Negara Mana yang Paling Banyak Konsumsi Gula? Simak Faktanya!
Liaa - Thursday, 07 May 2026 | 11:00 AM


Antara Candu dan Nikmat: Mengintip Negara-Negara dengan Konsumsi Gula Paling Gila di Dunia
Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau hidup lagi capek-capeknya, pelarian paling bener tuh cuma satu: minuman dingin yang manisnya minta ampun? Entah itu es teh manis plastik yang dibeli di pinggir jalan, boba yang topping-nya memenuhi setengah gelas, atau kopi susu kekinian yang sirupnya nggak kira-kira. Rasanya kayak semua beban hidup luruh bareng sensasi dingin dan manis yang lewat di tenggorokan. Ya, kita semua tahu kalau gula itu adiktif. Tapi, tahu nggak sih kalau di luar sana ada negara-negara yang "level" cintanya sama gula itu udah di tahap yang mungkin bikin dokter gigi langsung angkat tangan?
Ngomongin soal gula, ini bukan cuma soal rasa. Ini soal budaya, kebiasaan, dan kadang-kadang soal aksesibilitas. Ada negara yang memang tanahnya subur banget buat tebu, ada juga yang industri makanannya emang udah 'setelan pabrik' harus manis. Yuk, kita jalan-jalan virtual buat ngelihat siapa aja sih juaranya dalam urusan konsumsi gula di dunia ini. Siapkan segelas air putih ya, biar nggak haus pas baca ini!
1. Brasil: Sang Raja Tebu yang Tak Tertandingi
Kalau kita bicara soal gula, rasanya nggak afdal kalau nggak naruh Brasil di urutan paling atas. Brasil ini ibaratnya markas besar gula dunia. Sebagai produsen tebu terbesar, nggak heran kalau masyarakatnya juga jadi konsumen nomor wahid. Bayangkan aja, rata-rata orang Brasil bisa mengonsumsi gula sekitar 100 gram per hari. Padahal, WHO itu nyaraninnya nggak lebih dari 25-50 gram. Gila nggak tuh?
Kenapa bisa begitu? Di Brasil, gula itu murah banget. Mereka punya kebiasaan minum kopi yang namanya 'cafezinho'. Ini kopi hitam yang disajikan di gelas kecil, tapi takaran gulanya itu lho, bisa bikin sendoknya berdiri tegak karena saking kentalnya. Belum lagi deretan dessert tradisional mereka yang kalau dimakan satu suap aja, manisnya kerasa sampai ke ginjal. Buat mereka, hidup itu harus manis, semanis gocekan bola para pemain timnasnya.
2. Thailand: Surga Boba dan Street Food Manis
Geser sedikit ke tetangga kita di Asia Tenggara. Thailand ternyata nggak cuma jago bikin film horor atau drama yang bikin mewek, tapi juga jago banget urusan ngolah gula. Kalau kalian pernah ke Bangkok, pasti sadar kalau jajanan pinggir jalannya alias street food-nya itu jarang banget yang rasanya hambar. Mulai dari Thai Tea yang susunya kental banget, sampai ketan mangga (mango sticky rice) yang saus santannya itu manis-gurih nagih.
Thailand masuk dalam jajaran negara dengan konsumsi gula tertinggi di Asia. Tren minuman manis di sana bukan lagi sekadar tren, tapi sudah jadi gaya hidup. Penjual minuman manis ada di tiap sudut jalan. Bahkan, ada riset yang bilang kalau konsumsi gula di Thailand meningkat tajam dalam satu dekade terakhir gara-gara invasi minuman kekinian. Ya, kita juga di Indonesia kena imbasnya sih, tapi Thailand tetap satu langkah di depan soal urusan ini.
3. Amerika Serikat: Budaya Soda yang Belum Padam
Nah, kalau yang satu ini pasti udah ketebak. Amerika Serikat itu rumahnya fast food dan soda ukuran jumbo. Di sana, beli minuman soda berukuran satu liter itu hal biasa, apalagi dengan kebijakan 'free refill' yang makin memanjakan lidah masyarakatnya. Meskipun kampanye hidup sehat lagi kencang-kencangnya di sana, kenyataannya produk makanan olahan di rak supermarket Amerika hampir semuanya mengandung gula tambahan.
Lucunya, di sana gula itu kadang "nyamar" jadi nama-nama keren kayak high fructose corn syrup atau dextrose. Orang Amerika itu suka banget sama segala sesuatu yang praktis. Masalahnya, yang praktis-praktis itu biasanya yang gulanya tinggi banget buat pengawet sekaligus penambah rasa. Dari sereal sarapan sampai saus tomat, semuanya ada jejak gulanya. Nggak heran kalau isu obesitas jadi tantangan besar buat negeri Paman Sam ini.
4. India: Manisan Tradisional sebagai Bentuk Cinta
