Jumat, 10 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Pelangi Punya Warna-warni Cantik? Ternyata Bukan Sekadar Mejikuhibiniu Belaka

RAU - Friday, 10 April 2026 | 09:25 AM

Background
Mengapa Pelangi Punya Warna-warni Cantik? Ternyata Bukan Sekadar Mejikuhibiniu Belaka

Mengapa Pelangi Punya Warna-warni Cantik? Ternyata Bukan Sekadar Mejikuhibiniu Belaka

Bayangkan situasinya begini: lo lagi asyik neduh di teras minimarket karena hujan deras yang nggak kunjung reda. Hati sudah dongkol karena jemuran di rumah pasti basah kuyup. Tapi tiba-tiba, begitu gerimis mulai tipis, matahari nongol malu-malu dan di cakrawala muncul busur warna-warni yang bikin semua orang mendadak jadi fotografer dadakan. Yep, itulah pelangi.

Dari zaman kita masih ingusan di bangku TK, kita sudah dicekoki hafalan sakral "Mejikuhibiniu"—Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu. Tapi pernah nggak sih lo kepikiran, kenapa warnanya harus itu? Kenapa nggak ada warna hitam atau cokelat di sana? Dan kenapa urutannya selalu konsisten, nggak pernah tertukar kayak antrean sembako? Kalau lo pikir itu cuma keajaiban alam yang terjadi begitu saja, lo benar sebagian, tapi ada sains yang lumayan ribet sekaligus keren di baliknya.

Pertemuan Tak Sengaja Antara Air dan Cahaya

Secara teknis, pelangi itu adalah sebuah ilusi optik. Dia bukan benda padat yang bisa lo sentuh, apalagi lo panjat kayak di dongeng-dongeng lama. Pelangi muncul karena ada fenomena fisika yang namanya pembiasan (refraksi), pemantulan (refleksi), dan penguraian cahaya (dispersi). Bahan bakunya cuma dua: cahaya matahari dan butiran air hujan.

Begini cara kerjanya. Cahaya matahari yang kita lihat warnanya putih itu sebenarnya adalah "tim sukses" yang terdiri dari berbagai macam warna. Ketika cahaya putih ini masuk ke dalam butiran air hujan, dia nggak cuma lewat begitu saja. Cahaya itu dibelokkan (dibiaskan) saat masuk ke air, lalu terpantul di dinding bagian dalam tetesan air, dan dibiaskan lagi saat keluar. Nah, di saat itulah cahaya putih tadi "pecah" jadi warna-warni yang kita kenal.

Kenapa bisa pecah? Karena setiap warna punya panjang gelombang yang berbeda-beda. Si merah adalah tipe yang santai, panjang gelombangnya paling besar, jadi dia nggak terlalu banyak dibelokkan. Sebaliknya, warna ungu itu tipenya "grasak-grusuk", panjang gelombangnya pendek, sehingga dia dibelokkan paling tajam. Makanya, kalau lo perhatikan, merah selalu ada di lengkungan paling luar, sementara ungu mendekam di bagian paling dalam. Urutan ini nggak pernah nego, sudah kontrak mati sama alam semesta.



Si Jenius Isaac Newton dan Obsesinya pada Angka Tujuh

Kalau kita bicara soal warna pelangi, kita harus sungkem dulu sama Isaac Newton. Orang pintar satu ini yang pertama kali membuktikan lewat eksperimen prisma bahwa cahaya putih itu sebenarnya kumpulan warna. Tapi ada fakta unik nih: sebenarnya transisi warna di pelangi itu nggak kaku. Itu adalah spektrum yang menyambung terus tanpa batas. Harusnya ada jutaan warna di sana kalau kita mau jujur.

Lalu kenapa kita cuma bilang ada tujuh warna? Ternyata, Newton itu agak sedikit "terobsesi" dengan estetika dan numerologi. Dia merasa angka tujuh itu angka yang sempurna—sama kayak jumlah hari dalam seminggu atau jumlah nada dalam skala musik (do, re, mi, dst). Supaya pas jadi tujuh, dia menambahkan warna "Indigo" atau nila di antara biru dan ungu. Padahal kalau kita lihat pakai mata telanjang sekarang, membedakan biru tua dan nila itu susah banget, kan? Jadi, pembagian tujuh warna itu sebenarnya lebih ke keputusan kreatif daripada fakta fisik yang kaku.

Kenapa Pelangi Melengkung, Nggak Kotak Saja?

Pernah nggak lo bertanya-tapa, kenapa bentuknya selalu busur? Padahal kan hujan turunnya berantakan di mana-mana. Jawabannya berkaitan dengan sudut pandang mata kita. Tetesan air hujan yang bisa memantulkan pelangi ke mata lo itu harus berada pada sudut tertentu terhadap matahari—tepatnya sekitar 42 derajat.

Semua tetesan air yang berada di sudut 42 derajat dari posisi lo akan membentuk sebuah lingkaran penuh. Lho, kok lingkaran? Iya, sebenarnya pelangi itu bentuknya lingkaran sempurna kalau lo lihat dari pesawat atau puncak gunung yang sangat tinggi. Tapi karena kita biasanya berdiri di atas tanah yang datar, sebagian lingkaran itu terpotong oleh garis cakrawala. Jadilah kita cuma melihat bentuk lengkungan alias busur. Jadi kalau ada yang bilang mau mencari ujung pelangi buat dapet sepeti emas, ya wassalam, lo nggak akan pernah nemu ujungnya karena dia bakal terus geser mengikuti gerakan mata lo.

Sebuah Pesan dari Langit

Di balik semua rumus fisika yang bikin pusing itu, pelangi tetap punya sisi romantis tersendiri. Di tengah gempuran berita politik yang bikin stres atau timeline media sosial yang penuh drama, melihat pelangi itu kayak dapet "pelukan" singkat dari alam. Dia mengingatkan kita bahwa hal-hal paling indah di dunia ini seringkali gratis, meski cuma lewat sebentar.



Fenomena ini juga mengajarkan kita soal perspektif. Lo nggak akan bisa melihat pelangi kalau lo membelakangi matahari atau kalau posisi lo nggak pas. Hidup juga kadang gitu, kan? Sesuatu yang indah mungkin sudah ada di depan mata, kita cuma perlu memposisikan diri di sudut yang tepat untuk bisa menikmatinya.

Jadi, lain kali kalau lo melihat pelangi setelah badai melanda, jangan cuma sibuk cari filter Instagram yang pas. Coba deh diam sebentar, perhatikan urutan warnanya, dan ingat betapa hebatnya butiran air kecil di udara bisa membedah cahaya sedemikian rupa. Sains itu nggak selalu kaku dan ngebosenin; terkadang dia justru menjelaskan kenapa dunia kita bisa seestetik ini tanpa perlu bantuan aplikasi edit foto.