Minggu, 26 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bukan Nikah, Ini Daftar Prioritas Utama Gen Z

Liaa - Sunday, 26 April 2026 | 12:00 PM

Background
Bukan Nikah, Ini Daftar Prioritas Utama Gen Z

Nikah Bukan Lagi Goal Utama: Kenapa Gen Z Lebih Pilih Kejar Cuan dan Healing?

Dulu, kalau sudah masuk usia 23 atau 25 tahun, pertanyaan keramat "Kapan nikah?" bakal menghantui setiap hajatan keluarga atau reuni sekolah. Seolah-olah, hidup itu ada checklist-nya: lulus kuliah, kerja sebentar, lalu pelaminan. Tapi, coba deh lihat sekeliling lo sekarang. Polanya sudah berubah total. Buat anak-anak kelahiran akhir 90-an sampai awal 2010-an alias Gen Z, pernikahan nggak lagi ada di urutan pertama daftar prioritas. Bahkan, mungkin posisinya tergeser jauh ke bawah, kalah saing sama keinginan punya tabungan tujuh digit atau tiket konser musisi favorit di luar negeri.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat atau rasa malas berkomitmen. Ada pergeseran paradigma yang cukup dalam. Bagi banyak Gen Z, pernikahan itu bukan lagi "garis finish" menuju kebahagiaan, melainkan sebuah pilihan hidup yang opsional. Kalau memang belum siap secara mental, apalagi finansial, ya mending nanti-nanti saja. Kenapa harus buru-buru kalau ujung-ujungnya malah jadi beban pikiran?

Ekonomi yang Nggak Ramah Kantong dan Prioritas Cuan

Mari kita bicara jujur-jujuran soal angka. Gen Z itu hidup di era di mana harga properti naik gila-gilaan tapi kenaikan gaji seringnya cuma seujung kuku. Bayangin, buat beli rumah tipe 36 di pinggiran kota saja perjuangannya sudah kayak mau naik haji. Belum lagi urusan kebutuhan pokok yang harganya makin nggak masuk akal. Dalam kondisi ekonomi yang menantang ini, ide untuk mengeluarkan ratusan juta rupiah hanya untuk pesta sehari yang isinya salaman sama saudara jauh yang nggak dikenal, rasanya kok agak kurang bijak, ya?

Banyak dari kita yang merasa lebih baik uangnya diputar buat modal usaha, investasi di saham atau kripto, atau sekadar buat dana darurat. Gen Z punya kesadaran finansial yang jauh lebih tajam dibanding generasi sebelumnya. Kita nggak mau terjebak dalam jebakan "nikah dulu, rezeki menyusul" tanpa persiapan matang. Istilahnya, mending mapan dulu secara mandiri daripada nanti pas sudah nikah malah jadi beban buat orang tua atau mertua. Kita lebih takut jadi sandwich generation baru daripada takut dibilang telat nikah.

Filosofi Self-Love: Bahagia Tanpa Perlu Validasi Pasangan

Selain urusan dompet, ada faktor psikologis yang kuat di sini. Gen Z tumbuh dengan narasi self-love dan mental health awareness. Kita diajarkan kalau sebelum mencintai orang lain, kita harus selesai dengan diri sendiri dulu. Kita pengen kenal diri kita lebih dalam, tahu apa hobi kita yang sebenarnya, dan menikmati kebebasan tanpa harus laporan ke siapa-siapa setiap 15 menit sekali.



Budaya "healing" yang sering disalahartikan sebenarnya punya esensi yang bagus: keinginan untuk menikmati hidup selagi muda. Kita pengen traveling, coba kopi di kafe-kafe estetik, nonton festival musik, atau sekadar staycation tanpa ada drama rumah tangga yang membayangi. Ada kepuasan tersendiri saat kita bisa beli barang impian pakai hasil keringat sendiri tanpa harus minta izin pasangan atau mikirin cicilan popok bayi. Bagi Gen Z, masa muda itu waktu untuk eksplorasi, bukan untuk langsung mengikat diri dalam komitmen seumur hidup yang berat banget tanggung jawabnya.

Trauma Generasi dan Standar Pasangan yang Makin Tinggi

Nggak bisa dimungkiri, banyak dari Gen Z yang tumbuh besar melihat betapa berantakannya hubungan pernikahan generasi di atas mereka. Perceraian, KDRT, atau sekadar pernikahan yang bertahan hanya karena "demi anak" tapi isinya penuh tekanan, bikin kita jadi lebih waspada. Kita nggak mau mengulangi kesalahan yang sama. Prinsipnya simpel: mending jomblo tapi bahagia daripada berdua tapi toxic.

Alhasil, standar mencari pasangan pun jadi makin tinggi. Nggak cuma sekadar ganteng atau cantik, tapi harus punya emotional intelligence yang bagus, paham soal green flag dan red flag, serta punya visi hidup yang sejalan. Kalau belum nemu yang bener-bener klik, ya sudah, mending fokus cari duit dulu. Kita lebih selektif karena kita sadar bahwa pernikahan itu marathon panjang, bukan sprint 100 meter.

Tekanan Sosial? Bodo Amat!

Dulu, omongan tetangga atau bibi-bibi di grup WhatsApp keluarga bisa bikin stres tujuh keliling. Tapi Gen Z punya pertahanan yang cukup kuat: rasa cuek yang hakiki. Kita sadar kalau hidup ini bukan buat menyenangkan orang lain. Kalau mereka tanya "Kapan nikah?", jawaban paling standar biasanya cuma senyum simpul atau bilang "Doain aja tabungannya penuh dulu."

Kita mulai menormalisasi kalau hidup setiap orang itu punya timeline-nya masing-masing. Si A mungkin nikah umur 21, tapi si B baru nemu belahan jiwa umur 35 setelah sukses jadi CEO. Dan itu nggak masalah. Media sosial memang sering bikin kita FOMO (Fear Of Missing Out), tapi di sisi lain, internet juga ngasih tahu kita kalau banyak orang hebat di luar sana yang tetap bersinar meski belum atau memilih tidak menikah.



Kesimpulan: Menunda Bukan Berarti Menolak

Pada akhirnya, keputusan Gen Z untuk menunda nikah bukanlah bentuk pemberontakan tanpa arah. Ini adalah bentuk adaptasi terhadap zaman yang sudah berubah. Kita ingin punya pondasi yang kuat—baik secara mental maupun finansial—sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius. Kita ingin memastikan kalau nanti kita menikah, itu karena kita memang ingin berbagi hidup, bukan karena terpaksa oleh umur atau tuntutan lingkungan.

Jadi, buat kalian yang masih ditanya-tanyain soal nikah padahal lagi asyik ngejar karier atau lagi seru-serunya eksplorasi diri, tenang aja. Kalian nggak sendirian. Fokus aja dulu buat bikin diri sendiri bangga. Karena pada akhirnya, versi terbaik dari diri kita adalah modal paling berharga, entah itu buat masa depan yang mandiri atau buat membangun rumah tangga nantinya. Cuan bisa dicari, diri sendiri harus disayangi, soal nikah? Biar waktu yang menjawab, asal jangan dipaksakan sekarang kalau memang belum siap.