Jangan lupakan India. Kalau kalian pernah nyobain manisan India kayak Gulab Jamun atau Jalebi, kalian pasti paham kenapa negara ini masuk daftar. Gulab Jamun itu secara harfiah adalah bola-bola susu yang direndam dalam sirup gula pekat. Manisnya bener-bener "ngajak berantem". Di India, manisan alias 'Mithai' adalah bagian tak terpisahkan dari ritual adat, pernikahan, dan festival keagamaan.
Memberi manisan ke orang lain adalah simbol kasih sayang dan doa baik. Masalahnya, tradisi ini kalau dilakukan setiap hari ya ujung-ujungnya bikin angka diabetes di sana meroket. Masyarakat India juga suka banget teh tarik versi mereka yang disebut 'Chai'. Chai tanpa gula yang melimpah itu ibarat sayur tanpa garam, hambar dan nggak berjiwa kata mereka. Budaya yang kental ini bikin gula jadi primadona yang sulit digeser posisinya.
5. Bagaimana dengan Indonesia?
Oke, kita mungkin nggak selalu masuk lima besar dunia, tapi posisi kita nggak main-main. Indonesia itu salah satu konsumen gula terbesar di Asia Tenggara. Coba deh jujur, berapa kali kalian pesen es teh manis dalam sehari? Makan bakso, minumnya es teh manis. Makan nasi padang, minumnya es teh manis hangat. Sore-sore nongkrong, belinya boba atau kopi susu gula aren.
Gula aren, gula jawa, sampai gula pasir sudah jadi sahabat karib lidah orang Indonesia sejak zaman kolonial. Bahkan saking doyan manisnya, banyak dari kita yang kalau minum jus buah pun masih minta ditambahin susu kental manis atau sirup. Padahal buahnya sendiri udah manis. Ini uniknya kita, rasa "asli" dari makanan atau minuman itu seolah kurang lengkap kalau nggak divalidasi sama rasa manis yang dominan.
Kenapa Kita Begitu Terobsesi Sama Gula?
Kalau kita telaah lebih dalam secara santai, obsesi dunia terhadap gula ini sebenarnya reaksi alami otak kita. Gula itu memicu pelepasan dopamin, hormon yang bikin kita ngerasa senang dan tenang. Di tengah dunia yang makin stres, kerjaan numpuk, dan berita di media sosial yang sering bikin pusing, asupan gula jadi "self-reward" paling murah dan gampang didapat. Sayangnya, otak kita seringkali lupa kasih peringatan kalau dopamin yang kita dapet itu sifatnya sementara, tapi efeknya ke badan bisa selamanya.
Selain itu, faktor ekonomi juga berpengaruh. Di banyak negara berkembang, gula adalah sumber kalori yang murah. Orang yang lagi capek kerja fisik butuh energi cepat, dan gula adalah solusinya. Tapi ya itu tadi, batas antara butuh energi sama "ketagihan" itu tipis banget kayak layar HP yang nggak pake tempered glass.
Manis Boleh, Tapi Jangan Sampai Kebablasan
Melihat daftar negara di atas, kita jadi sadar kalau gula itu udah kayak bahasa universal. Semua orang suka, semua negara punya cara sendiri buat menikmatinya. Tapi, di balik kenikmatan itu, ada alarm yang terus bunyi. Negara-negara dengan konsumsi gula tertinggi sekarang mulai pusing mikirin biaya kesehatan buat menangani penyakit komplikasi gara-gara gula.
Nggak ada yang ngelarang kita buat menikmati hidup dengan sepotong kue cokelat atau segelas es teh manis. Hidup udah pahit, bro, masa nggak boleh dapet yang manis-manis? Tapi kuncinya ya moderasi. Jangan sampai demi mengejar kebahagiaan sesaat dari segelas minuman, kita jadi harus langganan ke rumah sakit di masa depan. Jadi, gimana? Hari ini udah berapa gram gula yang masuk ke badan kamu?
Next News

Kopi Susu,Dari Simbol Status Kolonial Menjadi Ikon Budaya Nongkrong Jaman Now
14 hours ago

Hari Keluarga Internasional 15 Mei: "Quality Time" vs "Quantity Time"
2 hours ago

Bagaimana Mengelola Warisan Data dan Aset Virtual di Dunia Maya? Ini Caranya
3 hours ago

Astrofotografi,Belajar Berburu Keindahan Langit Malam Memakai Kamera Ponsel
3 hours ago

5 Rahasia Bawah Laut yang Jarang Diketahui
3 hours ago

Bukan Cuma Iseng, Ini Rahasia Berang-berang Mengunyah Kayu
3 hours ago

Menemukan Kedamaian di Segelas Jus Lemon dan Timun
9 hours ago

Menguap Bukan Sekadar Tanda Mengantuk: Mekanisme Alami Otak untuk Menjaga Keseimbangan
10 hours ago

Baking Soda dan Baking Powder: Serupa tetapi Tak Sama, Ini Perbedaannya
10 hours ago

Tulang Manusia Lebih Kuat dari Baja, tetapi Mengapa Tetap Bisa Patah?
10 hours ago





