Minggu, 5 Juli 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mitos atau Fakta: Menyalakan AC Terus-Menerus Membuat Boros Listrik?

Laila - Sunday, 05 July 2026 | 07:45 PM

Background
Mitos atau Fakta: Menyalakan AC Terus-Menerus Membuat Boros Listrik?

Mitos atau Fakta: Menyalakan AC Terus-Menerus Malah Bikin Listrik Lebih Irit?

Mari kita jujur sebentar. Di tengah cuaca Indonesia yang lagi hobi-hobinya simulasi suhu neraka, keberadaan AC (Air Conditioner) itu sudah bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan primer yang sejajar dengan kuota internet. Begitu sampai di rumah atau kosan, tangan kita secara refleks bakal meraba-raba remote, memencet tombol power, dan—ah—surga dunia dimulai. Tapi, di balik kenyamanan itu, ada satu ketakutan yang selalu menghantui pikiran setiap akhir bulan: tagihan listrik.

Pasti kalian pernah dengar perdebatan klasik ini. Ada kubu yang bilang kalau AC harus dimatikan setiap kali kita keluar ruangan sebentar biar hemat. Tapi, ada juga kubu "kaum mager" yang berargumen kalau menyalakan AC terus-menerus justru lebih murah daripada bolak-balik mati-nyala. Pertanyaannya, mana yang benar? Apakah ini cuma sekadar mitos biar kita nggak merasa berdosa, atau memang ada penjelasan sains di baliknya?

Dilema Tombol On-Off dan "Kagetnya" Kompresor

Bagi kaum "mendang-mending", mematikan AC saat keluar kamar selama 30 menit terasa seperti kemenangan kecil bagi dompet. Logikanya sederhana: AC mati sama dengan tidak pakai listrik, kan? Ternyata, logika ini nggak sepenuhnya tepat. Masalahnya ada pada komponen jantung si AC, yaitu kompresor.

Bayangkan begini: menyalakan AC itu seperti mendorong mobil mogok. Saat pertama kali mendorong, tenaga yang dikeluarkan sangat besar. Tapi begitu mobil sudah jalan, kita cuma butuh sedikit tenaga buat menjaga kecepatannya tetap stabil. Nah, AC juga begitu. Saat pertama kali dinyalakan, kompresor butuh lonjakan listrik yang tinggi (inrush current) untuk menurunkan suhu ruangan yang panas ke suhu target yang kamu inginkan. Kalau kamu sebentar-sebentar mematikan dan menyalakan AC, kompresor bakal "kaget" terus-menerus. Bukannya hemat, tagihan listrikmu malah bisa makin bengkak karena tarikan awal yang berulang-ulang itu.

Teknologi Inverter: Si Penyelamat Dompet

Sekarang, kita harus bicara soal teknologi. Kalau AC kamu masih tipe standar alias non-inverter, sistem kerjanya itu seperti saklar lampu: cuma ada opsi "nyala penuh" atau "mati". Begitu ruangan mencapai suhu target, kompresor mati. Begitu suhu naik lagi sedikit, kompresor langsung tancap gas lagi dengan tenaga penuh. Inilah yang bikin boros.



Beda cerita kalau kamu pakai AC Inverter. AC jenis ini ibarat pelari maraton yang pintar mengatur napas. Saat suhu ruangan sudah dingin sesuai keinginan, kompresor nggak bakal mati total, tapi cuma menurunkan kecepatannya. Dia bakal "standby" dengan putaran rendah buat menjaga suhu tetap stabil. Jadi, nggak ada tuh drama tarikan listrik tinggi berkali-kali. Dalam konteks ini, membiarkan AC Inverter menyala stabil di suhu 24-25 derajat jauh lebih bijak daripada mematikan-nyalakan setiap satu jam sekali.

Suhu 16 Derajat Adalah Jebakan Batman

Kebiasaan buruk orang Indonesia kalau lagi kepanasan adalah langsung menyetel AC ke suhu 16 derajat Celsius dengan harapan ruangan bakal dingin dalam sekejap. Ini adalah kesalahpahaman yang hakiki. Menyetel suhu ke angka paling rendah nggak bikin proses pendinginan jadi lebih cepat, tapi cuma memaksa kompresor kerja rodi tanpa henti.

Suhu ideal yang disarankan buat dompet dan kesehatan sebenarnya ada di angka 24 sampai 26 derajat Celsius. Kenapa? Karena selisih suhu antara dalam ruangan dan luar ruangan nggak terlalu ekstrem. Kalau di luar suhu lagi 32 derajat, dan kamu minta AC kerja sampai 16 derajat, kompresor mungkin nggak bakal pernah istirahat karena suhu 16 itu hampir mustahil tercapai di iklim tropis dengan isolasi ruangan yang ala kadarnya. Jadi, daripada maksa AC kerja sampai "pingsan", mending pasang di suhu nyaman saja.

Faktor Eksternal yang Sering Terlupakan

Boros atau tidaknya AC itu bukan cuma soal durasi menyala, tapi juga kondisi "medan perang"-nya. Seringkali kita menyalahkan AC yang nggak dingin padahal jendela kamar nggak tertutup rapat, atau gorden dibiarkan terbuka sehingga sinar matahari langsung masuk menusuk ke dalam ruangan. Itu sama saja menyuruh AC mendinginkan satu kelurahan.

Selain itu, filter AC yang kotor juga jadi tersangka utama listrik boros. Bayangkan kamu disuruh lari tapi hidung ditutup kapas. Capek, kan? AC yang filternya penuh debu bakal bekerja jauh lebih keras buat mengalirkan udara dingin. Hasilnya? Listrik jalan terus, tapi ruangan tetap terasa sumuk. Jadi, rajin-rajinlah panggil tukang AC buat cuci filter, minimal tiga bulan sekali. Anggap saja itu investasi biar tagihan nggak melambung.



Verdict: Jadi, Mitos atau Fakta?

Jawabannya adalah: Fakta, tapi dengan syarat. Menyalakan AC terus-menerus bisa lebih hemat daripada sering mematikan dan menyalakannya dalam interval waktu pendek (kurang dari satu atau dua jam). Ini berlaku terutama buat kamu pengguna AC Inverter.

Namun, kalau kamu bakal meninggalkan rumah selama seharian penuh, ya tetap harus dimatikan. Jangan sampai "salah kaprah" malah bikin AC nyala 24 jam non-stop padahal nggak ada orang di rumah. Itu sih namanya bukan hemat, tapi sedekah ke perusahaan listrik.

Kesimpulannya, cara paling pintar buat tetap adem tanpa bikin kantong jebol adalah dengan mengatur suhu yang rasional (sekitar 24-25 derajat), memastikan ruangan kedap udara, rutin servis, dan jangan terlalu paranoid buat membiarkan AC tetap nyala kalau kamu cuma keluar sebentar ke minimarket depan komplek. Chill aja, asal caranya benar, AC nggak bakal jahat sama saldo rekeningmu kok!