Minggu, 11 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Sebagian Orang Menyukai Pete, Sementara yang Lain Tidak Tahan Aromanya?

Liaa - Sunday, 11 October 2026 | 07:10 AM

Background
Mengapa Sebagian Orang Menyukai Pete, Sementara yang Lain Tidak Tahan Aromanya?

Pete atau petai merupakan salah satu makanan yang cukup populer di Indonesia. Biji berwarna hijau ini sering disajikan sebagai lalapan, dicampur sambal, atau dimasak bersama berbagai bahan makanan. Meski memiliki penggemar yang cukup banyak, pete juga dikenal karena aromanya yang kuat dan tidak disukai semua orang.

Sebagian orang justru merasa makanannya kurang lengkap tanpa pete. Mereka menikmati aromanya yang khas, terutama ketika pete disajikan bersama sambal dan nasi hangat. Sebaliknya, ada orang yang langsung kehilangan selera makan hanya karena mencium baunya.

Perbedaan reaksi tersebut bukan sekadar persoalan selera. Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa aroma pete terasa menggugah selera bagi sebagian orang, tetapi sangat mengganggu bagi orang lain.

1. Senyawa Sulfur Membuat Pete Memiliki Aroma Khas

Salah satu faktor utama yang membuat pete memiliki aroma kuat adalah keberadaan senyawa yang mengandung sulfur atau belerang. Senyawa sulfur juga ditemukan dalam sejumlah bahan makanan lain, seperti bawang putih, bawang bombai, dan beberapa jenis sayuran.

Senyawa tersebut dapat menghasilkan aroma yang tajam dan khas. Ketika pete dikupas, dipotong, atau dikunyah, senyawa aromatiknya dapat terlepas sehingga lebih mudah tercium.



Bagi orang yang menyukai pete, aroma tersebut mungkin terasa akrab dan menggugah selera. Namun, bagi orang yang tidak terbiasa, bau yang sama dapat dianggap terlalu menyengat atau tidak menyenangkan.

Perlu diketahui bahwa aroma pete bukan berasal dari satu senyawa saja. Karakter baunya merupakan hasil gabungan berbagai senyawa kimia yang membentuk aroma khas makanan tersebut.

2. Indra Penciuman Setiap Orang Tidak Selalu Sama

Hidung manusia memiliki reseptor penciuman yang bertugas mengenali berbagai molekul aroma. Ketika molekul dari makanan masuk ke rongga hidung, reseptor tersebut mengirimkan sinyal ke otak untuk diproses menjadi sensasi bau.

Namun, kemampuan seseorang dalam mengenali dan merasakan aroma tertentu dapat berbeda dari orang lain. Perbedaan genetik, sensitivitas reseptor penciuman, kondisi hidung, serta pengalaman sebelumnya dapat memengaruhi bagaimana suatu bau dirasakan.

Akibatnya, aroma pete yang dianggap biasa oleh seseorang bisa terasa sangat tajam bagi orang lain.



Meski demikian, bukan berarti semua orang yang tidak menyukai pete memiliki indra penciuman yang lebih sensitif. Rasa tidak suka juga dapat dipengaruhi oleh cara otak menafsirkan aroma tersebut berdasarkan pengalaman dan preferensi pribadi.

3. Pengalaman Masa Kecil Bisa Memengaruhi Selera terhadap Pete

Kesukaan terhadap makanan tidak hanya dipengaruhi oleh kandungan kimianya, tetapi juga oleh pengalaman seseorang sejak kecil.

Orang yang tumbuh dalam keluarga yang sering menyajikan pete mungkin lebih terbiasa dengan aroma dan rasanya. Jika pete kerap dimakan bersama hidangan favorit atau dinikmati saat berkumpul bersama keluarga, makanan tersebut dapat memiliki asosiasi positif.

Sebaliknya, seseorang yang sejak awal mengenal pete melalui pengalaman kurang menyenangkan mungkin mengaitkan aromanya dengan rasa tidak nyaman.

Hubungan antara aroma dan pengalaman ini dapat memengaruhi selera makan. Otak tidak hanya mengenali bau, tetapi juga menghubungkannya dengan ingatan, emosi, dan pengalaman sebelumnya.



Itulah sebabnya dua orang yang mencicipi pete untuk pertama kalinya pun bisa memberikan reaksi berbeda, bergantung pada latar belakang dan preferensi masing-masing.

4. Aroma Makanan Dapat Memengaruhi Selera Makan

Penciuman memiliki hubungan erat dengan kemampuan manusia menikmati makanan. Ketika makan, hidung membantu mengenali aroma yang muncul dari makanan di dalam mulut. Informasi tersebut kemudian bekerja bersama sensasi rasa dari lidah untuk membentuk pengalaman makan yang lebih lengkap.

