Jumat, 13 Maret 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Haruskah Memberi THR ke Keponakan Tiap Tahun? Ini Hal yang Perlu Dipertimbangkan

Tata - Friday, 13 March 2026 | 05:30 PM

Background
Haruskah Memberi THR ke Keponakan Tiap Tahun? Ini Hal yang Perlu Dipertimbangkan

Haruskah Memberi THR ke Keponakan Tiap Tahun? Ini Pertimbangannya

Lebaran sebentar lagi, dan aroma nastar sudah mulai tercium dari dapur rumah tetangga. Tapi, di balik euforia baju baru dan mudik yang melelahkan, ada satu momok yang sering menghantui para pekerja muda, kaum jomblo mapan, hingga pasangan baru: fenomena salam tempel atau THR untuk keponakan. Buat kamu yang baru saja merasakan manisnya gaji pertama atau mungkin sudah bertahun-tahun jadi donatur tetap di keluarga besar, pertanyaan ini pasti pernah terlintas: "Harus banget ya ngasih THR tiap tahun?"

Mari kita jujur-jujuran. Memberi THR itu sebenarnya adalah tradisi yang manis, tapi kalau dompet lagi tipis, urusannya bisa jadi krisis. Ada semacam tekanan sosial yang tak kasat mata saat kumpul keluarga. Begitu gerombolan bocil (bocah cilik) mendekat sambil salaman, mata mereka seolah-olah punya sensor otomatis yang bisa mendeteksi keberadaan amplop di kantong kita. Di satu sisi kita ingin jadi paman atau bibi yang keren, tapi di sisi lain, cicilan motor dan tabungan masa depan juga butuh perhatian. Yuk, kita bedah pertimbangannya secara santai tapi mendalam.

1. Kapasitas Dompet Adalah Koentji

Prinsip pertama yang harus dipegang teguh adalah jangan sampai niat berbagi malah bikin kamu rugi bandar. Memberi THR itu hukumnya sunnah alias bonus, bukan rukun iman. Kalau kondisi finansialmu lagi tidak bersahabat—mungkin habis kena PHK, lagi banyak utang, atau baru saja keluar biaya besar buat servis kendaraan—jangan memaksakan diri. Ingat, esensi Lebaran adalah silaturahmi, bukan ajang pamer nominal isi amplop.

Banyak dari kita yang terjebak dalam rasa gengsi. Takut dibilang pelit sama saudara atau takut dicibir sama orang tua. Padahal, yang tahu dapur kita ya kita sendiri. Kalau memang cuma sanggup kasih sepuluh ribu per anak, ya tidak apa-apa. Kalau memang lagi benar-benar kosong, ya tidak usah kasih sama sekali. Anak kecil biasanya bakal lupa dalam waktu lima menit setelah mereka dapat jajanan lain, jadi jangan biarkan rasa bersalah menghantui kamu sampai bulan Syawal berakhir.

2. Skala Prioritas dan "Kasta" Keponakan

Kedengarannya memang agak jahat, tapi dalam dunia persilatan THR, kita sering kali punya sistem ranking. Ada keponakan yang benar-benar dekat, sering main ke rumah, dan sopan. Ada juga keponakan yang setahun sekali baru ketemu, itu pun kalau dipanggil namanya dia cuma lari-larian sambil numpahin sirup ke karpet. Nah, di sini kamu boleh kok pakai sistem prioritas.



Nggak semua keponakan harus dapat nominal yang sama. Yang masih balita mungkin cukup dikasih uang kertas baru biar mereka senang lihat warnanya. Sementara yang sudah remaja dan mulai tahu harga skincare atau voucher game, mungkin butuh perhatian lebih (kalau kamu mampu). Tapi kalau jumlah keponakanmu sudah mencapai satu batalion, mungkin sistem "pukul rata" adalah jalan paling aman supaya tidak ada kecemburuan sosial di antara para bocil tersebut.

3. Edukasi Literasi Keuangan Sejak Dini

Pernah nggak sih kamu merasa kalau tradisi THR ini lama-lama cuma bikin anak kecil jadi "matre"? Begitu datang, belum juga duduk sudah tanya, "Mana THR-nya, Om?". Nah, ini bisa jadi pertimbanganmu untuk mengubah cara memberi. Daripada cuma kasih uang tunai yang langsung habis buat beli petasan atau top-up game online, kenapa tidak coba cara lain?

Beberapa orang mulai beralih memberikan hadiah berupa barang yang bermanfaat, seperti buku bacaan, alat tulis, atau bahkan membelikan mereka saham atau reksadana (kalau keponakannya sudah agak gede dan kamu memang punya budget lebih). Ini bukan cuma soal memberi uang, tapi juga soal mendidik mereka bahwa uang itu harus dikelola, bukan cuma dihabiskan dalam sekejap. Dengan begitu, kamu tidak sekadar jadi ATM berjalan, tapi juga jadi mentor finansial buat mereka.

4. Tekanan Sosial vs. Keikhlasan Hati

Mari kita bahas soal mentalitas "apa kata orang". Di Indonesia, ada budaya nggak enak hati yang sangat kuat. Kadang kita kasih THR bukan karena ingin, tapi karena takut dianggap tidak sukses. Padahal, sukses atau tidaknya seseorang tidak diukur dari berapa tebal amplop yang dibagikan saat Lebaran. Kadang, keponakan itu cuma butuh diajak main, didengerin ceritanya, atau dibelikan es krim bareng-bareng.

Kalau kamu merasa terbebani setiap kali Lebaran karena masalah THR, mungkin ini saatnya untuk mengatur ekspektasi keluarga. Komunikasi itu penting. Kamu bisa bicara santai kalau tahun ini lagi fokus buat hal lain. Keluarga yang baik pasti akan mengerti. Jangan sampai setelah Lebaran selesai, kamu malah makan mie instan sebulan penuh gara-gara kalap bagi-bagi uang ke semua orang di kampung halaman.



5. Alternatif Selain Uang Tunai

Kalau kamu merasa dompet lagi kempis tapi tetap ingin meninggalkan kesan baik, cobalah jadi kreatif. Kamu bisa bawa sekotak donat kekinian atau camilan yang lagi viral buat dimakan bareng-bareng keponakan. Biasanya, kebersamaan saat makan bareng itu jauh lebih berkesan daripada sekadar terima amplop lalu kabur. Atau, kamu bisa tawarkan pengalaman, misalnya mengajak mereka jalan-jalan ke taman kota atau sekadar nonton film bareng di rumah.

Ingat, yang paling penting dari hari raya adalah kembalinya kita ke fitrah dan mempererat tali persaudaraan. Uang THR hanyalah pelengkap, bumbu pemanis di tengah riuhnya suasana keluarga. Jangan sampai bumbu ini malah bikin masakan silaturahminya jadi pahit karena kamu stres sendiri.

Kesimpulannya, haruskah memberi THR tiap tahun? Jawabannya: tergantung. Kalau ada uangnya dan kamu ikhlas, silakan. Kalau tidak ada atau lagi pas-pasan, jangan dipaksakan. Keponakanmu tetap akan jadi keponakanmu meskipun kamu tidak kasih uang satu rupiah pun. Jadi, bernapaslah dengan lega, nikmati rendangmu, dan jangan terlalu pusing dengan urusan salam tempel. Selamat menyambut hari kemenangan dengan hati yang tenang dan dompet yang tetap aman!