Antara Imposter dan Main Character: Fenomena "Manusia Syndrome" di Era Label Psikologi Populer
RAU - Friday, 19 June 2026 | 05:05 PM


Antara Imposter dan Main Character: Selamat Datang di Dunia 'Manusia Syndrome'
Pernah nggak sih, pas lagi asyik-asyiknya scrolling media sosial tengah malem—saat kuota malam masih penuh tapi kesehatan mental mulai terkikis—lo tiba-tiba ngerasa tertampar sama satu postingan psikologi yang lewat? Isinya biasanya sederhana, cuma satu kalimat pendek kayak: "Kamu nggak malas, kamu cuma kena burnout." Terus lo langsung ngebatin, "Wah, ini gue banget!"
Fenomena ini unik. Belakangan ini, kita kayak lagi hobi banget ngasih label "syndrome" ke hampir semua perilaku manusia. Dikit-dikit diagnosa mandiri, dikit-dikit ngerasa punya sindrom tertentu cuma gara-gara cocok sama satu thread di Twitter (sekarang X). Dari sini, muncul istilah "Manusia Syndrome"—sebuah kondisi di mana kita merasa hidup kita ini adalah kumpulan dari berbagai label psikologis yang bikin kita merasa lebih dipahami, tapi sekaligus bikin kita makin bingung sama jati diri sendiri.
Si Paling Palsu: Imposter Syndrome yang Nggak Kenal Ampun
Mari kita mulai dengan yang paling populer: Imposter Syndrome. Ini adalah perasaan di mana lo merasa kayak penipu di tengah orang-orang hebat. Padahal, lo udah kerja keras, lo punya prestasi, dan lo dapet apresiasi yang layak. Tapi di dalem kepala, ada suara kecil yang ngebisikin, "Ah, ini mah cuma hoki doang. Ntar juga mereka sadar kalau gue aslinya cupu banget."
Jujurly, banyak banget anak muda zaman sekarang yang kejebak di sini. Tekanan di lingkungan kerja yang serba cepat dan standar hidup di Instagram yang makin nggak masuk akal bikin kita ngerasa pencapaian kita itu nggak pernah cukup. Kita merasa harus selalu tampil sempurna, padahal di balik layar, kita cuma manusia yang lagi belajar jalan sambil meraba-raba tembok. Lucunya, makin sukses seseorang, biasanya sindrom ini makin kenceng teriaknya. Kita jadi takut sukses karena takut ekspektasi orang makin tinggi, dan pada akhirnya takut ketahuan "belang"-nya.
Main Character Syndrome: Hidup Serasa Film Indie
Di sisi lain spektrum, ada yang namanya Main Character Syndrome. Kebalikan dari Imposter, penderita (atau pelaku?) sindrom ini merasa dunia berputar di sekitar mereka. Pernah nggak lo ngelihat temen yang kalau lagi sedih dikit langsung posting story pakai lagu melankolis, terus dia jalan di bawah hujan sambil ngebayangin ada kamera yang nge-zoom ke mukanya yang lagi galau?
Fenomena ini bikin kita ngerasa hidup ini adalah narasi film di mana kita adalah bintang utamanya. Efeknya? Kita jadi kurang empati sama sekitar karena terlalu sibuk mengkurasi "aesthetic" hidup kita sendiri. Padahal, ya, kenyataannya nggak semua orang peduli sama apa yang kita makan pagi ini atau betapa puitisnya perasaan kita pas ngelihat senja. Tapi hey, nggak ada salahnya sih sesekali ngerasa jadi tokoh utama biar hidup yang flat ini kerasa agak berwarna. Masalahnya muncul kalau kita mulai ngerasa orang lain itu cuma "NPC" atau pemain figuran dalam hidup kita. Itu sih udah red flag, ya.
Budaya "Gak Enakan" alias People Pleaser Syndrome
Lanjut ke "penyakit" khas orang Indonesia: People Pleaser Syndrome. Kalau di tongkrongan, ini adalah tipe manusia yang paling "iya-iya" aja. Disuruh jemput? Ayok. Disuruh ngerjain tugas kelompok sendirian? Siap. Padahal di dalem hati udah misuh-misuh tujuh turunan. Kita sering terjebak dalam kebutuhan untuk divalidasi dan dicintai oleh semua orang, sampai lupa kalau diri sendiri juga butuh istirahat.
Sindrom ini biasanya lahir dari rasa takut akan konflik. Kita lebih milih capek badan dan capek hati daripada harus ngomong "nggak" dan ngelihat orang lain kecewa. Padahal, jadi manusia yang selalu "oke" itu capek banget, lho. Ujung-ujungnya, kita malah jadi benci sama diri sendiri karena merasa nggak punya kontrol atas hidup sendiri. Kita jadi relawan gratisan buat kebahagiaan orang lain, sementara kebahagiaan kita sendiri antre paling belakang.
Kenapa Kita Begitu Terobsesi dengan Label?
Pertanyaannya sekarang, kenapa sih kita suka banget melabeli diri kita dengan berbagai sindrom ini? Jawabannya mungkin karena kita butuh validasi bahwa perasaan kita itu nyata. Di dunia yang makin berisik dan kompetitif ini, ngerasa "aneh" sendirian itu nakutin. Dengan ngomong "Oh, gue kena imposter syndrome," kita ngerasa punya temen. Kita ngerasa bahwa ada penjelasan ilmiah di balik kekacauan pikiran kita.
Label-label ini jadi semacam pegangan biar kita nggak ngerasa sendirian. Ini adalah cara kita memanusiakan diri sendiri di tengah gempuran produktivitas yang nggak ada habisnya. Tapi, ada bahayanya juga kalau kita terlalu nyaman di balik label-label ini. Kadang, kita jadiin sindrom itu sebagai tameng buat nggak berubah. "Ya gimana, gue kan people pleaser, emang udah sifatnya gini." Padahal, yang namanya perilaku itu bisa dilatih dan diperbaiki.
Menjadi Manusia yang Utuh (Tanpa Terlalu Banyak Label)
Pada akhirnya, kita harus sadar kalau kita itu lebih luas dari sekadar diagnosa psikologi populer. Kita bisa jadi imposter di pagi hari saat rapat kantor, jadi main character pas lagi dengerin lagu di KRL sore-sore, dan jadi people pleaser pas disuruh nyokap beli garem di warung pas lagi asyik main game. Itu wajar. Kita ini kompleks, penuh kontradiksi, dan nggak selamanya bisa dimasukin ke dalam satu kotak label.
Nggak perlu terlalu pusing buat mendiagnosa diri sendiri setiap hari. Yang penting itu kesadaran diri (self-awareness). Kalau ngerasa ada yang nggak beres sama mental, ya cari bantuan profesional ke psikolog, bukannya malah scroll TikTok terus makin stres. Dunia "Manusia Syndrome" ini emang menarik buat dibahas di tongkrongan, tapi jangan sampai kita lupa buat hidup secara nyata di luar layar HP.
Jadilah manusia yang apa adanya. Kalau lagi sedih, ya sedih aja, nggak usah nunggu dibilang depresi. Kalau lagi bangga sama pencapaian, ya nikmatin aja, nggak usah takut dibilang sombong atau kena sindrom tokoh utama. Hidup ini bukan soal seberapa keren label yang lo punya, tapi seberapa jujur lo sama diri sendiri setiap harinya. Cheers!
Next News

