Selasa, 16 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Dulu Diremehkan, Kini Ubi Ungu Jadi Tren Kuliner Mewah di Kafe

RAU - Tuesday, 16 June 2026 | 06:50 PM

Background
Dulu Diremehkan, Kini Ubi Ungu Jadi Tren Kuliner Mewah di Kafe

Si Ungu yang Naik Kelas: Dari Teman Ngopi di Teras sampai Jadi Bintang Kafe Kekinian

Kalau kita bicara soal ubi-ubian, biasanya yang terlintas di kepala adalah pemandangan sore hari di teras rumah simbah, lengkap dengan segelas teh tawar hangat. Dulu, ubi ungu atau yang punya nama ilmiah Ipomoea batatas L ini sering dianggap sebagai "makanan kampung" yang nasibnya cuma berakhir di panci kukusan atau penggorengan. Tapi coba lihat sekarang. Si ungu ini sudah bertransformasi total. Dia nggak lagi cuma nongkrong di pasar tradisional, tapi sudah mejeng di etalase kafe estetik dalam bentuk latte, gelato, sampai donat artisan yang harganya bikin dompet sedikit meringis.

Fenomena ubi ungu ini sebenarnya menarik banget buat dikulik. Kenapa sih, dari sekian banyak jenis umbi-umbian, si ungu ini yang paling sukses "naik kasta"? Jawabannya mungkin simpel: dia punya modal tampang yang nggak main-main. Warna ungunya itu lho, menggoda banget buat difoto. Di era di mana "makan sebelum difoto itu haram", ubi ungu adalah primadona. Warnanya yang mencolok tapi alami bikin makanan apa pun jadi terlihat lebih hidup tanpa perlu tambahan pewarna buatan yang mencurigakan.

Bukan Sekadar Warna, Ada "Sakti" di Baliknya

Tapi jangan salah, ubi ungu itu bukan cuma menang di visual doang. Kalau ibarat manusia, dia ini paket lengkap: cakep iya, pinter juga iya. Warna ungu pekat itu bukan hasil gimmick laboratorium, melainkan berkat kandungan antosianin yang tinggi. Buat yang belum tahu, antosianin ini adalah zat antioksidan yang jago banget lawan radikal bebas. Jadi, sambil ngunyah ubi ungu, sebenarnya kita lagi ngasih asupan "tentara" buat tubuh biar nggak gampang tumbang kena polusi atau stres kerjaan yang numpuk.

Selain antosianin, ubi ungu itu kaya banget sama serat. Ini nih yang bikin dia jadi sahabat karib kaum pejuang diet. Makan ubi ungu sedikit saja, kenyangnya awet banget. Beda cerita kalau kita makan nasi putih yang seringnya bikin kita pengen nambah lagi dan lagi. Belum lagi kandungan vitamin A-nya yang tinggi banget, bahkan katanya lebih tinggi dari beberapa jenis sayuran hijau. Jadi, buat kamu yang kerjanya tiap hari mantengin layar laptop sampai mata sepet, rajin-rajin deh nyemil ubi ungu biar mata tetap jernih melihat masa depan.

Tragedi Salah Kaprah: Ubi Ungu vs Taro

Nah, ini nih bahasan yang sering bikin salah paham di kalangan anak muda zaman sekarang. Banyak yang menganggap kalau ubi ungu itu sama dengan taro. Padahal, secara silsilah keluarga, mereka itu beda jauh. Taro itu asalnya dari talas (tales), yang kalau nggak diolah dengan benar bisa bikin lidah gatal-gatal. Teksturnya lebih kasar dan warnanya cenderung ungu muda atau putih keunguan.



Sementara ubi ungu, dia adalah ubi jalar. Rasanya lebih manis alami dan teksturnya jauh lebih lembut, hampir mirip mentega kalau dikukus sampai benar-benar matang. Jadi, kalau kamu ke kafe dan pesan "Taro Latte" tapi rasanya kayak ubi rebus, ya jangan komplain, mungkin mereka memang pakai bubuk perasa instan. Tapi kalau kamu dapat yang beneran pakai ubi ungu asli, rasanya tuh lebih earthy, legit, dan ada sensasi creamy yang nggak bisa digantikan oleh talas mana pun. Itulah kenapa ubi ungu sering jadi bahan eksperimen para chef untuk bikin pastry kelas atas.

Eksplorasi Rasa yang Nggak Ada Matinya

Dulu, cara paling canggih makan ubi ungu ya cuma digoreng pakai tepung terigu. Tapi sekarang, kreativitas orang Indonesia emang nggak ada obatnya. Muncul yang namanya "Bola-bola Ubi" atau yang sering disebut Bobobi. Itu lho, jajanan yang kalau digigit kopong tapi kenyal-kenyal nagih. Di tangan para pelaku UMKM kreatif, ubi ungu juga disulap jadi bakpao, brownies, bahkan selai.

Obsesi orang terhadap ubi ungu ini juga merambah ke dunia minuman. Coba lihat menu-menu di kedai kopi kekinian. Pasti ada setidaknya satu menu yang pakai embel-embel ubi ungu atau purple yam. Dan anehnya, ubi ini masuk-masuk saja dipadukan dengan susu, kopi, atau bahkan cokelat. Dia nggak dominan yang bikin enek, tapi memberikan tekstur kental yang bikin minuman terasa lebih "mewah".

Menurut opini saya yang hobi jajan, ubi ungu ini adalah simbol dari local pride yang berhasil menembus batas kelas sosial. Dia bisa tampil sangat merakyat di dalam bakul penjual gorengan pinggir jalan, tapi bisa juga tampil sangat elegan di atas piring porselen restoran bintang lima dengan hiasan daun mint dan taburan gula halus. Ini membuktikan bahwa bahan pangan lokal kita itu sebenarnya punya potensi besar kalau dipoles dengan sedikit kreativitas dan narasi yang tepat.

Kesimpulan: Jangan Lupakan Akar

Meskipun sekarang ubi ungu sudah jadi makanan hits, ada baiknya kita jangan lupa cara paling jujur buat menikmatinya: dikukus biasa tanpa bumbu macam-macam. Ada kenikmatan tersendiri saat kita mengupas kulitnya yang tipis, lalu melihat uap panas mengepul dari daging ubi yang berwarna ungu gelap. Rasanya manis, hangat, dan sangat menenangkan.



Di tengah gempuran makanan olahan yang penuh pengawet dan penyedap rasa, ubi ungu hadir sebagai pengingat bahwa alam sudah menyediakan yang terbaik untuk kita. Murah, sehat, dan tentu saja, sangat enak. Jadi, besok kalau mampir ke pasar atau supermarket, jangan cuma beli mi instan atau camilan kemasan. Sisipkan satu atau dua kilo ubi ungu di keranjangmu. Selain dukung petani lokal, kamu juga lagi investasi buat kesehatan tubuhmu sendiri. Lagipula, hidup itu kadang sudah pahit, jadi nggak ada salahnya kan kalau kita cari yang manis-manis alami kayak si ubi ungu ini?

Singkatnya, ubi ungu bukan cuma soal tren atau konten Instagram yang estetik. Dia adalah bukti kalau makanan sederhana pun bisa punya daya pikat luar biasa kalau kita tahu cara menghargainya. Jadi, sudahkah kamu makan ubi ungu hari ini? Kalau belum, buruan cari, sebelum dia makin mahal karena dicap sebagai superfood oleh orang luar negeri!