Rabu, 4 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa 'Jam Koma' Jadi Viral di Media Sosial Indonesia

Tata - Wednesday, 04 February 2026 | 01:55 PM

Background
Kenapa 'Jam Koma' Jadi Viral di Media Sosial Indonesia

Di tengah riuhnya kehidupan sosial media, generasi muda Indonesia—yang tak jarang disebut Gen Z—memiliki kosakata unik yang selalu menggelitik hati orang tua. Salah satu istilah yang kini naik daun adalah "jam koma." Seperti namanya, "jam koma" terdengar agak kocak, bahkan agak agak asing bagi yang belum terbiasa. Namun bagi para remaja dan anak muda, istilah ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari slang mereka.

Makna Sejati "Jam Koma"

Jika dilihat dari arti harfiahnya, "jam" adalah perangkat yang menampilkan waktu, sementara "koma" mengacu pada keadaan tidak sadar. Kombinasi keduanya tidak berhubungan secara teknis. Apa yang terjadi? "Jam koma" menjadi metafora bagi momen di mana seseorang merasa "terhenti" atau "tidak bergerak" karena terpaku pada suatu hal. Sebagai contoh, ketika seseorang menemukan barang dengan harga super miring, mereka bisa bilang, "Iya, jam koma deh." Di sini, "jam koma" menyiratkan rasa terpesona, sampai bahkan seolah berada di zona mati.

Namun, seiring berjalannya waktu, makna ini meluas. "Jam koma" kini juga dipakai untuk mengekspresikan perasaan terjebak dalam rutinitas, seperti ketika pekerjaan, belajar, atau bahkan scrolling media sosial terasa tanpa akhir. Jadi, bisa dibilang "jam koma" mengekspresikan dua kondisi: terpesona sekaligus terjebak.

Asal‑Usulnya: Dari "JAM" ke "Jam Koma"

  • Eksperimen Bahasa: Gen Z terkenal suka memodifikasi kata. "Jam" yang biasa digunakan untuk menampilkan waktu, mereka pakai sebagai panggilan dalam percakapan informal.
  • Influencer dan Selebgram: Beberapa influencer TikTok dan Instagram mulai memakai frasa ini dalam caption atau komentar. Ketika suatu produk viral, mereka menyebutnya "jam koma" dan followers ikut mengikuti.
  • Game dan Meme: Di dunia game, "jam" sering dipakai untuk menandai event tertentu. Saat event tersebut sangat menguntungkan, gamer mulai memanggilnya "jam koma" dalam chat, menyiratkan betapa menguntungkannya event tersebut.

Seiring adopsi, istilah ini melengkapi tren "meme‑ing" generasi muda, di mana kata-kata singkat diubah maknanya menjadi lebih "luar biasa." Jadi, meskipun tampak sederhana, "jam koma" telah menempuh perjalanan panjang dari sekadar frasa casual menjadi simbol budaya online.

Bagaimana Gen Z Menggunakannya?

Setiap kali ada hal yang membuat mereka "terpesona," mereka mengeluarkan kata "jam koma." Contohnya:

  • Diskon Super Murah: "Beli baju ini, harganya cuma Rp10k, jam koma!"
  • Video Viral: "Video ini jam koma, guys. Semua orang udah nonton."
  • Situasi Tanpa Aksi: "Aku lagi nunggu pesan, jam koma."

Di platform seperti TikTok, orang-orang menggabungkan frasa ini dengan musik dan filter untuk menambah kesan dramatis. Bahkan, beberapa pengguna membuat "challenge" di mana mereka harus menulis caption "jam koma" sambil meniru pose tertentu. Semua ini menunjukkan betapa hidupnya bahasa Gen Z, tidak hanya berbicara, tapi juga menciptakan ritual baru.

Fenomena Media Sosial: Mengapa "Jam Koma" Menjadi Viral?

Berikut beberapa alasan mengapa istilah ini tak henti-hentinya muncul di feed:

  1. Keunikan: Istilah ini unik, tidak sering ditemukan dalam perbincangan sehari-hari. Kecanggihan semacam itu membuatnya mudah diingat.
  2. Kesederhanaan: Dalam satu kata, Gen Z bisa mengekspresikan dua makna sekaligus—kekaguman dan keterjebakan.
  3. Kemudahan Berbagi: "Jam koma" mudah dicatat di caption, komentar, atau emoji. Ini memudahkan orang untuk menyalin dan memodifikasi.
  4. Resonansi Emosional: Semua orang pernah merasakan momen "hanya saja….", jadi frasa ini mudah dipahami.

Berbagai platform pun merespons, baik dengan filter "jam koma" di Instagram maupun hashtag #jamkoma yang sering dipakai dalam postingan tentang produk diskon, acara khusus, atau situasi emosional.

Dampak Sosial dan Budaya

Fenomena "jam koma" bukan sekadar kosakata baru; ia menandai perubahan cara berkomunikasi. Berikut beberapa dampaknya:

  • Identitas Kolektif: Penggunaan istilah ini menegaskan ikatan antara anggota Gen Z. Mereka merasakan "kebersamaan" melalui slang bersama.
  • Marketing Kreatif: Brand-brand kini sering mengadopsi istilah ini sebagai bagian dari kampanye mereka. Misalnya, "Promo jam koma: diskon 50% hanya 24 jam."
  • Komunikasi Nonverbal: Karena makna ganda, frasa ini sering berfungsi sebagai alat pengintai emosi. Misalnya, di grup chat, "jam koma" bisa berarti sedang bosan atau sedang nunggu sesuatu.
  • Perubahan Perilaku Konsumer: Momen "jam koma" sering kali memicu keputusan beli cepat, terutama saat menemukan diskon. Hal ini berdampak pada tren belanja online.

Kesimpulan: "Jam Koma" sebagai Bahasa Gen Z

Intinya, "jam koma" adalah cerminan evolusi bahasa Gen Z yang cepat dan fleksibel. Dari semacam frasa casual, ia berkembang menjadi simbol budaya yang menyiratkan rasa terpesona sekaligus terjebak. Baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari‑hari, "jam koma" menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya mengikuti tren, tapi juga menciptakan tren baru yang tak terduga. Jika Anda belum terjun ke dalam fenomena ini, coba dengarkan teman-teman Gen Z saat mereka mengatakan, "Jam koma!" dan rasakan sendiri sensasinya. Karena di balik kata sederhana itu, tersembunyi semangat, ketertarikan, dan kebersamaan generasi yang tak pernah berhenti terinspirasi.