Jalan Sehat vs Lari: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan dan Menurunkan Berat Badan?
in 7 hours

Jangan Singkirkan Jamur! Ini Kekuatan Rahasianya untuk Tubuh
in 7 hours

Pilates: Olahraga Estetik yang Ternyata Efektif Menguatkan Otot Inti dan Memperbaiki Postur Tubuh
in 7 hours

Ramalan Garis Tangan: Benarkah Nasib Seseorang Bisa Terlihat dari Telapak Tangan?
in 7 hours

Rahasia Rambut Bayi Lebat: Perlukah Sering Digundul Sejak Dini?
in 6 hours

Meraung di Aspal Andalas: Mengenal Becak Khas Sumatra yang Unik dan Penuh Sejarah
in 6 hours

Gak Cuma Enak Didengar, Penyanyi Islami Kini Punya Basis Penggemar yang Tak Kalah Solid dari K-Popers
in 6 hours

Drama Buah Alpukat: Antara Gaya Hidup Aesthetic dan Seni Memilih Buah yang Sempurna
in 5 hours

Alasan Mengapa Kamu Harus Berhenti Menaruh HP di Bawah Bantal
in 5 hours

Lebih dari Sekadar Siomay, Ini Asal-usul Dimsum yang Belum Kamu Tahu
in 5 hours





