Komentar di Internet Bisa Berdampak Besar, Mengapa Kita Harus Lebih Bijak?
Laila - Wednesday, 26 August 2026 | 12:00 AM


Jempolmu, Harimaumu: Kenapa Kita Harus Mikir Dua Kali Sebelum Ngetik di Internet?
Pernah nggak sih, kamu lagi asyik-asyik scrolling Instagram atau X (yang dulunya Twitter itu) sambil rebahan, terus nemu satu postingan yang bikin darah tinggi mendadak naik? Entah itu berita politik, drama selebgram yang nggak habis-habis, atau sekadar opini orang tentang bubur ayam yang diaduk vs nggak diaduk. Rasanya jari-jari udah gatal banget pengen ngetik sesuatu yang pedas, sarkas, atau syukur-syukur bisa bikin si pembuat postingan kena mental. Selamat, kamu baru saja merasakan dorongan purba manusia di era digital: gatal pengen berkomentar.
Masalahnya, banyak dari kita yang sering lupa kalau kolom komentar itu bukan sekadar ruang hampa. Di balik layar gadget yang dingin itu, ada manusia beneran yang punya perasaan, punya keluarga, dan punya batas kesabaran. Pepatah lama bilang "Mulutmu, Harimaumu", tapi di zaman sekarang, peribahasa itu sudah berevolusi jadi "Jempolmu, Harimaumu". Satu kalimat pendek yang kita ketik sambil buang air besar di toilet, bisa jadi beban pikiran orang lain selama berhari-hari. Bayangin deh, betapa besarnya kekuatan jempol kita ini.
Kenapa sih kita jadi gampang banget nge-gas di internet? Secara psikologis, ada yang namanya online disinhibition effect. Intinya, karena kita nggak tatap muka langsung sama lawan bicara, kita merasa punya tameng pelindung. Kita merasa anonim, merasa nggak akan kena konsekuensi fisik, dan akhirnya keberanian kita naik 200 persen. Di dunia nyata, mungkin kita bakal senyum sopan kalau beda pendapat. Tapi di kolom komentar? Wah, keluar semua tuh kebun binatang dan kamus umpatan yang paling kreatif sekalipun.
Dampak yang Lebih dari Sekadar Tulisan
Mungkin buat kita yang ngetik, komentar jahat itu cuma masalah "ah, kan cuma bercanda" atau "dia kan publik figur, harusnya siap dikritik dong". Tapi realitanya nggak sesederhana itu. Komentar negatif yang masif bisa berdampak sangat serius bagi kesehatan mental seseorang. Sudah banyak kasus di luar sana, bahkan di Indonesia sendiri, di mana orang sampai depresi atau melakukan tindakan ekstrem hanya gara-gara rundungan di media sosial. Ingat, setiap orang punya daya tahan yang beda-beda. Apa yang menurutmu lucu, bisa jadi luka yang dalam buat orang lain.
Selain ke orang lain, dampaknya juga balik ke diri kita sendiri. Sekarang ini, jejak digital itu lebih kejam daripada mantan yang belum bayar utang. HRD perusahaan zaman sekarang nggak cuma liat CV atau nilai IPK kamu doang, lho. Mereka bakal "stalking" akun media sosialmu. Kalau isinya cuma marah-marah, suka ngetik kasar, atau sering nyebarin hoax, ya wassalam. Karir impian bisa melayang cuma gara-gara satu dua komentar nggak bermutu yang kamu ketik lima tahun lalu.
Belum lagi urusan hukum. Di Indonesia ada UU ITE yang, meski sering dianggap kontroversial, tetap saja bisa menjerat siapa pun yang nggak hati-hati. Ngetik asal bunyi atau memfitnah orang di internet bisa bikin kamu berakhir di balik jeruji besi atau minimal harus bayar denda yang jumlahnya nggak main-main. Daripada uangnya habis buat bayar pengacara atau denda, mending buat beli kuota atau traktar gebetan, kan?
Algoritma yang Haus Keributan
