Kenapa Sih Orang Hobi Banget Mem-bully?
Liaa - Monday, 16 March 2026 | 12:00 PM


Menyoal Bullying: Dari 'Cuma Bercanda' Sampai Jadi Tradisi Beracun yang Nggak Ada Habisnya
Pernah nggak sih kamu ngerasa mules luar biasa tiap mau berangkat sekolah atau kantor? Bukan karena salah makan seblak level dewa tadi malam, tapi karena ada satu sosok atau sekelompok orang yang auranya bikin kita pengen ngilang secara instan. Kalau pernah, selamat, kamu mungkin sedang berhadapan dengan fenomena klasik yang namanya bullying. Fenomena ini sebenernya udah lama banget ada, bahkan mungkin sejak zaman manusia purba rebutan tulang paha mamut. Tapi masalahnya, di zaman sekarang, bentuknya makin variatif dan cara mainnya makin halus.
Dulu, bullying itu identik sama fisik. Misalnya, dipalak di belakang kantin atau sepatu disembunyiin di atas genteng sekolah. Sekarang? Bullying udah bertransformasi jadi lebih canggih lewat media sosial. Kita mengenalnya dengan sebutan cyberbullying. Bayangin, kamu lagi asik-asik scrolling TikTok, eh tiba-tiba nemu komentar jahat yang ngerujak penampilan kamu cuma karena kamu nggak pakai outfit yang lagi tren. Rasanya? Lebih perih daripada kena sabet penggaris kayu, karena jejak digital itu abadi dan bisa dilihat siapa saja, kapan saja.
Topeng 'Bercanda' yang Sering Disalahgunakan
Salah satu alasan kenapa bullying susah banget hilang adalah karena pelakunya punya tameng sakti mandraguna: "Ah, baper banget sih, kan cuma bercanda!" Kalimat ini tuh bener-bener kayak kartu 'get out of jail free' di permainan monopoli. Padahal ya, ada batasan yang jelas antara bercanda sama menghina. Bercanda itu kalau semua orang yang terlibat ikut ketawa. Kalau yang satu ketawa dan yang satunya lagi nahan nangis sambil nunduk dalem-dalem, itu namanya penindasan, kawan.
Budaya 'senioritas' di Indonesia juga sering jadi ladang subur buat hal ini. Masih inget nggak zaman-zaman masa orientasi sekolah yang harus pakai atribut aneh-aneh? Dalihnya sih buat melatih mental. Tapi ya kali, melatih mental kok caranya disuruh teriak-teriak nggak jelas di depan muka atau disuruh minta tanda tangan senior sambil dibentak-bentak. Mental yang terlatih itu lahir dari tantangan hidup yang nyata, bukan dari rasa takut yang diciptakan secara sengaja demi ego seseorang yang pengen ngerasa lebih berkuasa.
Kadang kita harus jujur sama diri sendiri, banyak dari kita yang secara nggak sadar pernah jadi pelaku. Mungkin cuma lewat satu komentar pedas di akun gosip, atau sekadar ikut ketawa pas ada temen yang lagi di-bully di grup WhatsApp. Di sini masalahnya: bystander effect. Orang-orang yang diem aja pas liat penindasan itu sebenernya ngasih 'izin' buat si pelaku buat terus lanjut. Kita mikir, "Ah, bukan urusan gue," padahal bagi korban, kehadiran satu orang aja yang berani bilang "Eh, itu nggak lucu" bisa berarti dunia buat mereka.
Kenapa Sih Orang Hobi Banget Mem-bully?
Kalau kita bedah psikologinya, sebenernya para pelaku bullying ini biasanya orang-orang yang punya masalah sama diri mereka sendiri. Mereka mungkin kurang dapet perhatian di rumah, atau malah mereka sendiri pernah jadi korban di lingkungan lain. Jadi, buat nutupin rasa minder atau ketidakberdayaan itu, mereka nyari orang yang dianggap 'lemah' buat dijadiin sasaran. Ini tuh semacam mekanisme pertahanan diri yang sangat buruk. Mereka ngerasa tinggi dengan cara narik orang lain biar jatuh ke bawah.
