Kamis, 10 September 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Tenggorokan Bisa Sakit Setelah Banyak Bicara? Ternyata Ini Penyebabnya

Tata - Thursday, 03 September 2026 | 06:45 PM

Background
Kenapa Tenggorokan Bisa Sakit Setelah Banyak Bicara? Ternyata Ini Penyebabnya

Curhat Leher Gempor: Alasan Kenapa Cerewet Itu Ada Harganya

Pernah nggak sih lo ngerasa, setelah seharian maraton Zoom meeting atau habis sesi curhat intens bareng bestie selama tiga jam, tiba-tiba tenggorokan berasa kayak habis diamplas? Rasanya kering, gatal, dan kalau buat nelan ludah aja kayak ada yang ngeganjel. Kondisi ini sering banget kita anggap remeh, paling cuma bilang, "Ah, haus doang ini." Tapi sebenarnya, fenomena "tenggorokan gempor" setelah banyak bicara itu punya penjelasan ilmiah yang cukup masuk akal, sekaligus jadi alarm dari tubuh kalau kita udah melampaui batas kuota kata-kata harian.

Mari kita bayangkan pita suara kita itu kayak senar gitar. Bedanya, senar gitar terbuat dari baja atau nilon, sementara pita suara kita adalah lipatan otot halus yang dilapisi selaput lendir. Pas kita ngomong, udara dari paru-paru dipaksa keluar melewati pita suara ini, bikin mereka bergetar ratusan kali per detik buat menghasilkan suara. Nah, masalahnya, getaran ini bukan tanpa gesekan. Bayangin aja kalau lo tepuk tangan seribu kali dalam semenit, tangan lo pasti bakal merah dan terasa panas, kan? Kurang lebih, itulah yang terjadi di dalam leher lo pas lo lagi asik ngerumpiin plot twist drakor terbaru.

Mekanisme di Balik Suara Serak

Secara teknis, rasa nggak nyaman itu muncul karena adanya iritasi atau peradangan ringan pada pita suara yang disebut laringitis. Pas kita bicara terlalu banyak atau terlalu keras (apalagi kalau sambil teriak-teriak di konser), pita suara kita bakal saling beradu dengan tenaga ekstra. Gesekan yang berlebihan ini bikin jaringan di sana jadi bengkak dan merah. Kalau sudah begini, getaran yang dihasilkan nggak akan selaras lagi, makanya suara lo berubah jadi serak atau malah hilang sama sekali alias loss voice.

Selain soal gesekan fisik, ada faktor kelembapan yang krusial banget. Saat kita ngomong terus-menerus, mulut kita cenderung lebih sering terbuka. Udara yang masuk lewat mulut itu biasanya lebih kering dibanding udara yang disaring lewat hidung. Hasilnya? Cairan pelumas alias mukus yang bertugas menjaga pita suara tetap licin bakal menguap lebih cepat. Tanpa pelumas yang cukup, gesekan antar pita suara jadi makin kasar. Ini persis kayak mesin motor yang dipaksa jalan tapi olinya kering. Panas, bro!

Otot Leher Juga Bisa "Kram"

Jangan salah, yang kerja keras pas kita ngomong itu bukan cuma pita suara doang. Ada sekumpulan otot di sekitar leher dan tenggorokan yang ikut tegang buat mengatur nada dan volume suara kita. Kalau lo tipe orang yang ngomongnya pakai urat atau sering memaksakan suara biar kedengeran di ruangan yang berisik, otot-otot ini bakal mengalami kelelahan alias muscle fatigue.



Kondisi ini sering disebut sebagai ketegangan otot laring. Gejalanya ya itu tadi, rasa pegal di area leher, rasa seperti ada yang tersangkut di tenggorokan (globus sensation), sampai rasa nyeri yang menjalar ke telinga. Jadi, kalau leher lo berasa kaku setelah seharian presentasi di depan klien, itu tandanya otot-otot leher lo lagi protes minta dipijat atau minimal diistirahatkan dari aktivitas vokal.

Faktor Lingkungan: AC dan Kopi Adalah Musuh Tersembunyi

Kadang, bukan cuma durasi bicara kita yang salah, tapi lingkungannya juga nggak mendukung. Anak kantor pasti paham banget rasanya duduk seharian di bawah semburan AC sentral yang dinginnya minta ampun. Udara AC itu kering banget, dan ini mempercepat proses dehidrasi di area tenggorokan. Belum lagi kalau gaya hidup lo didominasi oleh kopi hitam atau es kopi susu kekinian. Kafein itu sifatnya diuretik, yang artinya bikin tubuh lo lebih cepat buang air dan secara nggak langsung bikin jaringan mukosa di tenggorokan jadi lebih kering.

Gabungan antara banyak bicara, udara AC yang kering, dan kurang minum air putih adalah kombinasi maut buat kesehatan tenggorokan. Jadi, jangan heran kalau sore hari suara lo udah berubah jadi mirip penyanyi blues legendaris, padahal bakat nyanyi aja nggak punya.

Gimana Cara Ngatasinnya?

Terus, kalau emang tuntutan profesi atau tuntutan sosial (baca: hobi ghibah) bikin kita harus banyak bicara, masa kita harus diam seribu bahasa? Ya nggak juga, sih. Ada beberapa cara biar tenggorokan lo nggak makin menderita:

  • Vocal Rest: Ini cara paling ampuh tapi paling susah dilakuin. Kalau tenggorokan udah mulai nggak enak, ya berhenti ngomong. Jangan malah bisik-bisik, karena ternyata berbisik itu justru bikin pita suara bekerja lebih keras dan lebih tegang dibanding bicara biasa.
  • Hidrasi adalah Kunci: Minum air putih hangat sangat disarankan. Jangan cuma minum pas haus, tapi rutin tiap beberapa menit sekali buat menjaga kelembapan tenggorokan.
  • Hentikan Kebiasaan Mendehem: Banyak orang kalau tenggorokannya gatal suka mendehem (ehem-ehem) buat bersihin lendir. Padahal, mendehem itu kayak ngebenturin pita suara dengan keras. Mendingan minum air putih daripada mendehem terus.
  • Permen Pelega atau Madu: Madu punya sifat antibakteri dan bisa jadi pelapis alami buat tenggorokan yang lagi iritasi. Permen yang mengandung mentol atau lozenges juga bisa bantu menstimulasi produksi air liur.

Pada akhirnya, tenggorokan yang nggak nyaman setelah banyak bicara itu adalah cara tubuh bilang kalau lo butuh jeda. Kita hidup di dunia yang serba bising, di mana semua orang merasa harus terus bersuara biar didengar. Tapi ingat, pita suara lo bukan mesin yang bisa diganti onderdilnya di bengkel terdekat. Jadi, kalau leher sudah mulai protes, cobalah untuk ambil napas dalam-dalam, minum segelas air, dan nikmati keheningan sejenak. Kadang, diam itu nggak cuma emas, tapi juga obat paling mujarab buat tenggorokan yang lagi merana.