Meraung di Aspal Andalas: Mengenal Becak Khas Sumatra yang Unik dan Penuh Sejarah
RAU - Friday, 19 June 2026 | 06:10 PM


Meraung di Aspal Andalas: Seni dan Nyali di Balik Becak Khas Sumatra
Kalau kamu terbiasa melihat becak di Jogja atau Solo, di mana bapak tukang becaknya menggenjot pedal di belakang dengan tenang dan santun, bersiaplah untuk mengalami shock culture saat pertama kali menginjakkan kaki di Sumatra. Di tanah Andalas ini, becak bukan sekadar alat transportasi pelan yang bikin ngantuk. Becak di sini adalah perpaduan antara nyali, deru mesin tua, dan posisi duduk yang membuatmu merasa sedang ikut balapan sidecar di ajang internasional—minus helm full face dan wearpack tentu saja.
Satu hal yang paling mencolok dan menjadi identitas utama becak khas Sumatra adalah posisi mesin atau pengemudinya yang berada di samping, bukan di belakang atau di depan penumpang. Konfigurasi ini sering disebut sebagai becak sespan. Entah siapa yang pertama kali memulai ide ini, tapi yang jelas, duduk di dalam becak Sumatra itu rasanya seperti sedang terbang rendah. Kamu berada di sebuah kotak di sisi kiri, sementara di sisi kananmu ada motor yang menderu-deru, membawa kalian berdua membelah kemacetan kota dengan manuver yang kadang bikin jantung mau copot.
Legenda Mesin Perang di Pematangsiantar
Berbicara soal becak Sumatra tak akan lengkap tanpa menyebut Pematangsiantar. Di kota ini, becak bukan lagi sekadar angkutan, melainkan monumen berjalan. Kalau biasanya becak motor (bentor) menggunakan motor bebek Jepang keluaran terbaru, di Siantar kamu akan menemukan monster-monster tua bernama BSA. Ya, Birmingham Small Arms, motor legendaris sisa Perang Dunia II buatan Inggris.
Bayangkan saja, mesin 500cc yang dulunya dipakai tentara Sekutu untuk perang, sekarang dipakai untuk mengantar ibu-ibu ke pasar atau anak sekolah pulang ke rumah. Suaranya? Jangan ditanya. Menggelegar, ngebass, dan punya karakter "bluergh-bluergh" yang nggak bakal bisa ditiru oleh motor matic mana pun. Duduk di becak BSA Siantar itu memberikan prestise tersendiri. Ada aroma oli, bensin, dan sejarah yang bercampur jadi satu. Meski jumlahnya makin menyusut karena onderdil yang makin langka dan mahal, warga Siantar tetap bangga dengan warisan kolonial yang satu ini. Bagi mereka, BSA bukan cuma besi tua, tapi nyawa kota.
Vespa dan Kreativitas Tanpa Batas di Padangsidimpuan
Geser sedikit ke arah selatan, tepatnya di Padangsidimpuan atau daerah Aceh, kamu akan menemukan variasi lain yang nggak kalah unik: becak Vespa. Ini adalah bukti sahih kalau orang Sumatra itu kreatifnya nggak ada lawan. Motor asal Italia yang identik dengan gaya retro dan santai itu dimodifikasi sedemikian rupa menjadi penarik beban di sampingnya.
Becak Vespa ini punya estetika yang berbeda. Bentuknya lebih bulat, suaranya lebih nyaring (dan kadang lebih berasap), tapi soal ketangguhan jangan diragukan. Melihat Vespa tua dengan ban miringnya menarik kotak penumpang berisi tiga orang dewasa plus belanjaan adalah pemandangan yang heroik. Ada semacam rasa sentimentil saat melihat mesin-mesin tua ini menolak untuk pensiun dan tetap produktif di jalanan yang panas membara.
Sensasi "Ngebut" dan Estetika Interior
Ada satu rahasia umum: kalau kamu naik becak motor di Medan atau kota-kota lain di Sumatra Utara, jangan harap bisa duduk cantik sambil main HP dengan tenang. Para driver becak di sini punya kemampuan navigasi yang setara dengan pembalap MotoGP. Mereka bisa masuk ke celah-celah sempit yang bahkan motor biasa pun ragu untuk lewat. Karena posisi kita ada di samping, seringkali kita merasa roda becak yang kita tumpangi sudah hampir menyerempet trotoar atau spion mobil orang. Tapi tenang, itu semua sudah terhitung dalam kalkulasi mereka yang presisi.
Selain soal kecepatan, becak Sumatra juga punya gaya personal masing-masing. Biasanya, para abang becak akan menghias "kereta" mereka dengan berbagai stiker, lampu kelap-kelip, sampai sistem suara (sound system) yang nendang. Jangan kaget kalau kamu naik becak dan disuguhi musik remix kencang atau lagu-lagu Batak yang melankolis sepanjang jalan. Bagi mereka, becak adalah rumah kedua, jadi kenyamanan (dan kegantengan) becak adalah harga mati.
Bertahan di Tengah Gempuran Ojek Online
Tentu saja, jalanan tidak selalu ramah bagi para pejuang aspal ini. Kehadiran transportasi online sempat membuat eksistensi becak Sumatra goyah. Harganya yang transparan dan kemudahan akses lewat aplikasi menjadi tantangan berat. Namun, becak Sumatra punya satu hal yang tidak dimiliki ojek online: daya angkut dan karakter.
Ibu-ibu yang pulang dari pasar dengan keranjang sayur segunung tidak akan bisa naik ojek motor biasa. Begitu juga rombongan anak sekolah yang ingin patungan ongkos agar lebih murah. Becak tetap menjadi solusi. Selain itu, banyak turis sengaja datang ke Sumatra hanya untuk merasakan sensasi naik becak-becak ikonik ini. Becak sudah bergeser fungsinya, dari sekadar alat transportasi menjadi daya tarik wisata dan identitas budaya.
Mengamati becak khas Sumatra adalah cara kita melihat bagaimana sebuah teknologi tua beradaptasi dengan kebutuhan lokal. Ia kasar di luar, berisik suaranya, tapi punya hati dan sejarah yang dalam. Ia adalah simbol kerja keras dan ketangguhan masyarakatnya. Jadi, kalau suatu saat kamu main ke Medan, Siantar, atau Padangsidimpuan, lupakan sejenak aplikasi di ponselmu. Cobalah panggil satu becak, duduk di samping abangnya, nikmati deru mesinnya, dan rasakan sensasi menjadi raja jalanan yang sesungguhnya di atas aspal Sumatra.
Next News