Selain itu, ada faktor lingkungan yang menganggap perilaku agresif itu keren. Lihat aja di film-film atau sinetron, karakter 'jagoan' seringkali digambarkan sebagai orang yang suka seenaknya sendiri. Tanpa sadar, anak-anak muda nangkep pesan kalau mau disegani, ya harus jadi dominan dan galak. Padahal, keren yang sebenernya itu kalau kita bisa ngerangkul orang, bisa jadi tempat cerita yang nyaman, dan punya empati tinggi. Bukan yang kalau lewat di koridor, semua orang langsung minggir karena takut kena semprot.
Dampaknya Nggak Sebercanda Itu
Jangan pernah ngeremehin dampak mental dari bullying. Ini bukan cuma soal sedih sesaat. Banyak korban yang akhirnya ngalamin trauma mendalam, gangguan kecemasan, sampai depresi klinis. Mereka jadi nggak pede buat bersosialisasi, prestasinya anjlok, dan yang paling parah, ada yang sampai ngerasa nggak berharga buat hidup lagi. Luka fisik mungkin bisa sembuh dalam hitungan hari, tapi luka di batin itu penyembuhannya bisa makan waktu bertahun-tahun, bahkan butuh bantuan profesional kayak psikolog.
Beberapa hal yang bisa mulai kita lakukan untuk mutus rantai bullying ini antara lain:
- Tingkatkan Empati: Coba posisikan diri kita di sepatu orang lain. Kalau kita digituin, rasanya gimana?
- Berani Bicara: Kalau kamu liat temen di-bully, jangan cuma jadi penonton. Support mereka, atau laporin ke pihak yang punya otoritas.
- Saring Sebelum Sharing: Di dunia maya, jempol kita harus lebih pinter dari emosi kita. Jangan gampang kemakan arus buat ngehujat orang.
- Bangun Lingkungan Positif: Mulai dari lingkaran pertemanan kecil kita, yuk hargai perbedaan. Nggak harus semua orang punya selera yang sama, kan?
Akhir kata, bullying itu bukan bagian dari pertumbuhan yang normal. Nggak ada ceritanya "ah, itu biar dia kuat di masa depan." Kuat itu dibangun dengan kasih sayang dan dukungan, bukan dengan tekanan dan hinaan. Kita semua punya peran buat bikin lingkungan sekitar jadi lebih manusiawi. Yuk, stop jadi jagoan neon yang cuma berani di keroyokan atau di balik layar gadget. Jadilah manusia yang beneran manusia, yang tahu cara memanusiakan orang lain. Karena pada akhirnya, kebaikan kita itu lebih diinget daripada berapa banyak orang yang takut sama kita.
Next News

Rahasia di Balik Kenikmatan Pete
in 5 hours

Cinta Berujung Mules, Kenapa Cabai Selalu Menang Melawan Lambung Kita?
in 4 hours

Rahasia Kenikmatan Ikan Asin dan Cara Hindari Zat Formalin
4 hours ago

Mudik Lancar Tanpa Drama: Tips Atasi Anak Mabuk Kendaraan
4 hours ago

Merasa Sepi Meski Dikelilingi Banyak Orang? Ini Tanda Kamu Mungkin Tidak Punya Teman Dekat
4 hours ago

Suka Bawa Lip Balm ke Mana-Mana? Bisa Jadi Kamu Punya 11 Karakter Kepribadian Ini
4 hours ago

7 Cara Cepat Tidur Nyenyak Tanpa Obat, Cocok untuk Kamu yang Sering Susah Terlelap
4 hours ago

Krisis Cermin di Usia 40: Ketika Rambut Mulai Berubah dan Punya "Kehendak Sendiri"
4 hours ago

Cara Membuat Tubuh Segar Saat Bangun Pagi
a day ago

Dampak Gadget terhadap Perkembangan Otak Anak
a day ago





