Rabu, 28 Januari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengenal Tapsel: Geografi, Budaya Sahata Saoloan, dan Potensi Ekonomi Daerah

Fajar - Friday, 23 January 2026 | 07:41 PM

Background
Mengenal Tapsel: Geografi, Budaya Sahata Saoloan, dan Potensi Ekonomi Daerah

Kabupaten Tapanuli Selatan (sering disingkat Tapsel) merupakan salah satu wilayah administratif tertua di Provinsi Sumatera Utara. Sebelum mengalami pemekaran menjadi beberapa daerah seperti Mandailing Natal, Tapanuli Tengah, Kota Padangsidimpuan, Padang Lawas, dan Padang Lawas Utara, Tapanuli Selatan adalah kabupaten induk yang mencakup wilayah sangat luas di bagian selatan Sumatera Utara.

Secara geografis, Tapanuli Selatan terletak pada koordinat 0°58'33'' – 2°07'24'' Lintang Utara dan 98°42'54'' – 99°34'17'' Bujur Timur. Pusat pemerintahan kabupaten ini berada di Sipirok sejak pemindahannya dari Kota Padangsidimpuan. Wilayah ini dikenal dengan topografi pegunungan yang memberikan kekayaan sumber daya alam melimpah, mulai dari sektor pertanian hingga potensi energi terbarukan.

Filosofi "Sahata Saoloan"

Identitas Tapanuli Selatan melekat erat pada semboyan "Sahata Saoloan". Secara etimologis dalam bahasa Angkola, Sahata berarti seia sekata atau satu kata, sementara Saoloan berarti satu tujuan atau seiring sejalan. Slogan ini bukan sekadar kata-kata formalitas, melainkan cerminan budaya gotong royong dan musyawarah yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat dalam mengambil keputusan strategis maupun kehidupan bertetangga.

Sejarah dan Pembentukan Wilayah

Secara historis, Tapanuli Selatan memiliki jejak panjang sejak masa kolonial Belanda sebagai bagian dari Keresidenan Tapanuli. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Darurat Tahun 1956, Tapanuli Selatan resmi berdiri sebagai kabupaten.

Transformasi besar terjadi pada periode 1998 hingga 2008, di mana wilayah ini dimekarkan menjadi beberapa kabupaten/kota baru untuk mempercepat pembangunan. Meskipun wilayahnya mengecil secara administratif, Tapanuli Selatan tetap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan budaya bagi wilayah sekitarnya.

Potensi Ekonomi dan Sumber Daya Alam

Ekonomi Tapanuli Selatan didominasi oleh sektor primer. Berdasarkan data BPS, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memberikan kontribusi signifikan terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto).

  1. Pertanian dan Perkebunan: Tapsel adalah penghasil utama kopi (khususnya Arabika Sipirok), karet, kelapa sawit, dan kakao. Kopi Sipirok telah mendapatkan pengakuan internasional karena profil rasa yang unik akibat penanaman di ketinggian di atas 1.000 mdpl.
  2. Energi dan Pertambangan: Wilayah ini memiliki potensi panas bumi (geothermal) dan proyek strategis nasional seperti PLTA Batang Toru. Selain itu, terdapat tambang emas Martabe yang merupakan salah satu tambang emas terbesar di Indonesia.
  3. Pariwisata: Objek wisata seperti Danau Marsabut, Pemandian Air Panas Sipirok, dan Istana Bagas Godang di berbagai desa adat menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman wisata alam dan budaya.

Kondisi Demografi dan Sosial Budaya

Mayoritas penduduk Tapanuli Selatan adalah suku Batak Angkola. Kehidupan sosial di sini diatur oleh sistem Dalihan Na Tolu (Mora, Kahanggi, dan Anak Boru), sebuah struktur kekerabatan yang menjaga keseimbangan hubungan sosial. Meskipun mayoritas penduduk memeluk agama Islam, toleransi beragama di wilayah ini sangat tinggi, yang terbukti dengan kerukunan hidup berdampingan antarumat beragama di daerah-daerah seperti Sipirok.

Pembangunan Infrastruktur dan Pusat Pemerintahan

Sejak pusat pemerintahan pindah ke Sipirok, pembangunan infrastruktur difokuskan pada Kompleks Perkantoran Payaloting. Arsitektur perkantoran ini unik karena mengadopsi elemen tradisional rumah adat Bagas Godang, menjadikannya ikon baru pariwisata perkantoran di Sumatera Utara.