Parasit yang Bisa Hidup di Dalam Tubuh Manusia, Bagaimana Cara Masuknya?
Laila - Saturday, 10 October 2026 | 07:57 PM


Parasit merupakan organisme yang dapat hidup di dalam atau pada tubuh makhluk hidup lain untuk memperoleh nutrisi dan bertahan hidup. Pada manusia, infeksi parasit dapat terjadi tanpa disadari karena sebagian jenisnya tidak langsung menimbulkan gejala yang jelas. Namun, jenis parasit tertentu dapat menyebabkan gangguan kesehatan, mulai dari masalah pencernaan hingga penyakit yang membutuhkan penanganan medis.
Parasit yang menginfeksi manusia memiliki beragam bentuk dan cara hidup. Ada yang berukuran cukup besar, seperti cacing parasit, dan ada pula yang hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop. Cara masuknya ke dalam tubuh juga berbeda-beda, bergantung pada jenis organisme dan siklus hidupnya.
1. Cacing Pita yang Dapat Hidup di Usus
Cacing pita merupakan salah satu jenis parasit yang dapat hidup di dalam saluran pencernaan manusia. Infeksi dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi daging sapi atau babi mentah maupun kurang matang yang mengandung larva cacing tertentu.
Setelah masuk ke saluran pencernaan, larva dari spesies tertentu dapat berkembang menjadi cacing dewasa di usus. Infeksi terkadang tidak menimbulkan gejala berarti, tetapi sebagian orang dapat mengalami sakit perut, mual, perubahan nafsu makan, atau gangguan pencernaan lainnya.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memasak daging hingga matang, menjaga kebersihan peralatan memasak, serta menghindari konsumsi daging yang tidak melalui proses pengolahan yang aman.
2. Cacing Gelang yang Masuk melalui Telur Parasit
Cacing gelang, seperti Ascaris lumbricoides, dapat menginfeksi manusia ketika telur parasit tertelan bersama makanan, air, atau tangan yang terkontaminasi tinja.
Telur tersebut dapat masuk ke dalam tubuh akibat kebiasaan mencuci tangan yang kurang baik atau mengonsumsi sayuran yang tidak dibersihkan dengan benar. Setelah tertelan, larva menetas di usus dan menjalani tahapan perkembangan sebelum kembali ke saluran pencernaan.
Infeksi ringan terkadang tidak menimbulkan keluhan yang jelas. Namun, infeksi berat dapat menyebabkan sakit perut, gangguan penyerapan nutrisi, bahkan penyumbatan usus. Menjaga sanitasi lingkungan, mencuci tangan dengan sabun, dan membersihkan bahan makanan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penularan.
3. Cacing Tambang yang Dapat Menembus Kulit
Berbeda dari sejumlah parasit yang masuk melalui makanan, larva cacing tambang dapat menembus kulit manusia ketika seseorang bersentuhan langsung dengan tanah yang terkontaminasi.
Risiko ini dapat meningkat ketika seseorang berjalan tanpa alas kaki di lingkungan yang tercemar tinja manusia. Setelah menembus kulit, larva dapat berpindah melalui aliran darah menuju paru-paru, kemudian tertelan dan berkembang di usus.
Cacing tambang dapat mengisap darah dari dinding usus sehingga infeksi berkepanjangan berpotensi menyebabkan anemia atau kekurangan zat besi. Penggunaan alas kaki, sanitasi yang baik, dan pengelolaan tinja secara benar membantu mencegah infeksi.
4. Giardia, Parasit Mikroskopis dari Air Terkontaminasi
Giardia duodenalis merupakan parasit mikroskopis yang dapat menginfeksi usus manusia dan menyebabkan penyakit giardiasis. Penularannya umumnya terjadi ketika seseorang menelan air atau makanan yang mengandung parasit tersebut.
Air dari sumber yang tidak diolah dengan baik, termasuk air sungai atau sumur yang tercemar, dapat menjadi jalur penularan. Kontak dengan tangan atau permukaan yang terkontaminasi juga dapat menyebarkan parasit ini.
Gejalanya dapat berupa diare, perut kembung, kram perut, mual, dan buang air besar yang berlangsung lebih lama. Sebagian orang mungkin tidak menunjukkan gejala, tetapi tetap berpotensi menyebarkan infeksi.
Untuk mengurangi risiko, gunakan air minum yang aman, cuci tangan sebelum makan dan setelah menggunakan toilet, serta bersihkan bahan makanan dengan benar.
5. Toxoplasma yang Berkaitan dengan Daging dan Kotoran Kucing
