Mengenal Cocopet: Benarkah Serangga Ini Suka Masuk ke Telinga?
Laila - Sunday, 10 May 2026 | 05:25 PM


Benarkah Cocopet Hobi Masuk Telinga dan Makan Otak? Mengupas Mitos Si Serangga Penjepit yang Sering Difitnah
Pernahkah kalian lagi asyik rebahan di lantai atau tidur di kamar yang agak lembap, tiba-tiba diingatkan sama orang tua, "Awas, jangan tidur sembarangan, nanti ada cocopet masuk kuping terus makan otak!"? Kalimat sakti ini biasanya sukses bikin kita langsung loncat dan pindah ke kasur yang lebih tinggi, atau minimal menutup telinga rapat-rapat pakai bantal. Bayangan serangga kecil dengan capit tajam di pantatnya merangkak masuk ke lubang telinga dan berpesta di dalam kepala memang terdengar seperti skenario film horor kelas B yang sangat mengerikan.
Cocopet, atau dalam bahasa Inggris disebut earwig, memang punya reputasi yang agak kurang mengenakkan di telinga (secara harfiah maupun kiasan). Namanya saja sudah mengandung kata "ear" (telinga) dan "wig" (yang konon berasal dari kata kuno berarti serangga). Namun, apakah benar serangga yang satu ini punya hobi ekstrem masuk ke telinga manusia dan punya agenda tersembunyi untuk merusak otak kita? Mari kita bedah satu-satu biar kalian nggak parno lagi pas ketemu hewan mungil ini di kamar mandi atau kebun belakang rumah.
Asal-usul Nama yang Bikin Salah Paham
Mari kita mulai dari akar masalahnya: nama. Nama "earwig" dalam bahasa Inggris memang jadi biang kerok ketakutan global. Ada mitos tua di Eropa yang menyebutkan kalau serangga ini hobi banget masuk ke telinga orang yang sedang tidur, lalu bertelur di sana, dan yang paling lebay menggali jalan menuju otak. Di Indonesia, nama cocopet mungkin nggak terdengar sehoror earwig, tapi ceritanya tetap sama seremnya.
Secara ilmiah, cocopet masuk dalam ordo Dermaptera. Nama ini berasal dari bahasa Yunani, "derma" yang berarti kulit dan "ptera" yang berarti sayap. Memang mereka punya sayap yang tipis seperti kulit, meskipun mereka lebih sering terlihat lari-lari di tanah daripada terbang. Lantas, kenapa disebut earwig? Ada teori yang bilang karena bentuk sayap belakangnya kalau direntangkan mirip banget sama telinga manusia. Jadi, bukan karena mereka hobi nongkrong di telinga kita, tapi karena bentuk anatomi mereka sendiri yang "mirip" telinga. Kasihan ya, kena fitnah gara-gara bentuk tubuh sendiri.
Apakah Mereka Benar-Benar Masuk Telinga?
Jawabannya: Bisa saja, tapi sangat jarang dan itu murni kecelakaan. Begini logikanya, cocopet itu makhluk yang suka tempat gelap, sempit, dan lembap. Bagi seekor cocopet yang lagi nyari tempat sembunyi pas matahari terbit, lubang telinga manusia yang sedang tidur di lantai mungkin terlihat seperti "gua" yang nyaman dan privat. Tapi ingat, ini bukan cuma berlaku buat cocopet. Semut, kecoa kecil, atau bahkan laba-laba juga bisa saja nggak sengaja masuk ke telinga kalau situasinya memungkinkan.
Jadi, anggapan bahwa mereka punya insting khusus untuk mencari telinga manusia itu salah besar. Mereka nggak punya urusan sama kita. Manusia bukan mangsa mereka, bukan juga inang untuk telur-telur mereka. Mereka lebih memilih bersembunyi di bawah pot bunga, di balik kulit kayu, atau di tumpukan baju kotor yang lembap di pojokan kamar kalian (nah, ini baru peringatan buat yang malas cuci baju!).
Mitos Makan Otak: Antara Imajinasi dan Realita Medis
Nah, ini bagian yang paling bikin merinding tapi paling nggak masuk akal. Katanya cocopet bisa menembus gendang telinga lalu menuju otak. Mari kita mikir jernih sejenak. Telinga manusia itu punya sistem pertahanan. Ada kotoran telinga (earwax) yang pahit dan lengket, yang fungsinya memang buat menjebak debu dan serangga nakal. Kalaupun ada cocopet yang nekat masuk, dia bakal kesusahan gara-gara zat lengket ini.
