Sabtu, 4 April 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Demam Burrata di Bali: Dari Tren Instagram hingga Simbol Gaya Hidup Kuliner

Tata - Saturday, 04 April 2026 | 09:35 AM

Background
Demam Burrata di Bali: Dari Tren Instagram hingga Simbol Gaya Hidup Kuliner

Obsesi Baru Anak Senja dan Foodies di Bali: Kenapa Burrata Ada di Mana-mana?

Kalau kalian main ke Bali belakangan ini, coba deh perhatikan buku menu di kafe-kafe hits daerah Canggu, Pererenan, atau Ubud. Ada satu nama yang sepertinya absennya jarang banget, bahkan hampir menyalip popularitas Avocado Toast yang legendaris itu. Namanya adalah Burrata. Si bola putih mulus yang kalau dibelah isinya lumer kayak rahasia yang nggak sengaja bocor di grup WhatsApp.

Awalnya, saya pikir ini cuma tren musiman. Biasalah, dunia kuliner kita kan emang suka banget sama yang estetik-estetik. Tapi ternyata, burrata di Bali bukan sekadar penghias feeds Instagram. Keberadaannya sudah jadi semacam "standar wajib" kalau sebuah resto mau dianggap punya selera kelas atas atau setidaknya mengikuti arus kekinian. Tapi pertanyaannya, kenapa harus burrata? Dan kenapa Bali seolah-olah jadi pusat "pemujaan" keju asal Italia ini di Indonesia?

Bukan Sekadar Mozzarella Biasa

Banyak orang yang masih tertukar antara burrata dan mozzarella. Padahal, kalau diibaratkan karakter film, mozzarella itu kayak pemeran utama yang tangguh dan solid, sementara burrata adalah versi yang lebih emosional, lembut, dan punya "isi" di dalamnya. Secara teknis, burrata memang terbuat dari mozzarella, tapi bagian tengahnya diisi dengan krim dan potongan keju lembut yang disebut stracciatella.

Sensasi membelah burrata itu memuaskan banget, beneran. Ada kepuasan tersendiri saat pisau kita menyentuh kulit luarnya yang elastis, lalu—pussst—isi krimnya mengalir keluar perlahan. Di Bali, ritual membelah burrata ini sudah jadi konten wajib. Kalau belum di-slow motion sambil dipasangin lagu indie yang syahdu, rasanya makan burrata belum sah. Inilah alasan pertama kenapa burrata menang banyak: dia sangat "Instagrammable" sekaligus menawarkan pengalaman sensorik yang nggak didapat dari keju lembaran supermarket.

Produksi Lokal yang Bikin Harga Masuk Akal

Salah satu alasan kenapa burrata menjamur di Bali adalah karena ketersediaannya yang melimpah dari produsen lokal. Dulu, keju-keju premium begini harus impor dari Italia, yang mana harganya bisa bikin dompet menangis dan kondisinya seringkali sudah nggak segar lagi pas sampai di dapur. Tapi sekarang? Bali punya beberapa produsen keju artisan yang kualitasnya nggak main-main.



Sebut saja nama-nama seperti Bali Dairy atau beberapa pengrajin keju rumahan di area Bedugul yang memanfaatkan susu sapi lokal berkualitas tinggi. Karena diproduksi di pulau sendiri, para chef di Bali bisa mendapatkan burrata yang baru dibuat pagi tadi untuk disajikan sore harinya. Kesegaran inilah yang bikin rasanya "milky" banget, manis alami dari susu, dan teksturnya masih kenyal sempurna. Harganya pun jadi lebih masuk akal buat masuk ke menu kafe brunch, nggak cuma nongkrong di restoran fine dining bintang lima doang.

Vibe Bali yang Memang Cocok dengan Makanan "Light"

Kenapa burrata nggak se-meledak ini di Jakarta atau Surabaya? Mungkin karena vibe Bali yang emang lebih santai dan tropis. Burrata biasanya disajikan dingin atau suhu ruang, ditemani tomat ceri yang segar, daun basil, siraman balsamic glaze, atau pesto. Makanan tipe begini pas banget dimakan siang-siang setelah kalian capek surfing atau sekadar keliling naik motor di bawah terik matahari Bali.

Nggak jarang juga burrata di Bali dikombinasikan dengan sentuhan lokal atau menu yang lebih berani. Ada yang menyajikannya di atas sourdough yang dipanggang garing, ada yang memasangkannya dengan buah peach bakar, bahkan ada yang menjadikannya topping pizza yang baru ditaruh sesaat sebelum dihidangkan biar nggak meleleh total karena panas oven. Fleksibilitas inilah yang bikin para chef di Bali betah bereksperimen dengan si bola putih ini.

Burrata-fication: Apakah Ini Berlebihan?

Tentu saja, setiap ada tren, pasti ada titik jenuhnya. Sekarang ada istilah "Burrata-fication", di mana hampir semua jenis makanan dipaksa pakai burrata biar kelihatan mahal. Kadang saya merasa kasihan juga sama si burrata ini, dia dipasangin sama makanan yang sebenarnya nggak nyambung-nyambung amat cuma demi menaikkan harga menu sampai dua kali lipat.

Tapi ya mau gimana lagi, hukum pasar berbicara. Selama orang masih suka memotret keju lumer dan merasa senang saat menyantapnya, burrata akan tetap bertahta. Menurut opini pribadi saya, burrata terbaik di Bali tetaplah yang disajikan sederhana. Biarkan kualitas kejunya bicara. Nggak perlu banyak bumbu aneh-aneh, cukup olive oil yang bagus, sedikit garam laut (sea salt) asli Bali, dan mungkin beberapa potong tomat organik dari petani lokal.



Tempat-Tempat yang Wajib Dikunjungi Para Pemburu Burrata

Kalau kalian lagi di Bali dan bingung mau mulai dari mana, daerah Berawa dan Pererenan adalah "tambang emas" burrata. Banyak osteria kecil atau kafe konsep terbuka yang punya menu burrata juara. Jangan cuma terpaku pada tempat yang viral di TikTok, kadang warung-warung modern yang agak masuk ke gang malah punya suplai keju dari peternakan kecil yang rasanya lebih otentik dan "creamy".

Ubud juga jangan dilewatkan. Suasana hijau dan udara yang lebih sejuk bikin makan burrata terasa lebih magis. Rasanya kayak lagi beneran di pedesaan Italia, tapi versi ada pohon kelapa dan suara gamelan di kejauhan. Kombinasi yang aneh tapi entah kenapa masuk banget di hati.

Kesimpulan: Tren yang Layak Dinikmati

Pada akhirnya, fenomena burrata di Bali adalah bukti bahwa lidah kita makin terbuka dengan rasa-rasa baru yang lebih subtle. Kita nggak cuma cari kenyang atau cari rasa pedas nendang, tapi juga mencari tekstur dan kualitas bahan baku. Burrata mengajarkan kita untuk menikmati makanan secara pelan-pelan—menikmati setiap aliran krimnya yang menyatu dengan minyak zaitun.

Jadi, kalau besok kalian duduk di sebuah kafe pinggir pantai di Bali dan melihat menu "Fresh Local Burrata", jangan ragu buat pesan. Lupakan sejenak diet atau hitungan kalori. Nikmati saja momen saat pisau kalian membelah keju itu, tonton isinya lumer, dan rasakan sensasi dingin sekaligus gurih di lidah. Karena di Bali, kebahagiaan kadang sesederhana sebongkah keju putih yang dibuat dengan hati.