Toxoplasma gondii adalah parasit yang menyebabkan toksoplasmosis. Manusia dapat terinfeksi melalui konsumsi daging mentah atau kurang matang yang mengandung parasit, serta tertelannya parasit dari tanah, air, atau bahan makanan yang terkontaminasi.
Kucing merupakan inang utama tempat parasit ini menyelesaikan siklus reproduksi seksualnya. Telur parasit yang dikeluarkan melalui kotoran kucing dapat mencemari lingkungan setelah mengalami proses pematangan di luar tubuh.
Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, infeksi sering kali tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan keluhan ringan. Namun, infeksi dapat menimbulkan komplikasi serius pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Infeksi yang terjadi selama kehamilan juga berisiko memengaruhi janin.
Pencegahannya meliputi memasak daging hingga matang, mencuci tangan setelah berkebun atau membersihkan kotoran kucing, serta menghindari konsumsi air dan makanan yang tercemar.
6. Plasmodium, Parasit Penyebab Malaria
Tidak semua parasit masuk ke tubuh melalui makanan atau tanah. Plasmodium, yaitu parasit penyebab malaria, ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi.
Setelah masuk ke tubuh, parasit mula-mula menuju hati dan kemudian menginfeksi sel darah merah. Proses tersebut dapat menimbulkan demam, menggigil, sakit kepala, lemas, dan keluhan lainnya.
Malaria perlu mendapat perhatian karena dapat berkembang menjadi kondisi berat jika tidak segera ditangani. Risiko penularan dapat dikurangi dengan menggunakan kelambu, memasang kasa pada jendela, memakai obat antinyamuk, dan mengendalikan perkembangbiakan nyamuk.
Bagaimana Cara Mencegah Parasit Masuk ke Tubuh?
Meskipun jalur penularannya berbeda-beda, ada sejumlah kebiasaan yang dapat membantu menurunkan risiko infeksi parasit.
Pertama, biasakan mencuci tangan menggunakan sabun, terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah menyentuh tanah atau kotoran hewan. Kedua, pastikan daging dimasak hingga matang dan hindari mengonsumsi makanan yang kebersihannya tidak terjamin.
Selain itu, gunakan air minum yang aman, cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi, serta gunakan alas kaki ketika berada di tanah yang berpotensi tercemar. Pengendalian serangga dan menjaga kebersihan lingkungan juga penting untuk mencegah penularan parasit tertentu.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Infeksi parasit tidak selalu menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Keluhan seperti diare berkepanjangan, sakit perut berulang, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau demam setelah berada di daerah berisiko sebaiknya tidak diabaikan.
Dokter dapat menentukan pemeriksaan yang sesuai, misalnya pemeriksaan sampel tinja, darah, atau tes lainnya berdasarkan gejala dan dugaan jenis parasit. Pengobatan akan disesuaikan dengan organisme penyebab infeksi karena tidak semua parasit dapat ditangani menggunakan obat yang sama.
Hindari mengonsumsi obat antiparasit tanpa petunjuk tenaga kesehatan. Penanganan yang tepat, disertai kebiasaan hidup bersih dan aman, merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi akibat infeksi parasit.
Next News

Udara Dingin Bisa Memicu Keluhan Sinus pada Sebagian Orang, Ini Penjelasannya
in 4 hours

Menggigil Setelah Operasi, Apakah Kondisi Ini Berkaitan dengan Obat Bius?
in 4 hours

Faktor Keturunan Bisa Memengaruhi Risiko Diabetes, Seberapa Besar Perannya?
in 3 hours

Mengapa Daging Buah Melon Bisa Terasa Hambar Meski Sudah Matang?
in 3 hours

Mitos atau Fakta, Air Es Bisa Membekukan Lemak di Dalam Perut?
in 3 hours

Daun Jambu Biji Muda dan Tua, Apakah Kandungan Senyawanya Berbeda?
in 3 hours

Daun Jambu Biji Muda dan Tua, Apakah Kandungan Senyawanya Berbeda?
in 3 hours

Mitos atau Fakta, Mengoleskan Madu Bisa Membantu Meredakan Bibir Kering?
in 3 hours

Mengapa Keinginan Pipis Bisa Tiba-Tiba Hilang Setelah Ditahan? Ini Penjelasannya
in 3 hours

Tiba-Tiba Linglung Saat Beraktivitas, Apa yang Bisa Menyebabkan Kondisi Ini?
in 3 hours





