Minggu, 11 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mitos atau Fakta, Pelangi Selalu Memiliki Tujuh Warna? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Liaa - Sunday, 11 October 2026 | 06:57 AM

Background
Mitos atau Fakta, Pelangi Selalu Memiliki Tujuh Warna? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Pelangi merupakan salah satu fenomena alam yang sering menarik perhatian setelah hujan turun. Lengkungan warna-warni yang muncul di langit ini biasanya dikenal memiliki tujuh warna, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Sejak kecil, banyak orang mempelajari urutan warna tersebut di sekolah. Namun, pernahkah kamu bertanya apakah pelangi benar-benar hanya memiliki tujuh warna?

Jawabannya, anggapan bahwa pelangi memiliki tujuh warna merupakan penyederhanaan dari spektrum cahaya yang sebenarnya berkesinambungan. Warna-warna yang terlihat tidak terpisah menjadi tujuh bagian dengan batas yang tegas. Sebaliknya, warna tersebut beralih secara bertahap dari satu warna ke warna lainnya.

Lantas, bagaimana pelangi terbentuk dan mengapa selama ini dikenal memiliki tujuh warna? Berikut penjelasannya.

1. Mengapa Pelangi Dikenal Memiliki Tujuh Warna?

Pengelompokan pelangi menjadi tujuh warna dikenal luas melalui tradisi ilmu pengetahuan yang dikaitkan dengan ilmuwan Inggris, Isaac Newton. Dalam penelitiannya mengenai cahaya, Newton menguraikan cahaya putih menggunakan prisma dan mengamati spektrum warna yang dihasilkan.



Ia mengelompokkan spektrum tersebut menjadi tujuh warna, yakni merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Pengelompokan ini kemudian banyak digunakan dalam pembelajaran sains hingga sekarang.

Namun, angka tujuh bukan berarti cahaya pelangi hanya terdiri atas tujuh warna yang benar-benar terpisah. Pengelompokan itu membantu manusia mempelajari dan mengingat bagian-bagian utama spektrum cahaya yang terlihat.

Jika diperhatikan dengan saksama, warna pelangi sebenarnya memiliki banyak gradasi di antara warna-warna tersebut.

2. Pelangi Terbentuk dari Pembiasan dan Pemantulan Cahaya

Pelangi muncul ketika cahaya matahari berinteraksi dengan tetesan air yang berada di atmosfer. Proses ini melibatkan pembiasan, pemantulan di dalam tetesan air, dan pembiasan kembali ketika cahaya keluar.

Ketika memasuki tetesan air, cahaya matahari mengalami pembiasan. Pada saat yang sama, berbagai panjang gelombang cahaya dibelokkan dengan sudut yang sedikit berbeda.



Cahaya kemudian mengalami pemantulan di bagian dalam tetesan air sebelum keluar kembali menuju mata pengamat. Perbedaan arah pembelokan tersebut membuat cahaya putih terurai menjadi spektrum warna yang dapat terlihat sebagai pelangi.

Itulah sebabnya pelangi sering muncul ketika matahari bersinar saat masih terdapat banyak tetesan air di udara, misalnya setelah hujan.

3. Apakah Warna Pelangi Benar-Benar Tidak Terbatas?

Dalam spektrum cahaya tampak, perubahan warna berlangsung secara berkesinambungan. Artinya, tidak terdapat garis pemisah yang benar-benar tegas antara merah dan jingga, hijau dan biru, atau warna lainnya.

Di antara warna-warna utama yang biasa dipelajari, terdapat berbagai peralihan warna dengan tingkat kecerahan dan corak yang berbeda. Mata manusia dapat mengenali sebagian peralihan tersebut, tetapi tidak selalu mampu membedakan setiap variasi sebagai warna yang terpisah.

Karena itulah jumlah warna pelangi tidak memiliki batas pasti jika dihitung berdasarkan setiap gradasi yang mungkin terlihat. Angka tujuh lebih tepat dipahami sebagai cara mengelompokkan spektrum, bukan jumlah mutlak warna yang terkandung di dalamnya.



Meski demikian, pelangi yang terlihat oleh mata manusia tetap memiliki batas panjang gelombang cahaya tampak. Tidak semua jenis radiasi elektromagnetik dapat dilihat sebagai warna oleh manusia.

4. Mengapa Urutan Warna Pelangi Selalu Sama?

Pada pelangi primer, warna merah biasanya terlihat di bagian luar lengkungan, sedangkan warna ungu berada di bagian dalam. Urutan ini terjadi karena setiap panjang gelombang cahaya mengalami pembiasan dengan sudut yang berbeda ketika melewati tetesan air.

Cahaya merah dibelokkan dengan sudut yang lebih kecil dibandingkan cahaya ungu pada pembentukan pelangi primer. Perbedaan sudut tersebut menghasilkan susunan warna yang khas.

Namun, pelangi tidak selalu terlihat sama jelas. Intensitas cahaya matahari, ukuran tetesan air, kondisi atmosfer, dan posisi pengamat dapat memengaruhi kecerahan serta ketajaman warna yang terlihat.

Pada pelangi sekunder, yang terbentuk akibat dua kali pemantulan di dalam tetesan air, urutan warnanya justru terbalik. Warna merah berada di bagian dalam dan ungu di bagian luar, sementara pelanginya biasanya terlihat lebih redup daripada pelangi primer.



5. Mengapa Terkadang Pelangi Hanya Terlihat Memiliki Beberapa Warna?

Tidak semua pelangi menampilkan warna dengan tingkat kejelasan yang sama. Dalam kondisi tertentu, seseorang mungkin hanya melihat warna merah, kuning, hijau, dan biru dengan jelas, sementara warna lain tampak samar.

Hal ini dapat terjadi karena perbedaan intensitas cahaya, kondisi awan, kontras terhadap latar belakang langit, serta kemampuan mata dalam membedakan gradasi warna.

Pelangi juga dapat terlihat pucat ketika cahaya yang tersedia kurang kuat atau ketika tetesan air dan kondisi atmosfer menghasilkan kontras yang rendah. Pada pelangi tertentu, warna-warnanya bahkan tampak hampir menyatu.

Dengan demikian, jumlah warna yang dapat dikenali oleh pengamat dapat berbeda-beda, meskipun fenomena tersebut berasal dari prinsip pembentukan cahaya yang sama.

Kesimpulan

Mitos atau fakta bahwa pelangi selalu memiliki tujuh warna? Jawabannya, pelangi memang sering digambarkan dengan tujuh warna utama, tetapi secara ilmiah spektrum warnanya berkesinambungan dan tidak terbagi secara tegas menjadi tujuh bagian.



Pembagian merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu merupakan cara sederhana untuk mempelajari spektrum cahaya tampak. Warna-warna tersebut terbentuk ketika cahaya matahari mengalami pembiasan, pemantulan di dalam tetesan air, dan pembiasan kembali saat keluar.

Jadi, tujuh warna pelangi bukanlah jumlah mutlak warna yang ada, melainkan pengelompokan yang memudahkan manusia memahami salah satu fenomena alam yang menarik ini.

Tags