Hati-Hati! Tidak Semua Ikan Baik untuk Kesehatan, Ini Jenis yang Sebaiknya Dibatasi
Tata - Wednesday, 22 April 2026 | 07:20 PM


Hati-hati! Gak Semua Ikan Itu 'Sehat', Ini Daftar Ikan yang Sebaiknya Kamu Coret dari Menu Makan Malam
Siapa sih yang nggak suka makan ikan? Dari zaman sekolah kita sudah dijejali doktrin kalau ikan itu sumber protein nomor satu, kaya akan omega-3, dan bisa bikin otak makin encer. Belum lagi jargon legendaris "Tenggelamkan!" dari Ibu Susi Pudjiastuti yang bikin kita semua merasa berdosa kalau nggak makan ikan dalam seminggu. Tapi, tunggu dulu. Sebelum kamu kalap memesan seafood platter atau belanja stok ikan di pasar swalayan, ada satu kenyataan pahit yang harus kita telan: nggak semua ikan itu baik buat kesehatan kita, atau bahkan buat bumi ini.
Jujurly, di balik tampilannya yang menggoda saat sudah digoreng garing atau dibakar dengan bumbu kecap, beberapa jenis ikan menyimpan "rahasia gelap". Mulai dari kandungan merkuri yang bikin ngeri, proses budidaya yang kurang higienis, sampai masalah kelestarian alam yang makin kritis. Jadi, daripada niat sehat malah jadi apes, mending kita bahas tuntas ikan apa saja yang sebaiknya kamu hindari atau setidaknya jangan keseringan dikonsumsi.
1. Ikan dengan Kandungan Merkuri Tinggi: Si Predator Laut
Pernah dengar istilah bioakumulasi? Intinya begini, semakin besar dan semakin tua seekor ikan, semakin banyak "sampah" logam berat yang mereka kumpulkan di dalam tubuhnya karena memakan ikan-ikan kecil lainnya. Merkuri ini bukan merk raket badminton ya, tapi logam berat yang bisa merusak sistem saraf manusia.
Ikan seperti Hiu, Ikan Todak (Swordfish), dan King Mackerel adalah daftar teratas yang harus kamu waspadai. Hiu mungkin jarang muncul di meja makan rumahan, tapi di beberapa restoran kelas atas, siripnya masih dicari. Selain kejam karena proses shark finning-nya, daging hiu itu gudangnya merkuri. Begitu juga dengan King Mackerel (Makarel Raja) yang beda jauh kualitasnya dengan makarel kalengan yang biasa kamu beli di minimarket. Kalau sering makan ini, risiko gangguan perkembangan otak pada janin dan anak-anak itu nyata banget, gengs.
2. Ikan Buntal (Fugu): Taruhan Nyawa Demi Sepotong Daging
Kalau kamu penganut prinsip "life is a gamble", mungkin kamu penasaran sama ikan buntal atau Fugu. Di Jepang, ini dianggap makanan mewah. Tapi di balik teksturnya yang katanya kenyal enak, ada racun tetrodotoxin yang kekuatannya ribuan kali lebih mematikan daripada sianida. Gila nggak tuh?
Satu kesalahan kecil saat membuang bagian hati atau ovariumnya bisa bikin hidangan itu jadi santapan terakhir kamu. Di Indonesia, sering banget kita dengar berita satu keluarga keracunan setelah masak ikan buntal hasil pancingan sendiri. Kecuali kamu punya akses ke koki bersertifikat internasional yang sudah lulus ujian bertahun-tahun buat motong ikan ini, mendingan cari aman aja deh. Masih banyak ikan lain yang nggak butuh surat wasiat sebelum dimakan.
3. Tilapia (Nila) dari Budidaya yang Buruk
Nah, yang ini mungkin bakal bikin banyak orang kaget. Ikan nila atau Tilapia itu favorit sejuta umat karena harganya murah dan nggak terlalu amis. Tapi, ada catatan penting: sumbernya dari mana? Banyak ikan nila yang dibudidayakan secara masif di kolam yang terlalu padat. Hasilnya? Ikan-ikan ini sering diberi antibiotik berlebih supaya nggak gampang mati.
Selain itu, kadar asam lemak Omega-6 pada ikan nila budidaya tertentu jauh lebih tinggi dibanding Omega-3-nya. Bukannya menyehatkan jantung, terlalu banyak Omega-6 malah bisa memicu peradangan (inflamasi) di tubuh kalau dikonsumsi berlebihan. Jadi, kalau mau makan nila, pastikan kamu tahu kalau ikannya berasal dari kolam yang bersih dan dikelola dengan baik, bukan kolam "ajaib" yang airnya jarang diganti.
