Kenapa Kita Terus Scrolling Meski Tidak Ada yang Dicari?
Laila - Wednesday, 26 August 2026 | 12:00 AM


Kenapa Kita Terus Scrolling Meski Tidak Ada yang Dicari?
Bayangkan skenario ini: Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Lo sudah sikat gigi, sudah pakai skincare, dan sudah rebahan nyaman di balik selimut. Niatnya cuma satu, yaitu mengecek jam atau mungkin sekadar melihat apakah ada pesan WhatsApp penting yang masuk sebelum memejamkan mata. Tapi, entah bagaimana ceritanya, satu jam kemudian lo malah sedang menonton video orang India membangun kolam renang di tengah hutan atau menyimak thread Twitter tentang drama tetangga yang nggak ada hubungannya sama hidup lo.
Pernah mengalami itu? Tenang, lo nggak sendirian. Fenomena ini sudah jadi "penyakit" massal di era digital. Kita menyebutnya doomscrolling atau mindless scrolling. Pertanyaannya, kenapa jempol kita seolah punya nyawa sendiri dan nggak mau berhenti mengusap layar, padahal otak kita sendiri sudah teriak kalau ini sudah lewat jam tidur?
Dopamin: 'Zat Adiktif' di Ujung Jari
Alasan pertama kenapa kita susah berhenti adalah urusan kimiawi di otak, namanya dopamin. Banyak orang salah kaprah menganggap dopamin adalah hormon kebahagiaan. Padahal, fungsi utamanya bukan cuma bikin senang, tapi soal antisipasi atau rasa penasaran terhadap hadiah. Di media sosial, "hadiah" itu wujudnya macam-macam: like, komentar, foto estetik, atau video lucu.
Sistem algoritma media sosial dirancang mirip dengan mesin slot di kasino. Lo nggak pernah tahu apa yang bakal muncul di postingan selanjutnya. Bisa jadi konten yang biasa saja, tapi bisa jadi konten yang bikin lo tertawa ngakak atau dapet info diskon gede-gedean. Ketidakpastian inilah yang bikin otak kita terus-terusan menagih. Kita terus scrolling karena kita berharap ada "kejutan" menyenangkan di postingan berikutnya. Satu scroll lagi, siapa tahu ada yang seru. Satu scroll lagi, mungkin ada gosip baru. Begitu terus sampai tahu-tahu matahari hampir terbit.
Hilangnya 'Stopping Cue' atau Tanda Berhenti
Zaman dulu, kalau kita baca koran atau majalah, ada titik di mana kita harus berhenti: yaitu halaman terakhir. Kalau nonton TV, ada jeda iklan atau acaranya selesai. Itulah yang disebut stopping cue atau tanda untuk berhenti sejenak. Nah, masalahnya, di era TikTok, Instagram, dan Twitter, tanda berhenti itu sengaja dihilangkan.
Fitur infinite scroll yang diciptakan oleh Aza Raskin (yang kabarnya dia sendiri sekarang menyesal telah menciptakannya) membuat konten mengalir tanpa henti. Begitu lo sampai di bawah, konten baru otomatis dimuat. Nggak ada jeda bagi otak untuk berpikir, "Oke, sudah cukup." Tanpa hambatan fisik seperti menekan tombol 'Next Page', otak kita jadi malas untuk mengambil keputusan berhenti. Kita jadi seperti robot yang diprogram untuk terus mengonsumsi informasi tanpa henti.
Pelarian dari Realita yang Membosankan
Jujur saja, banyak dari kita scrolling bukan karena butuh informasi, tapi karena lagi "gabut" atau malas menghadapi pikiran sendiri. Saat kita merasa cemas, kesepian, atau sekadar bosan menunggu antrean kopi, smartphone jadi penyelamat instan. Scrolling memberikan distraksi yang murah dan mudah.