Pada orang yang menyukai pete, aroma khasnya dapat menjadi bagian dari kenikmatan makanan. Aroma tersebut mungkin terasa cocok ketika dipadukan dengan sambal, ikan, atau hidangan lainnya.

Namun, bagi orang yang tidak menyukai bau pete, aroma yang kuat justru dapat menimbulkan penolakan. Sebelum makanan dicicipi, otak sudah memberikan penilaian negatif sehingga selera makan berkurang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman makan tidak hanya ditentukan oleh rasa manis, asin, asam, pahit, atau umami. Aroma turut berperan besar dalam menentukan apakah suatu makanan terasa menarik atau justru dihindari.



5. Cara Pengolahan Dapat Mengubah Aroma Pete

Aroma pete juga dapat berbeda bergantung pada cara pengolahannya. Pete mentah, pete rebus, dan pete yang digoreng atau dibakar tidak selalu memiliki karakter aroma yang sama.

Pemanasan dapat mengubah komposisi senyawa aromatik dan melepaskan senyawa yang sebelumnya berada di dalam jaringan makanan. Karena itu, aroma pete setelah dimasak dapat terasa berbeda dibandingkan ketika masih mentah.

Bagi sebagian orang, pete yang dimasak bersama bumbu dianggap lebih nikmat karena aromanya menyatu dengan bahan lain. Sementara itu, orang yang sensitif terhadap aroma pete mungkin tetap merasa terganggu meskipun makanan tersebut telah diolah.

Cara pengolahan juga tidak selalu menghilangkan seluruh aroma khasnya. Perubahan yang terjadi bergantung pada suhu, durasi pemasakan, dan bahan yang digunakan.

6. Mengapa Aroma Pete Bisa Terasa Lebih Menyengat Setelah Dimakan?

Sebagian orang mungkin menyadari bahwa aroma khas pete tidak hanya tercium ketika makanan disajikan. Bau tertentu juga dapat muncul dari napas setelah mengonsumsinya.



Hal ini dapat terjadi karena senyawa dari makanan tertinggal di rongga mulut atau ikut terlibat dalam proses metabolisme tubuh. Sebagian senyawa hasil metabolisme kemudian dapat dikeluarkan melalui napas atau urine.

Karakter aroma yang muncul setelah makan tidak selalu sama dengan bau pete saat masih berada di piring. Hal ini karena proses pencernaan dan metabolisme dapat mengubah senyawa yang masuk ke dalam tubuh.

Intensitas dan lamanya aroma bertahan juga dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada jumlah yang dikonsumsi, komposisi senyawa makanan, serta kondisi tubuh.

7. Tidak Menyukai Pete Bukan Berarti Ada Masalah pada Indra Penciuman

Orang yang tidak tahan dengan aroma pete tidak serta-merta memiliki gangguan penciuman. Rasa suka dan tidak suka terhadap makanan merupakan hal yang wajar karena manusia memiliki preferensi yang berbeda-beda.

Seseorang juga tidak perlu memaksakan diri untuk menyukai pete hanya karena makanan tersebut digemari banyak orang. Sebaliknya, orang yang menyukai pete tetap perlu memperhatikan kebersihan makanan dan mengonsumsinya dalam jumlah yang sesuai.



Hal yang perlu diperhatikan adalah apabila perubahan penciuman terjadi secara mendadak, misalnya berbagai aroma yang sebelumnya biasa tercium tiba-tiba terasa sangat menyengat, tidak tercium, atau berubah menjadi bau yang tidak ada sumbernya. Kondisi seperti itu berbeda dari sekadar tidak menyukai aroma makanan dan dapat memerlukan pemeriksaan medis jika menetap atau disertai keluhan lain.

Kesimpulan

Perbedaan kesukaan terhadap pete dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari senyawa sulfur yang membentuk aroma khasnya, sensitivitas penciuman, pengalaman sejak kecil, hingga cara otak menghubungkan bau dengan selera dan ingatan.

Bagi sebagian orang, aroma pete terasa menggugah selera karena sudah akrab dan cocok dengan preferensi mereka. Bagi orang lain, aroma yang sama justru terasa terlalu tajam dan mengganggu.

Jadi, perbedaan reaksi terhadap pete merupakan hal yang wajar. Aroma makanan tidak hanya dinilai berdasarkan senyawa kimia yang terkandung di dalamnya, tetapi juga melalui cara setiap orang merasakan, mengingat, dan memaknai aroma tersebut.

Tags