Sabtu, 27 Juni 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Mengapa Es Mengapung di Atas Air?

Laila - Saturday, 27 June 2026 | 11:25 AM

Background
Mengapa Es Mengapung di Atas Air?

Kenapa Sih Es Batu Nggak Tenggelam? Rahasia di Balik Es Teh Manis yang Selalu Aesthetic

Bayangkan skenario ini: Siang bolong, matahari lagi galak-galaknya di atas kepala, dan kamu lagi nongkrong di warteg langganan. Kamu memesan segelas es teh manis plastik yang embunnya sudah mulai menetes cantik di pinggiran gelas. Pas kamu perhatikan baik-baik, ada satu fenomena yang saking biasanya sampai kita sering lupa buat mempertanyakannya. Kenapa sih itu bongkahan es batu selalu nangkring dengan santainya di permukaan air? Kenapa dia nggak tenggelam saja ke dasar gelas bareng sisa-sisa gula yang belum teraduk?

Kalau kita pakai logika fisika dasar yang biasa kita pelajari di sekolah, benda padat itu idealnya lebih berat atau lebih padat daripada bentuk cairnya. Besi padat kalau ditaruh di atas besi cair ya bakal tenggelam. Emas padat juga bakal nyungsep di dalam emas cair. Tapi air? Air ini emang spesies yang berbeda. Dia kayak anak indie yang nggak mau ikut arus alias punya aturan sendiri. Fenomena ini bukan cuma soal estetika minuman kita biar kelihatan segar di Instagram Story, tapi ada alasan sains yang sebenarnya cukup mind-blowing kalau kita bedah pelan-pelan.

Anomali Air: Si Rebel yang Melawan Hukum Alam

Dalam dunia kimia dan fisika, air itu sering disebut sebagai zat yang anomali. Biasanya, hampir semua zat di alam semesta ini bakal menyusut dan jadi lebih padat saat suhunya mendingin. Molekul-molekulnya bakal merapat, pelukan makin kencang karena kedinginan, dan akhirnya volumenya mengecil. Tapi air punya plot twist. Saat suhunya turun menuju titik beku (sekitar 4 derajat Celcius), dia bukannya makin rapat, malah justru mulai "pamer jarak".

Di sinilah letak keunikannya. Saat air berubah jadi es, molekul-molekul H2O yang tadinya lari-larian nggak beraturan pas masih cair, tiba-tiba memutuskan untuk membentuk formasi yang rapi banget. Formasi ini namanya kisi kristal heksagonal. Bayangkan kayak sekelompok orang yang tadinya desak-desakan di konser, terus tiba-tiba disuruh baris dengan jarak satu meter antar orang. Otomatis, area yang mereka tempati jadi lebih luas, kan? Nah, itulah yang terjadi pada es. Karena volumenya membesar tapi beratnya (massanya) tetap sama, maka massa jenis es jadi lebih kecil daripada air cair. Hukum alamnya simpel: yang lebih ringan (secara massa jenis) bakal mengapung. Sesimpel itu, tapi efeknya luar biasa buat kehidupan kita.

Analogi Kondangan dan Jaga Jarak

Biar lebih gampang dibayangkan, coba kita pakai analogi tongkrongan. Bayangkan molekul air itu kayak orang-orang yang lagi di dalam lift yang penuh. Semuanya dempet-dempetan, bebas bergerak geser sana-sini, tapi ruang yang tersisa dikit banget. Ini adalah fase cair. Begitu suhu turun dan air mulai membeku, orang-orang di dalam lift ini tiba-tiba jadi baperan dan nggak mau bersentuhan. Mereka merentangkan tangan kuat-kuat supaya nggak ada yang mendekat. Karena semua orang merentangkan tangan, otomatis liftnya jadi terasa sesak atau bahkan butuh lift yang lebih gede buat menampung jumlah orang yang sama.



Ikatan hidrogen di dalam air adalah "tangan-tangan" yang menjaga jarak itu. Saat jadi es, ikatan hidrogen ini jadi kaku dan menciptakan rongga-rongga kosong di tengahnya. Rongga-rongga inilah yang bikin es batu jadi lebih "low profile" alias nggak sepadat air cair. Makanya, kalau kamu naruh botol air mineral penuh di dalam freezer, seringkali botolnya bakal kembung atau malah pecah. Itu karena si air lagi "pamer kekuatan" dengan menambah volumenya saat dia berubah jadi es.

Kenapa Ini Penting? (Bukan Cuma Soal Minuman)

Mungkin kamu mikir, "Ya elah, emang kenapa kalau es tenggelam? Paling es teh gue cuma kelihatan beda aja." Wah, jangan salah. Kalau es batu punya sifat kayak benda lain yang tenggelam saat memadat, dunia kita bakal kacau balau. Bayangkan kalau es di kutub utara atau selatan itu tenggelam. Begitu laut membeku, esnya jatuh ke dasar. Terus membeku lagi, jatuh lagi. Lama-lama, seluruh samudra bakal penuh dengan es dari bawah ke atas.

Kalau itu terjadi, semua ikan dan makhluk laut bakal terjepit dan mati kedinginan. Lautan nggak akan pernah mencair sepenuhnya karena matahari nggak bisa menjangkau dasar samudra yang dalam. Akibatnya? Bumi bakal jadi bola salju raksasa yang nggak bisa dihuni. Jadi, sifat es yang mengapung ini sebenarnya adalah salah satu alasan kenapa kita masih bisa hidup dan makan sushi hari ini. Es yang mengapung di permukaan laut justru berfungsi sebagai "selimut" yang menjaga suhu air di bawahnya tetap hangat (relatif ya, nggak sehangat air jahe juga) supaya kehidupan di bawah sana tetap bisa bertahan selama musim dingin.

Keajaiban Kecil di Balik Gelas Kita

Kadang kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi sampai lupa kalau hal-hal kecil seperti es batu yang mengapung adalah keajaiban fisika yang presisi banget. Tanpa sifat "pembangkang" dari air ini, ekosistem planet kita bakal hancur lebur. Air mengajarkan kita bahwa menjadi berbeda—menjadi anomali—nggak selamanya buruk. Terkadang, dengan tidak mengikuti aturan umum (seperti menyusut saat dingin), air justru menyelamatkan seluruh kehidupan.

Jadi, lain kali kalau kamu lagi nongkrong dan melihat es batu di gelasmu, kasih sedikit apresiasi buat si molekul H2O itu. Dia lagi kerja keras menjaga jarak supaya nggak tenggelam dan secara nggak langsung mengingatkan kita bahwa alam semesta ini punya cara yang puitis buat bekerja. Lagipula, es yang mengapung itu emang lebih enak dipandang, kan? Kalau esnya tenggelam, kita bakal susah buat gigit-gigit es batu di akhir minuman—sebuah hobi yang mungkin dibenci dokter gigi, tapi sangat memuaskan buat kaum gabut seperti kita.



Kesimpulannya, es mengapung karena dia lebih "longgar" susunannya dibanding air cair. Dia memilih untuk mengembang saat kedinginan, sebuah keputusan yang melawan arus tapi sangat krusial. Sains ternyata nggak selalu membosankan kayak buku teks di perpustakaan sekolah, terkadang dia hadir dalam bentuk segelas minuman dingin di tengah hari yang panas.