Jalan Sehat vs Lari: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan dan Menurunkan Berat Badan?
in 6 hours

Jangan Singkirkan Jamur! Ini Kekuatan Rahasianya untuk Tubuh
in 6 hours

Pilates: Olahraga Estetik yang Ternyata Efektif Menguatkan Otot Inti dan Memperbaiki Postur Tubuh
in 6 hours

Ramalan Garis Tangan: Benarkah Nasib Seseorang Bisa Terlihat dari Telapak Tangan?
in 6 hours

Rahasia Rambut Bayi Lebat: Perlukah Sering Digundul Sejak Dini?
in 5 hours

Gak Cuma Enak Didengar, Penyanyi Islami Kini Punya Basis Penggemar yang Tak Kalah Solid dari K-Popers
in 5 hours

Antara Imposter dan Main Character: Fenomena "Manusia Syndrome" di Era Label Psikologi Populer
in 4 hours

Drama Buah Alpukat: Antara Gaya Hidup Aesthetic dan Seni Memilih Buah yang Sempurna
in 4 hours

Alasan Mengapa Kamu Harus Berhenti Menaruh HP di Bawah Bantal
in 4 hours

Lebih dari Sekadar Siomay, Ini Asal-usul Dimsum yang Belum Kamu Tahu
in 4 hours





