Selasa, 25 Agustus 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Tentang RAU

Pasangan Kakek-Nenek Keliling Dunia Asal Aceh Sempat Tertahan di Malaysia karena Administrasi Carnet

RAU - Monday, 24 August 2026 | 08:11 AM

Background
Pasangan Kakek-Nenek Keliling Dunia Asal Aceh Sempat Tertahan di Malaysia karena Administrasi Carnet

PADANGSIDIMPUAN – Perjalanan lintas negara pasangan asal Aceh, T. Faisal Laksamana (65) dan dr. Indriati (61), sempat menghadapi kendala ketika keduanya tiba di perbatasan Pangkalan Hulu, Malaysia.

Pasangan yang tengah menjalani ekspedisi The Great Overland Journey tersebut harus tertahan sekitar tiga hari karena adanya persoalan administrasi Carnet de Passages en Douane (CPD) untuk kendaraan yang mereka gunakan.

Faisal dan Indriati tiba di kawasan Pangkalan Hulu setelah sebelumnya melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur pada 14 Agustus 2026. Dari Malaysia, keduanya dijadwalkan melanjutkan perjalanan darat menuju Thailand dan sejumlah negara lainnya hingga Eropa.

Namun, ketika hendak meninggalkan Malaysia menuju Thailand pada 15 Agustus, kendaraan yang mereka gunakan belum mendapatkan izin untuk melintas.

Persoalan muncul karena adanya perbedaan pemahaman mengenai administrasi Carnet kendaraan.



Padahal, dokumen Carnet tersebut sebelumnya telah memperoleh pengesahan ketika kendaraan memasuki Malaysia melalui perbatasan Tebedu.

Setelah melewati perbatasan tersebut, kendaraan kemudian melanjutkan perjalanan ke Kuching dan dikirim melalui jalur laut menuju Port Klang, Kuala Lumpur.

Petugas Pertanyakan Cap Carnet

Saat berada di Pangkalan Hulu, petugas mempertanyakan tidak adanya cap Carnet pada saat kendaraan berada di Port Klang.

Faisal kemudian harus memberikan penjelasan mengenai rangkaian perjalanan kendaraan tersebut kepada pihak berwenang.

Tidak hanya dokumen kendaraan, paspor Faisal juga sempat menjadi bagian dari proses klarifikasi.



Petugas mempertanyakan tidak adanya cap masuk di Kuala Lumpur. Faisal kemudian menjelaskan bahwa sebelumnya ia berada di Miri, Sarawak, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan penerbangan domestik menuju Kuala Lumpur.

Untuk memperkuat penjelasan tersebut, Faisal diminta menunjukkan bukti perjalanan berupa tiket penerbangan dan boarding pass dari Miri menuju Kuala Lumpur.

"Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Kami harus menjelaskan kembali perjalanan kami, termasuk mengenai penerbangan domestik dari Miri ke Kuala Lumpur dan proses Carnet," ujar Faisal kepada Antara, Senin.

Berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur

Selama menunggu proses klarifikasi, Faisal dan Indriati terus melakukan komunikasi dengan pihak terkait.

Mereka juga menyampaikan persoalan tersebut kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur untuk mendapatkan pendampingan dan membantu proses penyelesaian administrasi.



Setelah proses pemeriksaan dan klarifikasi selesai, kendaraan pasangan tersebut akhirnya mendapatkan izin untuk meninggalkan Malaysia pada 18 Agustus 2026.

Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan menuju Betong, Thailand sebagai bagian dari ekspedisi lintas negara yang sedang dijalankan.

Jadi Pelajaran dalam Perjalanan Overland

Faisal mengatakan pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting, khususnya bagi masyarakat yang memiliki rencana melakukan perjalanan lintas negara menggunakan kendaraan pribadi.

Menurutnya, seluruh dokumen perjalanan harus disimpan dengan baik selama perjalanan.

Dokumen yang dimaksud bukan hanya paspor dan dokumen kendaraan, tetapi juga Carnet, bukti pengiriman kendaraan, tiket perjalanan, boarding pass, serta berbagai dokumen pendukung lainnya.



"Jangan pernah menganggap dokumen yang sudah tidak diperlukan sebagai sesuatu yang tidak penting. Simpan semuanya. Boarding pass yang menurut kita sudah tidak diperlukan ternyata bisa saja dibutuhkan ketika ada pemeriksaan atau klarifikasi di perbatasan," katanya.

Melanjutkan Ekspedisi Menuju Eropa

Pasangan asal Aceh yang kini berdomisili di Padangsidimpuan, Sumatera Utara, tersebut kembali melanjutkan ekspedisi mereka.

Setelah Thailand, perjalanan akan terus berlanjut menuju sejumlah negara di Asia, kawasan Timur Tengah, hingga akhirnya menuju Eropa.

Bagi Faisal dan Indriati, hambatan selama perjalanan tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga bagian dari pengalaman yang memperkaya perjalanan mereka.

Keduanya berharap pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi para pelancong lain yang ingin melakukan perjalanan overland lintas negara menggunakan kendaraan pribadi.



Perjalanan panjang tersebut bukan hanya tentang mencapai destinasi, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi berbagai kondisi, termasuk persoalan administrasi yang dapat muncul di perbatasan.