Sayangnya, ini sering kali jadi bumerang. Kita niatnya mau menghilangkan stres dengan lihat-lihat konten, eh malah berakhir makin stres karena melihat pencapaian orang lain yang tampak lebih wah alias kena sindrom FOMO (Fear of Missing Out). Kita terjebak dalam siklus: merasa kurang, lalu scrolling buat cari hiburan, lalu merasa makin kurang karena banding-bandingin hidup sama influencer. Capek, kan?
Revenge Bedtime Procrastination
Ada satu istilah menarik yang sering dialami kaum pekerja atau mahasiswa yang sibuk seharian: Revenge Bedtime Procrastination. Ini adalah fenomena di mana seseorang sengaja menunda tidur karena merasa nggak punya kendali atas waktu mereka di siang hari. Karena dari pagi sampai sore sudah habis buat kerja atau kuliah, mereka merasa "berhak" untuk punya waktu pribadi di malam hari.
Masalahnya, waktu pribadi itu sering kali dihabiskan dengan scrolling nggak jelas. Kita merasa kalau langsung tidur, berarti hari itu selesai dan besok harus menghadapi rutinitas yang membosankan lagi. Jadi, scrolling adalah cara kita melakukan "balas dendam" demi mendapatkan rasa kendali atas hidup, meskipun taruhannya adalah mata panda dan badan lemas di keesokan harinya.
Lalu, Gimana Caranya Supaya Nggak Jadi 'Zombie' Layar?
Menghentikan kebiasaan ini memang nggak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi lawan kita adalah algoritma yang dirancang oleh ribuan insinyur paling pintar di Silicon Valley. Tapi, bukan berarti nggak bisa. Salah satu triknya adalah menciptakan hambatan buatan. Misalnya, hapus aplikasi yang paling bikin lo kecanduan, atau atur mode layar jadi hitam putih (grayscale). Saat layar nggak lagi warna-warni, otak kita nggak bakal seantusias itu buat memandangi layar.
Cara lain yang cukup ampuh adalah dengan menaruh HP jauh dari tempat tidur. Beli jam weker fisik supaya lo nggak punya alasan buat cek HP pas baru bangun atau mau tidur. Ingat, internet itu luas banget, lo nggak bakal pernah bisa menyelesaikan "baca" internet dalam satu malam. Dunia nggak bakal kiamat cuma karena lo ketinggalan satu thread viral atau satu video dance TikTok yang lagi tren.
Pada akhirnya, teknologi harusnya jadi alat buat bantu hidup kita, bukan malah kita yang jadi alat buat memperkaya statistik aplikasi mereka. Jadi, setelah baca artikel ini, coba deh taruh HP-nya, tarik napas dalam-dalam, dan lihat ke sekeliling. Mungkin ada buku yang belum selesai dibaca, atau mungkin tubuh lo cuma butuh tidur nyenyak tanpa gangguan cahaya biru layar.
Next News

Mengapa Kebiasaan Makan Bersama Keluarga Perlu Dipertahankan?
6 hours ago

Mengapa Suara Hujan di Atap Rumah Terasa Begitu Menenangkan?
6 hours ago

Benda Lama di Rumah yang Diam-Diam Menyimpan Banyak Cerita
6 hours ago

Belanja Online Mengubah Kebiasaan, Apa yang Terjadi pada Toko Konvensional?
6 hours ago

Komentar di Internet Bisa Berdampak Besar, Mengapa Kita Harus Lebih Bijak?
6 hours ago

Kenapa Kita Bisa Mengingat Wajah tetapi Lupa Nama?
6 hours ago

Hewan Liar Makin Sering Masuk Permukiman, Apa Penyebabnya?
6 hours ago

Suhu Terasa Semakin Panas, Mengapa Perubahan Cuaca Begitu Terasa di Kota?
6 hours ago

Jejak Digital Makin Panjang, Apa yang Perlu Kita Waspadai?
6 hours ago

Hidup di Era Serba Cepat: Mengapa Kita Semakin Sulit Meluangkan Waktu?
6 hours ago





