Selasa, 16 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Rokok dalam Kehidupan Modern: Antara Kebiasaan, Budaya, dan Tantangan Kesehatan

RAU - Tuesday, 16 June 2026 | 07:45 PM

Background
Rokok dalam Kehidupan Modern: Antara Kebiasaan, Budaya, dan Tantangan Kesehatan

Sebatang Rokok, Secangkir Kopi, dan Paradoks yang Tak Pernah Usai

Pagi hari di sebuah warung kopi pinggiran Jakarta, suasananya hampir selalu sama. Ada bunyi denting sendok yang beradu dengan gelas kaca, aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan, dan tentu saja, kepulan asap yang meliuk-liuk di udara. Bagi sebagian orang, pemandangan ini adalah definisi dari ketenangan sebelum menghadapi gempuran deadline kantor. Bagi yang lain, ini mungkin tampak seperti polusi paru-paru yang dibungkus dalam romansa pagi. Tapi ya itulah Indonesia, negara di mana rokok bukan sekadar gulungan tembakau, melainkan sudah menjadi bagian dari struktur sosial kita.

Berbicara soal rokok di negeri ini memang gampang-gampang susah. Kalau kita bicara dari sudut pandang medis, ya sudah jelas jawabannya: nggak ada dokter di dunia ini yang bakal meresepkan "sebat dulu" buat menyembuhkan flu. Semua orang tahu risikonya, dari urusan kantong yang bolong sampai urusan kesehatan yang bisa bikin napas Senin-Kamis. Tapi, kenapa kok tetap laku keras? Kenapa warung kelontong di gang sempit tetap bisa hidup cuma dari jualan eceran?

Ritual Nongkrong dan Diplomasi Asap

Coba perhatikan anak muda yang lagi nongkrong di kafe atau sekadar duduk di atas motor depan minimarket. Rokok seringkali jadi "social lubricant" atau pelumas pergaulan. Ada sebuah kode etik tak tertulis di tongkrongan: ketika seseorang mengeluarkan korek, itu adalah sinyal bahwa obrolan akan dimulai. Dari urusan bahas taktik main Mobile Legends sampai debat kusir soal politik yang nggak ada ujungnya, semuanya terasa lebih "masuk" kalau ditemani asap yang mengepul.

Bahkan ada istilah "diplomasi rokok". Kamu lagi canggung di acara nikahan saudara yang nggak kamu kenal? Cukup pergi ke area merokok, minta api ke orang sebelah, dan bum! Obrolan pun mengalir. "Kerja di mana, Mas?" atau "Rokoknya apa, Bang?" adalah pembuka jalan yang lebih efektif daripada sekadar basa-basi cuaca. Di sini, rokok jadi identitas, penanda kelas sosial, sekaligus jembatan komunikasi yang ajaibnya bisa mencairkan suasana kaku.

Dari Kretek Hingga Pods: Pergeseran Gaya Hidup

Dulu, dunia pertembakauan kita didominasi oleh kretek. Bau cengkeh yang tajam dan bunyi "kemretek" saat dibakar adalah ciri khas pria-pria tua di desa. Sekarang, zaman sudah bergeser. Anak muda zaman sekarang mungkin lebih akrab dengan pod atau vape yang aromanya lebih mirip toko parfum atau toko kue daripada tembakau. Ada rasa strawberry, cheesecake, sampai rasa mangga yang kalau dicium sekilas bikin kita lupa kalau itu sebenarnya juga aktivitas memasukkan sesuatu ke paru-paru.



Fenomena vape ini menarik. Banyak yang beralih karena merasa lebih "sehat" (meski ini masih jadi perdebatan panjang di dunia kesehatan) atau sekadar biar nggak bau apek saat ketemu pacar. Tapi lucunya, banyak juga yang akhirnya jadi "dual user". Pagi ngevape karena di kantor, malamnya pas lagi pusing mikirin cicilan, balik lagi ke rokok konvensional karena "tarikannya" dianggap lebih mantap. Memang benar kata orang, selera itu nggak bisa bohong, dan kebiasaan lama itu sulit matinya.

Paradoks Ekonomi dan Cukai yang Selalu Naik

Pemerintah kita punya hubungan yang unik dengan rokok. Di satu sisi, ada kampanye kesehatan yang masif, gambar-gambar seram di bungkus rokok yang bikin kita ngeri kalau dilihat lama-lama (tapi biasanya ditutupin jempol atau masukin ke kotak rokok keren), dan kenaikan cukai yang hampir tiap tahun terjadi. Tapi di sisi lain, sumbangan cukai rokok ke kas negara itu triliunan rupiah. Belum lagi jutaan orang yang hidupnya bergantung pada rantai industri ini, mulai dari petani tembakau di Temanggung sampai buruh linting di Kediri.

Buat perokok kelas menengah ke bawah, kenaikan harga rokok itu ujian kesabaran. Setiap awal tahun, saat harga rokok naik seribu atau dua ribu rupiah, biasanya muncul sumpah serapah, "Besok gue berhenti!". Tapi ya besoknya tetap saja beli, cuma mungkin mereknya turun kasta atau jumlah batangnya dikurangi. Ini menunjukkan betapa kuatnya cengkeraman nikotin sekaligus betapa rokok sudah jadi kebutuhan pokok yang sejajar dengan pulsa internet bagi sebagian orang.

Menghargai Ruang dan Pilihan

Namun, di tengah segala pembelaan soal budaya dan ekonomi, kita nggak boleh menutup mata kalau asap rokok itu memang mengganggu bagi yang nggak merokok. Sekarang sudah bukan zamannya lagi merokok di dalam angkot atau di ruang tunggu rumah sakit sambil merasa paling jagoan. Kesadaran akan "etiket merokok" harusnya sudah jadi standar dasar. Jangan sampai hak kita buat "menikmati hidup" malah jadi beban kesehatan buat orang lain, apalagi anak kecil atau ibu hamil.

Sebenarnya, merokok atau tidak adalah pilihan personal yang penuh konsekuensi. Kita semua sudah dewasa untuk tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Yang jadi masalah adalah ketika kita abai pada lingkungan sekitar. Perokok yang keren adalah perokok yang tahu tempat, tahu diri, dan tahu kapan harus mematikan puntungnya sebelum bara itu membakar kenyamanan orang lain.



Pada akhirnya, rokok mungkin akan tetap ada di Indonesia untuk waktu yang sangat lama. Ia akan terus jadi saksi bisu di sudut-sudut warteg, di meja-meja rapat informal, hingga di sela-sela curhatan galau anak muda yang putus cinta. Entah itu kretek, putih, atau vape, esensinya tetap sama: sebuah pelarian kecil di tengah dunia yang makin hari makin berisik. Tapi ingat ya, kesehatan itu mahal harganya, dan kalau memang niat mau berhenti, nggak perlu nunggu harga rokok jadi seratus ribu per bungkus. Mulai saja dari sekarang, atau setidaknya, jadilah perokok yang bertanggung jawab.