Sabtu, 19 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Media Sosial dan Kesehatan Mental, Saat Kebiasaan Scroll Mulai Memengaruhi Suasana Hati

Liaa - Saturday, 19 September 2026 | 09:28 AM

Background
Media Sosial dan Kesehatan Mental, Saat Kebiasaan Scroll Mulai Memengaruhi Suasana Hati

Media Sosial Sudah Menjadi Bagian dari Keseharian

Membuka media sosial sering kali menjadi kegiatan yang dilakukan hampir tanpa disadari. Saat bangun tidur, menunggu sesuatu, beristirahat, bahkan sebelum tidur, seseorang bisa menghabiskan waktu dengan melihat berbagai unggahan di layar.

Awalnya mungkin hanya ingin memeriksa satu atau dua informasi. Namun, fitur video pendek, rekomendasi konten, dan sistem gulir tanpa akhir membuat seseorang mudah terus melihat konten berikutnya.

Kebiasaan tersebut tidak selalu menjadi masalah. Media sosial juga memiliki banyak manfaat, seperti menjaga hubungan dengan orang lain, mencari informasi, mengikuti perkembangan tertentu, hingga menjadi sarana hiburan.

Persoalan dapat muncul ketika penggunaan media sosial mulai sulit dikendalikan dan memengaruhi aktivitas maupun kondisi emosional sehari-hari.

Dari Hiburan Bisa Berubah Menjadi Pemicu Emosi

Tidak semua konten yang muncul di media sosial memberikan perasaan menyenangkan. Dalam beberapa menit, seseorang bisa melihat konten lucu, berita yang membuat cemas, kehidupan orang lain yang terlihat sempurna, hingga komentar yang memicu emosi.



Perubahan suasana hati yang cepat tersebut dapat membuat pengalaman menggunakan media sosial terasa melelahkan.

Seseorang mungkin awalnya membuka aplikasi untuk mencari hiburan, tetapi setelah beberapa lama justru merasa sedih, kesal, iri, cemas, atau tidak puas dengan kehidupannya sendiri.

Kebiasaan Membandingkan Diri

Salah satu hal yang sering terjadi ketika menggunakan media sosial adalah membandingkan kehidupan pribadi dengan apa yang ditampilkan orang lain.

Foto liburan, pencapaian pekerjaan, hubungan romantis, rumah, penampilan, hingga gaya hidup sering terlihat lebih menarik ketika ditampilkan dalam bentuk unggahan yang sudah dipilih dan diedit.

Masalahnya, pengguna bisa lupa bahwa media sosial umumnya hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.



Membandingkan kehidupan nyata dengan potongan terbaik kehidupan orang lain dapat membuat seseorang merasa tertinggal atau kurang beruntung, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.

Scroll Tanpa Tujuan Bisa Membuat Waktu Berlalu

Pernah berniat membuka media sosial selama beberapa menit tetapi akhirnya menghabiskan waktu jauh lebih lama?

Hal tersebut cukup mudah terjadi karena banyak platform dirancang untuk membuat pengguna terus menemukan konten baru.

Jika menjadi kebiasaan, waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur, beristirahat, belajar, bekerja, berolahraga, atau berinteraksi secara langsung bisa berkurang.

Kurangnya waktu istirahat dan aktivitas lain pada akhirnya juga dapat berpengaruh terhadap kondisi tubuh dan suasana hati.



Perhatikan Perasaan Setelah Bermain Media Sosial

Salah satu cara sederhana untuk mengevaluasi kebiasaan menggunakan media sosial adalah memperhatikan kondisi diri setelah selesai scrolling.

Apakah merasa lebih rileks atau justru semakin lelah? Apakah merasa terhibur atau malah membandingkan diri dengan orang lain? Apakah penggunaan media sosial membuat pekerjaan tertunda?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang memahami apakah kebiasaan scrolling masih berada dalam batas yang nyaman atau sudah mulai mengganggu keseharian.

Cara Membuat Penggunaan Media Sosial Lebih Sehat

Tidak selalu harus berhenti total dari media sosial. Penggunaan yang lebih teratur dapat menjadi langkah awal.

Salah satunya dengan menentukan waktu tertentu untuk membuka media sosial dan menghindari kebiasaan memeriksa aplikasi setiap beberapa menit.



Pengguna juga dapat memilih akun yang ingin diikuti. Jika suatu konten terus membuat tidak nyaman, merasa rendah diri, atau memicu kecemasan, mengurangi paparan terhadap konten tersebut dapat menjadi pilihan.

Selain itu, luangkan waktu untuk melakukan kegiatan tanpa layar, seperti berjalan kaki, membaca, berolahraga, berbicara dengan keluarga, atau sekadar beristirahat.

Media Sosial Bukan Satu-Satunya Penentu Suasana Hati

Perasaan sedih, cemas, mudah marah, atau kehilangan motivasi tentu tidak selalu disebabkan oleh media sosial. Banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi emosional, termasuk tekanan pekerjaan, hubungan sosial, masalah keluarga, kurang tidur, dan berbagai situasi kehidupan.

Karena itu, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa setiap perubahan suasana hati disebabkan oleh kebiasaan scrolling.

Namun, jika seseorang merasa penggunaan media sosial semakin sulit dikendalikan dan mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, atau keseharian, hal tersebut layak diperhatikan.



Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya. Menyadari kapan harus berhenti scrolling dan kembali menjalani aktivitas di dunia nyata dapat membantu menciptakan kebiasaan digital yang lebih seimbang.