bawah paru-paru dan fungsinya vital banget buat napas kita. Normalnya, diafragma ini kerjanya mulus-mulus aja: turun waktu kita tarik napas, dan naik waktu kita buang napas. Tapi, ada kalanya si diafragma ini mengalami kontraksi tiba-tiba atau semacam kejang otot yang nggak disengaja. Begitu dia kejang, udara masuk terlalu cepat ke tenggorokan, dan "jepret!", pita suara kita menutup mendadak. Itulah yang menghasilkan bunyi ikonik yang bikin kita naik darah itu.

Lantas, apa yang bikin si diafragma ini tiba-tiba rewel? Ternyata pemicunya banyak banget, dan sebagian besar adalah kebiasaan sepele yang sering kita lakukan tanpa sadar.

Makan Bar-bar dan Minuman Bergas

Penyebab paling umum cekukan biasanya berhubungan dengan urusan perut. Pernah nggak kamu merasa kelaparan banget terus makan nasi padang kayak orang lagi lomba lari? Nah, makan terlalu cepat itu bikin udara masuk ke dalam lambung barengan sama makanan. Lambung yang tiba-tiba melar karena penuh makanan dan udara ini bakal nyenggol si diafragma. Karena merasa terganggu, diafragma pun bereaksi dengan cara bergetar nggak keruan.



Selain makan buru-buru, minuman bersoda atau berkarbonasi juga jadi tersangka utama. Gas yang ada di minuman itu bikin lambung kembung seketika. Jangan lupakan juga makanan pedas yang levelnya nggak masuk akal. Rasa pedas yang ekstrem bisa mengiritasi saraf yang mengontrol diafragma. Jadi, kalau kamu nekat makan seblak level dewa terus langsung cekukan, itu adalah cara tubuhmu bilang, "Woi, pelan-pelan dong!"

Perubahan Suhu dan Emosi yang Meledak

Penyebab selanjutnya agak unik karena berhubungan dengan suhu. Pernah nggak lagi panas-panasan terus langsung tenggak air es yang dinginnya minta ampun? Perubahan suhu mendadak di kerongkongan ini bisa bikin saraf di sekitar diafragma kaget. Nggak cuma suhu air, perubahan suhu ruangan pun kadang bisa jadi pemicu buat orang-orang yang sensitif.

Nggak berhenti di fisik aja, kondisi psikologis kita juga punya andil. Pernah lihat orang ketawa sampai cekukan? Atau mungkin lagi stres berat terus tiba-tiba "hik"? Emosi yang meluap-luap, entah itu terlalu bahagia, terlalu sedih, atau rasa cemas yang berlebihan, bisa mengganggu pola napas kita. Saat pola napas nggak stabil, saraf yang mengatur otot pernapasan jadi ikut-ikutan stres dan memicu kontraksi diafragma tadi.

Cekukan yang Nggak Mau Pergi

Mayoritas cekukan biasanya hilang dalam hitungan menit setelah kita minum air atau sekadar nahan napas sebentar. Tapi, ada juga lho kasus cekukan yang awetnya ngalahin hubungan LDR, bisa berjam-jam bahkan berhari-hari. Kalau sudah begini, kita nggak bisa lagi menganggapnya sepele atau cuma gara-gara makan pedas.

Cekukan jangka panjang bisa jadi indikasi adanya gangguan kesehatan yang lebih serius, seperti masalah pada sistem saraf pusat atau adanya iritasi pada saraf vagus. Saraf vagus ini adalah "kabel" panjang yang menghubungkan otak dengan area perut. Kalau ada sesuatu yang mengganggu jalur ini—entah itu karena asam lambung yang parah (GERD), tumor, atau infeksi—cekukan bisa jadi sinyal darurat dari tubuh. Jadi, kalau kamu sudah coba segala macam cara dari minum air sampai jungkir balik tapi cekukan masih ada setelah dua hari, buruan deh konsultasi ke dokter. Jangan nunggu sampai pita suara kamu capek berbunyi.



Mitologi vs Realita: Gimana Cara Ngatasinnya?

Karena cekukan ini fenomena yang sangat merakyat, cara mengatasinya pun jadi beragam dan kadang nggak masuk akal. Ada yang bilang harus dikagetin. Logikanya sih, kalau kita kaget, sistem saraf kita bakal teralihkan fokusnya dan "me-reset" kerja diafragma. Tapi ya jangan kagetin orang pakai berita hoax atau ditarik kursinya pas mau duduk juga, itu namanya cari ribut.

Cara yang paling umum dan lumayan manjur adalah dengan menahan napas selama 10-20 detik. Ini tujuannya buat ningkatin kadar karbon dioksida dalam darah, yang secara alami bakal bikin diafragma lebih rileks. Atau bisa juga dengan minum air dingin pelan-pelan sambil menutup telinga. Terdengar konyol memang, tapi stimulasi pada saraf di telinga dan kerongkongan seringkali bisa memutus siklus cekukan itu.

Pada akhirnya, cekukan adalah pengingat receh dari alam semesta bahwa tubuh kita ini sistemnya sangat sensitif. Ia adalah bentuk komplain kecil dari dalam tubuh saat kita terlalu terburu-buru dalam hidup, entah itu dalam hal makan, minum, atau mengelola emosi. Jadi, kalau nanti "hik" itu datang lagi, jangan panik. Tarik napas, tenangin diri, dan mungkin itu saatnya kamu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk aktivitasmu. Lagipula, cekukan nggak bakal bikin kamu kehilangan reputasi kok, paling cuma bikin suasana jadi sedikit lebih "berbunyi" aja, kan?