Nastar, Si Primadona Saat Hari Raya
Nanda - Friday, 06 March 2026 | 08:31 AM


Saat Hari Raya Idulfitri tiba, meja tamu di banyak rumah Indonesia hampir selalu dihiasi berbagai kue kering. Di antara semuanya, nastar sering dianggap sebagai primadona Lebaran. Bentuknya kecil, bulat, berwarna kuning keemasan, dengan rasa manis legit dari selai nanas di dalamnya.
Namun perjalanan nastar hingga menjadi kue khas Lebaran ternyata cukup panjang.
Secara historis, nastar berasal dari pengaruh kuliner Belanda pada masa kolonial di Nusantara. Nama "nastar" sendiri dipercaya berasal dari bahasa Belanda:
"Ananas" yang berarti nanas
"Taart" yang berarti tart atau pai
Dari dua kata itu lahir istilah "ananas taart", yang kemudian disingkat menjadi nastar.
Pada awalnya, masyarakat Belanda membuat kue tart dengan isi apel, blueberry, atau stroberi, karena buah tersebut mudah ditemukan di Eropa.
Namun ketika para penjajah Belanda tinggal di wilayah tropis seperti Indonesia, buah-buahan Eropa sulit didapatkan. Sebaliknya, nanas tumbuh melimpah di Nusantara. Akhirnya bahan isi tart pun diganti dengan selai nanas.
Adaptasi ini merupakan contoh bagaimana makanan kolonial mengalami lokalisasi bahan sehingga menjadi bagian dari identitas kuliner Indonesia.
Tart di Eropa umumnya berukuran besar dan dipotong-potong saat disajikan. Namun di Indonesia, bentuknya berubah menjadi kue kecil sekali gigit.
Perubahan ini terjadi karena beberapa alasan:
•Praktis untuk jamuan tamu
•Lebih tahan lama sebagai kue kering
•Cocok dengan budaya suguhan Lebaran
Seiring waktu, resepnya juga berkembang.
Adonan nastar biasanya dibuat dari Tepung terigu,
mentega atau margarin, telur dan gula halus.
Sementara isiannya berupa selai nanas yang dimasak hingga kental dengan gula dan rempah seperti kayu manis atau cengkeh.
Nastar dan Tradisi Lebaran
Meski berasal dari pengaruh Eropa, nastar justru sangat identik dengan budaya Lebaran di Indonesia. Banyak keluarga menjadikannya kue wajib saat Idulfitri, berdampingan dengan kastengel, putri salju, dan lidah kucing.
Ahli antropologi kuliner Sri Owen pernah menjelaskan bahwa tradisi kue kering Lebaran di Indonesia merupakan hasil perpaduan budaya lokal, kolonial, dan kebiasaan jamuan tamu yang berkembang sejak abad ke-19.
Hari ini, nastar bahkan memiliki banyak variasi, seperti:
-nastar keju
-nastar crumble
-nastar bentuk daun atau keranjang
-nastar premium dengan butter tinggi
Namun inti rasanya tetap sama: perpaduan adonan lembut dengan selai nanas asam-manis yang khas.
Mengapa Nastar Begitu Digemari?
Secara ilmiah, perpaduan rasa nastar memang sangat "menarik" bagi lidah manusia. Selai nanas memiliki kombinasi asam dan manis, sementara adonan kue kaya lemak dari mentega.
Menurut penelitian dalam bidang Food Science, kombinasi rasa manis, asam, dan lemak dapat meningkatkan kepuasan sensorik saat makan, sehingga makanan terasa lebih "nagih".
Itulah sebabnya banyak orang sulit berhenti setelah makan satu nastar.
Next News

Hati-Hati!! 6 Dampak Buruk Sarung Bantal Jika Digunakan Secara Terlalu Lama
in 7 hours

Tips Merawat Baju Elastis Agar Tidak Melar di Mesin Cuci
in 5 hours

Mengapa Spons Dapur Tidak Boleh Dipakai Terlalu Lama?
in 6 hours

Ide Isi Toples Lebaran Modern yang Pasti Ludes Diserbu Tamu
in 6 hours

Keseringan Pake Earphone Bisa Bikin Budek?? 4 Dampak Burukya Terhadap Telunga
in 6 hours

Kenapa Perut Bisa Berbunyi Saat Lapar?
18 hours ago

Seledri untuk Kesehatan dan Kecantikan
18 hours ago

Bawang Putih: Si Kecil Beraroma Tajam yang Kaya Khasiat
18 hours ago

Benarkah Musik Bisa Meningkatkan Konsentrasi Saat Bekerja?
19 hours ago

Mengenal Berbagai Chatbot AI Populer dan Fungsinya di Era Digital
19 hours ago