Lucunya, platform media sosial itu sendiri kadang kayak "kompor". Algoritma mereka didesain supaya kita terus berinteraksi. Dan tahu nggak interaksi apa yang paling kencang? Ya, kemarahan dan perdebatan. Semakin banyak orang berantem di kolom komentar, semakin naik engagement postingan tersebut. Secara nggak sadar, kita cuma jadi "bahan bakar" buat perusahaan teknologi besar supaya mereka makin kaya, sementara kita sendiri makin stres dan penuh kebencian.
Kita sering terjebak dalam echo chamber atau ruang gema, di mana kita cuma mau denger apa yang pengen kita denger. Begitu ada suara beda dikit, langsung kita serang. Padahal, internet awalnya diciptakan untuk menghubungkan manusia dan berbagi ilmu, bukan buat jadi arena gladiator virtual. Kalau kita terus-terusan memelihara budaya komentar beracun, ya jangan kaget kalau ruang digital kita makin hari makin sumpek dan nggak sehat.
Gimana Caranya Jadi Netizen yang Lebih Bijak?
Terus, apa kita nggak boleh berpendapat sama sekali? Ya boleh dong, namanya juga demokrasi digital. Tapi ada seninya. Sebelum jempolmu mulai menari di atas layar, coba deh pakai rumus "T-H-I-N-K" yang legendaris itu. Is it True? (Apakah ini benar/bukan hoax?), Is it Helpful? (Apakah ini membantu orang lain?), Is it Inspiring? (Apakah ini menginspirasi?), Is it Necessary? (Apakah ini perlu disampaikan?), dan yang paling penting, Is it Kind? (Apakah ini baik?).
Kalau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu banyak "enggak"-nya, mending urungkan niat buat ngetik. Tarik napas dalam-dalam, taruh HP-mu, dan mungkin cari kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Nggak semua hal di dunia ini butuh opini kamu saat itu juga. Kadang, diam adalah bentuk kecerdasan paling tinggi di internet.
Kita juga perlu belajar empati digital. Coba bayangin kalau posisi dibalik, kamu yang dikomentarin kayak gitu, gimana rasanya? Kalau rasanya nggak enak, ya jangan lakukan ke orang lain. Sesederhana itu. Kita nggak perlu jadi orang suci buat jadi orang baik di internet. Cukup jadi manusia yang punya sedikit rasa tenggang rasa.
Akhir kata, internet itu cerminan dari masyarakat kita. Kalau isinya penuh makian, berarti ada yang salah dengan cara kita berkomunikasi. Yuk, mulai dari diri sendiri. Jadi netizen yang kritis boleh, tapi jadi netizen yang nyinyir dan toxic itu udah nggak zaman. Mari kita bikin kolom komentar jadi tempat yang asyik buat diskusi, berbagi tawa, atau sekadar kasih semangat. Jempolmu itu punya kekuatan besar, pakailah buat menyebarkan sesuatu yang positif, bukan buat menjatuhkan orang lain.
Next News

Mengapa Kebiasaan Makan Bersama Keluarga Perlu Dipertahankan?
6 hours ago

Mengapa Suara Hujan di Atap Rumah Terasa Begitu Menenangkan?
6 hours ago

Benda Lama di Rumah yang Diam-Diam Menyimpan Banyak Cerita
6 hours ago

Belanja Online Mengubah Kebiasaan, Apa yang Terjadi pada Toko Konvensional?
6 hours ago

Kenapa Kita Bisa Mengingat Wajah tetapi Lupa Nama?
6 hours ago

Hewan Liar Makin Sering Masuk Permukiman, Apa Penyebabnya?
6 hours ago

Suhu Terasa Semakin Panas, Mengapa Perubahan Cuaca Begitu Terasa di Kota?
6 hours ago

Kenapa Kita Terus Scrolling Meski Tidak Ada yang Dicari?
6 hours ago

Jejak Digital Makin Panjang, Apa yang Perlu Kita Waspadai?
6 hours ago

Hidup di Era Serba Cepat: Mengapa Kita Semakin Sulit Meluangkan Waktu?
6 hours ago





