Senin, 1 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengenal Buah Mangrove, Buah Unik dari Hutan Bakau

Liaa - Monday, 01 June 2026 | 10:35 AM

Background
Mengenal Buah Mangrove, Buah Unik dari Hutan Bakau

Bukan Cuma Penahan Abrasi, Kenalan Yuk sama Buah Mangrove yang Ternyata Bisa Dimakan

Pernah nggak sih kalian main ke kawasan hutan bakau alias mangrove, terus merasa takjub sama akarnya yang ribet tapi estetik? Biasanya, kita ke sana cuma buat jalan-jalan di atas jembatan kayu, foto-foto buat stok konten Instagram, atau sekadar menghirup udara yang (katanya) lebih bersih. Tapi, jujurly, pernah nggak kalian iseng mendongak ke atas dan memperhatikan kalau pohon-pohon itu punya buah yang bentuknya unik-unik banget?

Selama ini, narasi soal mangrove biasanya nggak jauh-jauh dari urusan lingkungan hidup, kayak penahan abrasi, pelindung pesisir, sampai rumah buat kepiting dan udang. Padahal, di balik perannya yang heroik menjaga bumi, mangrove ini punya "harta karun" kuliner yang tersembunyi. Yap, buah mangrove! Tapi jangan dibayangkan kayak buah apel atau jeruk yang bisa langsung dipetik terus hap. Buah mangrove punya kepribadian yang agak keras, mirip-mirip gebetan yang butuh perjuangan ekstra buat didekati.

Eksotisme Buah yang Sering Diabaikan

Buat yang belum tahu, buah mangrove itu jenisnya banyak banget, sebanyak janji manis kampanye. Ada yang bentuknya panjang kayak cerutu, ada yang bulat mirip bola pingpong, sampai ada yang bentuknya unik kayak kelopak bunga yang tertutup. Kalau kalian mampir ke daerah pesisir yang masyarakatnya sudah "melek" potensi lokal, buah-buah ini nggak cuma dibiarin jatuh ke lumpur, tapi disulap jadi berbagai olahan yang gokil rasanya.

Ambil contoh buah Lindur (Bruguiera gymnorrhiza). Bentuknya panjang-panjang, sekilas kayak kacang polong raksasa atau cerutu hijau yang menggantung. Di tangan kreatif warga lokal, Lindur ini bisa diproses jadi tepung. Nah, tepung inilah yang nantinya jadi bahan dasar buat bikin kue, dodol, sampai kerupuk. Rasanya? Ada sensasi gurih dan tekstur yang beda dari tepung terigu biasa. Vibes-nya tuh kayak makan makanan tradisional tapi dengan sentuhan "wild" dari alam liar.

Si Pidada yang Asem-Asem Seger

Terus ada lagi primadona lainnya, yaitu buah Pidada (Sonneratia). Buah ini bentuknya bulat, bagian bawahnya ada kelopak yang keras, mirip kayak mahkota. Kalau kalian nemu pohon ini, biasanya baunya agak menyengat tapi unik. Pidada ini punya rasa yang dominan asam segar. Bayangin siang-siang bolong pas lagi panas-panasnya di pantai, terus kalian minum sirup buah pidada dingin. Wah, itu sih self-reward paling hakiki!



Nggak cuma dibikin sirup, buah Pidada juga sering dijadikan selai atau campuran sambal. Bayangkan pedasnya cabai ketemu sama asam segernya buah mangrove. Ini tipe rasa yang nggak bakal kalian temuin di supermarket tengah kota. Rasanya tuh kayak ada ledakan kejutan di lidah yang bikin kita mikir, "Kok bisa ya buah dari hutan berlumpur rasanya seenak ini?"

Proses Panjang di Balik Kelezatannya

Tapi ingat ya, jangan sok ide langsung makan buah mangrove pas lagi trekking di hutan bakau. Kebanyakan buah mangrove mengandung zat tanin yang tinggi, yang kalau dimakan langsung rasanya bakal sepet banget, atau malah bisa bikin perut kalian kaget. Mengolah buah mangrove itu butuh kesabaran ekstra, hampir mirip kayak nungguin balasan chat dari dia yang cuma di-read doang.

Buah-buah ini biasanya harus direbus berkali-kali, direndam di air mengalir selama berjam-jam (bahkan ada yang berhari-hari), tujuannya buat menghilangkan rasa pahit dan kandungan racun alaminya. Setelah melewati proses "skincare" yang panjang itu, barulah buahnya siap diolah jadi makanan lezat. Jadi, ada filosofi tersendiri di sini: sesuatu yang bermanfaat itu emang butuh proses yang nggak instan.

Lebih dari Sekadar Urusan Perut

Mengenal buah mangrove sebenarnya membuka mata kita kalau hutan bakau itu bukan sekadar "pagar hijau". Potensi ekonominya gede banget buat masyarakat pesisir. Bayangkan kalau produk olahan buah mangrove ini makin naik kelas dan masuk ke kafe-kafe hits di kota besar. Selain membantu ekonomi lokal, ini juga jadi cara keren buat promosi pelestarian alam.

Gini lho, kalau orang-orang tahu kalau pohon mangrove itu menghasilkan buah yang enak dan laku dijual, otomatis mereka bakal lebih semangat buat jaga hutannya. Nggak ada lagi tuh kepikiran buat nebang pohon mangrove demi kayu bakar atau sekadar alih fungsi lahan jadi tambak secara serampangan. Ini yang namanya simbiosis mutualisme antara manusia dan alam dalam versi yang paling nikmat.



Kesimpulan: Yuk, Lebih Peka sama Sekitar!

Jadi, buat kalian yang hobi jalan-jalan, yuk sesekali mulai perhatiin hal-hal kecil di sekitar. Jangan cuma fokus nyari angle foto yang pas buat feed, tapi coba tanya ke warga lokal atau pemandu, "Eh, ini buah apa ya? Bisa dimakan nggak?". Siapa tahu kalian malah dapet pengalaman kuliner baru yang belum pernah dirasain sebelumnya.

Buah mangrove adalah bukti kalau alam selalu punya cara buat ngasih kejutan. Di balik lumpur yang bau dan nyamuk-nyamuk nakal yang hobi gigit saat kita masuk ke hutan bakau, ada kekayaan rasa yang luar biasa. Mengenal buah mangrove bukan cuma soal mengenal jenis makanan baru, tapi soal menghargai keberagaman hayati yang kita punya.

Lain kali kalau kalian minum sirup atau makan dodol mangrove, ingatlah kalau kalian baru saja mencicipi hasil dari ketangguhan pohon yang sanggup hidup di tengah asinnya air laut. Keren, kan? Tetap jaga kebersihan ya pas main ke hutan bakau, biar anak cucu kita masih bisa ngerasain asem segernya buah pidada di masa depan!