Rabu, 4 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Flexing di Era Digital: Pamer Gemilang atau Tanda Ketimpangan?

Tata - Saturday, 31 January 2026 | 08:50 AM

Background
Flexing di Era Digital: Pamer Gemilang atau Tanda Ketimpangan?

Flexing dan Ketimpangan Sosial: Ketika Pamer Bukan Sekadar Gaya Hidup

Di era digital, "flexing" atau "pamer" telah menjadi hal yang begitu umum. Siapa saja, dari influencer dengan sepatu custom sampai orang biasa yang ngupload selfie di kamar miliknya, semua punya cerita untuk menonjolkan diri. Tapi, di balik glamor yang seringkali terasa ringan, ada sisi gelap yang seringkali terlewatkan: ketimpangan sosial. Ketika kita bicara soal pamer, kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa tidak semua orang punya akses yang sama untuk menunjukkan "keunggulan" mereka.

Flexing, Bukan Cuma Gaya Hidup

Gampangnya, flexing itu seperti "Show off" dalam bahasa Inggris. Di dunia nyata, pamer itu sudah lama ada—sejak masa pra-internet di mana kita memamerkan harta dengan mengadakan pesta besar. Namun, sekarang fleksinya menjadi lebih cepat, lebih visual, dan lebih terjangkau lewat media sosial. Foto mobil mewah, pakaian desainer, atau bahkan makanan "premium" bisa dibagikan dalam hitungan detik.

Namun, ada satu perbedaan penting: sekarang fleksinya bisa diakses oleh siapa saja yang punya smartphone dan koneksi internet. Ini membuat "pamer" menjadi bagian dari budaya sehari-hari, seringkali dikaitkan dengan status sosial dan kebanggaan pribadi. Tapi, apa yang terjadi ketika orang yang tidak memiliki sumber daya yang sama berusaha menyesuaikan diri? Apakah mereka akhirnya terjerat dalam perbandingan sosial yang merugikan?

Ketimpangan Sosial: Sebuah Lensa yang Terlupakan

Di balik glamor selfie, ada statistik yang menggeram. Menurut Badan Pusat Statistik, persentase pendapatan 1% teratas di Indonesia masih memegang lebih dari 30% total pendapatan negara. Sementara rata-rata keluarga miskin hanya memiliki sedikit, jika tidak ada, akses ke produk premium sama sekali tidak realistis.

Ketika seseorang yang berasal dari latar belakang ekonomi rendah mencoba "flexing", ia biasanya harus mengimpor barang mahal atau menggunakan jasa yang tidak terjangkau bagi mayoritas. Hasilnya, pamer itu terasa lebih "buruk" karena ia harus menanggung biaya yang lebih tinggi atau terpaksa meminjam.

Selain itu, media sosial seringkali menampilkan "filter" sosial. Kita melihat koleksi sepatu, jam tangan, dan gadget yang menakjubkan, namun di balik foto itu, tidak ada narasi tentang bagaimana orang yang tidak bisa mampu melihat atau memiliki barang tersebut. Akibatnya, konsumen baru dapat merasakan ketidaksetaraan yang lebih jelas.

Kenapa "Pamer" Bisa Menjadi Penyakit Sosial?

  • Komparasi Berlebihan - Saat kita melihat koleksi orang lain, kita cenderung menilai diri kita sendiri berdasarkan apa yang mereka tunjukkan. Ini dapat menyebabkan rasa tidak puas dan rendah diri.
  • Pengeluaran Berlebih - Untuk tetap "on trend", banyak orang memutuskan untuk mengeluarkan lebih banyak uang daripada anggaran yang sehat. Ini akhirnya dapat memicu hutang dan stres.
  • Ketergantungan pada Status Online - Nilai diri sering kali diukur lewat jumlah "likes" atau komentar. Ketika nilai ini turun, perasaan tidak aman bisa merambah ke kehidupan nyata.
  • Penguatan Ketidaksetaraan - Pamer juga menjadi cara menegaskan kelas sosial. Ini mempertegas perbedaan antara yang beruntung dan yang tidak, memperkuat hierarki sosial yang sudah ada.

Bagaimana Cara Menangani Flexing yang Sehat?

Berbeda dengan "pamer" tradisional yang menonjolkan status, "flexing" yang sehat lebih fokus pada pencapaian pribadi dan berbagi cerita inspiratif. Berikut beberapa cara yang bisa dipertimbangkan:

  1. Berbagi Cerita, Bukan Barang - Fokus pada pengalaman, perjalanan karir, atau passion yang membuat kita merasa bangga. Cerita itu lebih berarti dan bisa menginspirasi orang lain.
  2. Gunakan Platform Seperti Storytelling - Platform seperti TikTok atau Instagram bisa dimanfaatkan untuk mengangkat nilai-nilai sosial, seperti kebersamaan atau pelestarian lingkungan.
  3. Berbagi Pengalaman Bukan Hanya Pamer Barang - Misalnya, berbagi tips tentang cara memaksimalkan budget, atau tentang kebiasaan hemat.
  4. Konten Sosial - Memajang cerita tentang komunitas yang bekerja sama, program bantuan, atau kegiatan sosial yang menunjukkan bahwa kebahagiaan bisa datang tanpa harta.

Kesimpulan: Pamer, atau Menjadi Pencerahan?

Jadi, "flexing" itu bukan sekadar gaya hidup. Ia juga merupakan cerminan ketimpangan sosial yang masih melekat di masyarakat. Dengan kesadaran, kita bisa mengubah pamer menjadi wadah untuk berbagi inspirasi, bukan semata-mata menunjukkan kepemilikan. Di dunia yang semakin terhubung, kita punya kekuatan untuk menciptakan pergeseran nilai: bukan hanya "lihat lebih dulu, lalu beli", tapi lebih pada "lihat, belajar, dan berkontribusi".

Akhir kata, fleksinya tidak harus bersifat elit. Setiap orang, tak peduli latar belakangnya, bisa menjadi "flexer" yang inspiratif. Kita semua punya cerita unik. Jadikanlah cerita itu sebagai "flexing" terbaik, yang tidak hanya memperlihatkan apa yang kita miliki, tetapi juga siapa kita, serta bagaimana kita bisa membawa perubahan positif di sekitar kita.