Selain itu, gendang telinga kita itu adalah membran yang cukup kuat. Dan yang paling penting: di balik telinga itu ada tulang tengkorak yang sangat keras! Cocopet nggak punya alat bor atau gergaji mesin di kepalanya buat melubangi tulang manusia. Capit di pantatnya? Itu cuma buat pamer atau alat pertahanan diri dari serangga lain, bukan buat nge-hack otak manusia. Jadi, secara medis dan biologis, mustahil bagi cocopet untuk sampai ke otak, apalagi sampai memakannya. Mereka itu pemakan segalanya (omnivora), tapi menu favorit mereka adalah daun-daunan, bunga, atau serangga kecil lainnya, bukan sel saraf manusia.
Capitnya Bahaya Nggak Sih?
Banyak orang takut sama cocopet karena melihat capit di ujung perutnya yang disebut cerci. Bentuknya emang intimidatif banget, kayak tang penjepit mini. Fungsinya buat apa? Buat menangkap mangsa, buat alat pertahanan diri kalau merasa terancam, dan ternyata buat membantu mereka melipat sayapnya yang super tipis itu setelah terbang.
Kalau kalian iseng megang cocopet, mereka mungkin bakal mencoba menjepit jari kalian. Rasanya? Ya kayak dicubit pelan saja, nggak sampai bikin berdarah-darah apalagi beracun. Mereka nggak punya kelenjar racun yang membahayakan manusia. Jadi, kalau kalian melihat cocopet, nggak usah heboh sampai panggil pemadam kebakaran. Cukup disapu atau dipindahkan pakai tisu saja.
Lalu, Bagaimana Kalau Ada Serangga Masuk Telinga?
Meskipun cocopet nggak makan otak, punya sesuatu yang bergerak-gerak di dalam telinga itu rasanya pasti nggak enak banget dan bikin panik. Kalau hal ini terjadi pada kalian (entah itu cocopet atau serangga lain), jangan pernah mencoba mengoreknya pakai cotton bud atau lidi. Itu malah bakal bikin si serangga makin masuk ke dalam atau malah menusuk gendang telinga kalian.
Cara paling aman adalah dengan meneteskan sedikit minyak zaitun atau minyak bayi (baby oil) ke dalam telinga untuk mematikan serangga tersebut agar dia nggak meronta-ronta di dalam. Setelah itu, segera ke dokter THT untuk dikeluarkan secara profesional. Ingat, kuncinya jangan panik dan jangan sok tahu pakai alat macam-macam.
Berdamai dengan Si Penjepit
Cocopet sebenarnya adalah bagian penting dari ekosistem. Mereka membantu menguraikan bahan organik dan bahkan membantu petani dengan memakan hama tanaman. Ketakutan kita selama ini hanyalah hasil dari "urban legend" yang turun-temurun dan bumbu-bumbu horor yang nggak berdasar. Mereka nggak butuh otak kita; mereka cuma butuh tempat gelap buat tidur siang.
Jadi, mulai sekarang, kalau ada yang bilang cocopet bisa merusak otak, kalian bisa dengan santai menjawab, "Ah, itu mah mitos zaman penjajahan!" Tapi ya tetap saja, jaga kebersihan kamar dan jangan tidur di lantai tanpa alas, bukan cuma gara-gara cocopet, tapi biar punggung nggak encok dan nggak digigit semut. Mari kita kasih kesempatan buat cocopet hidup tenang di habitatnya tanpa perlu kita fitnah macam-macam lagi.
Next News

Waspada Ikan Berformalin! Simak Cara Memilih Ikan yang Benar
in 6 hours

5 Trik Rahasia Lepaskan Permen Karet dari Pakaian dalam Sekejap
in 6 hours

Sering Nyeri Saat BAB? Waspada Ambeyen Bandel Mulai Menyerang
in 5 hours

Sejarah Singkat Uang: Alasan Kertas Berwarna Bisa Dipakai Belanja
in 5 hours

Mitos atau Fakta: Air Panas Lebih Cepat Jadi Es Batu?
in 5 hours

Mengapa Otak Manusia Lebih Cepat Memproses Visual Dibanding Teks?
in 5 hours

Mitos atau Fakta: Garam Bisa Bikin Nanas Tidak Gatal di Lidah
in 5 hours

Rahasia Hairstylist: Pilih Potongan Rambut Sesuai Bentuk Wajah
in 4 hours

Kenali Bentuk Tubuhmu: Panduan Memilih Gaya Pakaian agar Tampil Lebih Percaya Diri
in 2 hours

Tak Hanya Main Air, Ini 7 Manfaat Berenang untuk Tumbuh Kembang Anak
in an hour