4. Ikan Dory "Palsu" alias Patin Impor
Pernah makan Fish and Chips yang dagingnya putih bersih, lembut, dan lumer di mulut? Banyak yang mengira itu ikan Dory asli (John Dory). Padahal, sebagian besar yang dijual di pasaran kita sebenarnya adalah ikan Patin (Pangasius). Masalahnya bukan pada jenis ikannya, tapi pada asal muasalnya.
Banyak fillet patin impor yang berasal dari sungai yang tingkat polusinya cukup tinggi. Belum lagi penggunaan bahan kimia pengawet (polifosfat) agar berat ikan tetap terjaga saat dibekukan. Kadang kita merasa beli fillet ikan yang tebal, eh pas dicairkan malah menyusut setengahnya karena isinya air semua. Mending cari ikan patin lokal yang segar atau ikan kembung sekalian yang jelas-jelas proteinnya juara.
5. Bluefin Tuna: Enak di Lidah, Sedih di Alam
Ikan Tuna Bluefin adalah primadona di meja sushi. Lemaknya yang lumer alias otoro itu memang juara dunia. Tapi secara etika dan lingkungan, mengonsumsi Bluefin Tuna itu sangat tidak disarankan. Kenapa? Karena populasinya sudah hampir punah akibat overfishing.
Ikan ini butuh waktu lama untuk tumbuh besar dan bereproduksi. Kalau kita terus-terusan mengonsumsinya demi konten mukbang atau gaya hidup mewah, bisa-bisa anak cucu kita cuma bisa lihat gambarnya doang di buku sejarah. Sebagai alternatif, kamu bisa pilih Skipjack Tuna (Cakalang) atau Albacore yang populasinya masih relatif lebih aman dan kandungan merkurinya lebih rendah dibanding si raksasa Bluefin.
6. Ikan yang Dipancing di Perairan Tercemar
Poin terakhir ini lebih ke arah observasi umum. Kita sering lihat orang memancing di sungai-sungai kota besar atau di dermaga pelabuhan yang airnya sudah sewarna kopi susu pekat. Ikan-ikan yang hidup di ekosistem seperti itu, misalnya ikan gabus atau lele liar di air tercemar, kemungkinan besar sudah terkontaminasi limbah industri dan logam berat.
Ikan adalah penyerap polutan yang sangat efisien. Jadi, kalau kamu hobi mancing, pastikan spot memancingmu itu bukan muara pembuangan limbah pabrik. Jangan sampai niat hati ingin makan ikan segar hasil tangkapan sendiri, malah berakhir di rumah sakit karena diare atau keracunan zat kimia.
Kesimpulannya?
Makan ikan itu wajib, tapi jadi konsumen yang cerdas itu jauh lebih wajib. Kita nggak perlu anti-ikan, tapi kita perlu memilah mana yang layak masuk ke perut dan mana yang sebaiknya dibiarkan berenang bebas (atau memang harus dihindari demi kesehatan). Pilih ikan lokal yang rantai pasokannya pendek, pilih ikan yang ukurannya nggak terlalu raksasa untuk meminimalisir merkuri, dan selalu cek kesegarannya.
Ingat, kesehatan kita adalah apa yang kita makan. Jadi, jangan biarkan piringmu jadi tempat penampungan merkuri atau zat berbahaya lainnya ya, gengs! Yuk, mulai sekarang lebih selektif lagi pilih menu seafood-mu.
Next News

Sayur Direbus, Dikukus, atau Ditumis: Mana yang Paling Sehat?
6 hours ago

Benarkah Tempe Bisa Menggantikan Protein dari Daging?
6 hours ago

Tahu vs Tempe, Mana yang Lebih Bergizi?
7 hours ago

Tanda Skin Barrier Rusak yang Sering Disalahartikan sebagai Kulit Kusam
7 hours ago

Sunscreen adalah Skincare Anti-Aging Terbaik.Ini Alasannya
8 hours ago

Dulu dari Batu, Kini Super Empuk: Sejarah Bantal yang Jarang Diketahui
8 hours ago

Kunci Punya Nyawa? Simak Alasan Benda Kecil Ini Suka Sembunyi
in 4 hours

Posisi Tidur dan Dampaknya pada Kesehatan Tubuh
8 hours ago

Kolagen: Lebih Efektif yang Diminum atau Dioles?
8 hours ago

Kenapa Umur 35 Kelihatan Lebih Muda dari Umur 20? Ini Alasannya
in 4 hours





