Minggu, 5 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mitos atau Fakta: Minum Delapan Gelas Air Harus Dilakukan Semua Orang?

Laila - Sunday, 05 July 2026 | 07:35 PM

Background
Mitos atau Fakta: Minum Delapan Gelas Air Harus Dilakukan Semua Orang?

Mitos atau Fakta: Apakah Kita Benar-Benar Harus Minum Delapan Gelas Air Sehari?

Pernah nggak sih kamu merasa bersalah pas melihat botol minum ukuran dua liter milikmu masih penuh di sore hari? Rasanya kayak punya utang besar yang belum lunas. Lalu, kamu mulai "balas dendam" dengan menenggak air sebanyak-banyaknya sampai kembung, cuma demi memenuhi kuota yang katanya wajib: delapan gelas sehari. Doktrin ini sudah mendarah daging banget di kepala kita, saking seringnya diulang-ulang dari zaman sekolah sampai di grup WhatsApp keluarga.

Tapi, mari kita jujur sebentar. Pernah nggak kamu bertanya-tanya, siapa sih yang pertama kali mematok angka delapan itu? Kenapa harus delapan? Kenapa nggak tujuh atau mungkin sepuluh? Apakah badan seorang atlet lari maraton di Jakarta yang panasnya kayak simulasi neraka butuh asupan air yang sama dengan admin media sosial yang kerjanya di ruangan ber-AC seharian? Jawabannya jelas: nggak masuk akal kalau dipukul rata.

Asal-usul Angka Keramat Delapan Gelas

Kalau kita ulik sejarahnya, aturan "delapan gelas sehari" atau yang sering disebut aturan 8x8 ini sebenarnya punya akar yang agak sedikit salah paham. Konon, pada tahun 1945, sebuah lembaga nutrisi di Amerika Serikat mengeluarkan rekomendasi bahwa orang dewasa butuh sekitar 2,5 liter air per hari. Nah, bagian yang sering dilupakan adalah kalimat lanjutannya: "sebagian besar dari jumlah tersebut terdapat dalam makanan yang kita konsumsi."

Ya, kamu nggak salah baca. Kita itu nggak cuma minum air, tapi juga "makan" air. Sayuran kayak timun, semangka, bahkan nasi yang kita makan itu mengandung air. Tapi entah gimana ceritanya, bagian "air dari makanan" ini hilang ditelan bumi, dan yang tersisa cuma instruksi kaku kalau kita harus minum air putih sebanyak-banyaknya. Ditambah lagi dengan kampanye industri air minum dalam kemasan yang makin gencar, jadilah angka delapan gelas itu sebagai kebenaran mutlak yang nggak boleh diganggu gugat.

Satu Ukuran Tidak Cocok untuk Semua

Masalah utama dari aturan delapan gelas ini adalah dia nggak mempedulikan konteks. Bayangkan, kamu punya teman yang hobinya naik sepeda ke kantor, keringatnya bercucuran, dan tinggal di Bekasi yang teriknya luar biasa. Terus bandingkan dengan diri kamu sendiri yang mungkin lebih banyak duduk manis, jarang gerak, dan suhu ruangan selalu diatur di 20 derajat Celcius. Masa iya, kebutuhan cairan kalian sama?



Kebutuhan air itu sangat personal. Ada banyak variabel yang bermain di sini: berat badan, tingkat aktivitas, suhu lingkungan, hingga kondisi kesehatan. Bahkan jenis baju yang kamu pakai pun berpengaruh. Kalau kamu pakai jaket tebal di tengah hari bolong, jelas penguapan di tubuhmu bakal lebih tinggi. Jadi, mematok angka delapan gelas buat semua orang itu ibarat maksa semua orang pakai sepatu ukuran 40. Ada yang pas, ada yang kesempitan, tapi banyak juga yang bakal kelonggaran.

Jangan Lupa, Kopi dan Teh Juga "Dihitung"

Ada mitos lain yang bilang kalau minum kopi atau teh malah bikin kita dehidrasi karena efek diuretiknya (bikin pengen kencing terus). Kabar gembira buat para pecinta kafein: itu nggak sepenuhnya benar. Meskipun kafein memang punya efek diuretik ringan, cairan yang ada di dalam secangkir kopi atau teh tetap berkontribusi pada total asupan cairan harianmu. Jadi, kalau kamu minum segelas es kopi susu, itu tetap dihitung sebagai cairan, bukan dianggap "minus".

Tentu saja, air putih tetap jadi juara utama karena nggak mengandung gula atau kalori tambahan. Tapi poinnya adalah, jangan terlalu stres kalau kamu merasa belum minum air putih murni sebanyak delapan gelas, selama kamu masih mengonsumsi cairan lain dan makanan yang mengandung banyak air seperti sup atau buah-buahan.

Gimana Caranya Tahu Kalau Kita Sudah Cukup Minum?

Tubuh manusia itu sebenarnya punya alarm yang sangat canggih dan sudah terpasang sejak lahir. Namanya adalah rasa haus. Kedengarannya sederhana banget ya? Tapi seringkali kita malah lebih percaya pada aplikasi pengingat minum di HP daripada mendengarkan sinyal dari tubuh sendiri. Kalau kamu merasa haus, ya minum. Sesimpel itu.

Selain rasa haus, ada indikator paling gampang buat ngecek status hidrasi kamu: warna air kencing. Ini adalah metode "low-tech" yang paling akurat. Kalau warnanya kuning pucat atau bening kayak air perasan jeruk nipis yang encer banget, selamat, kamu sudah terhidrasi dengan baik. Tapi kalau warnanya kuning pekat bahkan cenderung oranye kayak teh botol, itu tandanya tubuhmu lagi teriak minta minum. Nggak perlu nunggu sampai pusing atau kulit kering kerontang dulu buat sadar kalau kamu kurang cairan.



Kesimpulan: Jadilah Pendengar Tubuh yang Baik

Jadi, apakah delapan gelas itu mitos atau fakta? Jawabannya: itu adalah panduan umum yang nggak wajib diikuti secara kaku. Untuk sebagian orang, delapan gelas mungkin pas. Untuk yang lain, itu mungkin kakehan (kebanyakan), dan buat para atlet, jumlah itu mungkin masih kurang jauh.

Nggak usah terobsesi mengejar angka kalau ujung-ujungnya malah bikin kamu bolak-balik ke toilet tiap sepuluh menit dan jadi nggak produktif. Minumlah secara sadar. Bawa botol minum ke mana-mana itu bagus buat membiasakan diri, tapi jangan jadikan itu beban hidup. Yang paling penting adalah tahu kapan tubuh butuh air dan jangan mengabaikannya. Hidup sudah cukup ribet dengan urusan pekerjaan dan asmara, jangan ditambah lagi dengan stres menghitung setiap tetes air yang masuk ke kerongkongan. Stay hydrated, tapi tetap santai!