Menguak Sisi Lain Zootopia dan Sentuhan Budaya Bali di Dalamnya
Liaa - Thursday, 28 May 2026 | 11:00 AM


Ternyata Ada 'Bau-bau' Bali di Film Zootopia: Sebuah Fakta yang Bikin Kita Bangga Sekaligus Melongo
Siapa sih yang nggak tahu Zootopia? Film animasi rilisan Disney tahun 2016 ini bukan cuma sekadar film anak-anak tentang kelinci yang pengen jadi polisi. Lebih dari itu, Zootopia adalah sebuah mahakarya yang ngebahas isu sosial berat kayak rasisme dan stereotip, tapi dikemas dengan visual yang manjain mata banget. Nah, buat kita yang tinggal di Indonesia, ada satu trivia yang sebenernya udah agak lama beredar tapi tetep asyik buat dibahas ulang: fakta bahwa Bali jadi salah satu inspirasi besar di balik visual film ini.
Mungkin pas pertama kali denger, kalian bakal mikir, "Masa sih? Perasaan isinya gedung tinggi semua." Eits, tunggu dulu. Zootopia itu kan kota metropolis yang dibagi jadi beberapa distrik berdasarkan iklimnya. Ada Sahara Square yang panas banget, Tundratown yang isinya es semua, dan nah ini dia bintang utamanya: Rainforest District. Di sinilah "nyawa" Bali disuntikkan oleh para kreator Disney ke dalam layar lebar.
Kenapa Harus Bali?
Jujurly, kalau kita ngomongin hutan tropis, pilihannya banyak banget. Ada Amazon di Amerika Selatan atau hutan-hutan di Afrika. Tapi, tim produksi Zootopia, terutama para desainer produksinya, kayak punya ketertarikan khusus sama lanskap di Asia Tenggara, spesifiknya Bali. Mereka nggak cuma pengen bikin hutan yang sekadar "ijo" doang. Mereka pengen hutan yang punya struktur, punya karakter, dan kerasa "hidup" sekaligus estetik.
Coba deh kalian tonton lagi adegan pas Judy Hopps sama Nick Wilde masuk ke Rainforest District. Pemandangannya gokil banget, kan? Hutan di sana nggak tumbuh rata di tanah, tapi vertikal. Ada jembatan gantung, rumah-rumah pohon yang bertingkat, dan pepohonan yang saking tingginya sampe nembus awan. Nah, inspirasi tata ruang yang "numpuk" dan bertingkat ini diambil dari topografi Bali yang berbukit-bukit dan penuh dengan terasering.
Vibes Ubud yang Kental di Rainforest District
Kalau kalian pernah main ke Ubud atau daerah Tegallalang, kalian pasti akrab sama pemandangan sawah terasering yang berlapis-lapis. Para animator Disney kabarnya sempet ngelakuin riset mendalam soal gimana vegetasi di Bali itu tumbuh. Mereka ngelihat gimana tanaman tropis kita itu nggak cuma tumbuh liar, tapi kayak punya harmoni sama lingkungan sekitarnya.
Di Rainforest District, sistem irigasi dan cara air terjunnya mengalir itu punya kemiripan visual sama sistem Subak di Bali. Meskipun di film itu digambarin lebih futuristik dengan teknologi pengatur suhu dan kelembapan, tapi struktur dasarnya itu "Bali banget". Bayangin aja, pohon-pohon raksasa di sana berfungsi kayak apartemen bertingkat, persis kayak gimana masyarakat kita di pedesaan Bali memanfaatkan lahan sempit di lereng bukit buat jadi sesuatu yang fungsional tapi tetep indah dipandang.
Detail Kecil yang Mungkin Terlewat
Selain soal lanskap, ada lagi satu hal yang bikin kita ngerasa deket sama film ini. Matthias Lechner, yang merupakan Art Director of Environments di Zootopia, pernah cerita dalam beberapa interview kalau mereka pengen menciptakan dunia yang terasa nyata. Mereka bener-bener merhatiin jenis tanaman. Di Rainforest District, kalian bisa nemuin tanaman-tanaman yang daunnya lebar, pakis-pakisan, sampe lumut yang tebelnya bukan main. Jenis-jenis tanaman ini adalah tanaman asli daerah tropis kayak Indonesia.
Nggak cuma itu, suasana "lembab" yang digambarin di film itu bener-bener dapet banget. Kalau kalian pernah ngerasain abis hujan di Bali, terus ada uap air yang naik dari tanah (yang sering kita sebut 'mletek'), vibes itulah yang berusaha dipindahin ke Zootopia. Penonton diajak buat ngerasa gerah tapi seger di saat yang bersamaan. Ini bukan tugas yang gampang buat animator, tapi berkat referensi dari tempat-tempat kayak Bali, mereka berhasil bikin distrik itu jadi salah satu yang paling ikonik di sepanjang film.
Opini Pribadi: Kebanggaan yang Terselip
Menurut gue pribadi sih, hal kayak gini tuh keren parah. Seringkali kita ngerasa kalau budaya atau alam kita itu biasa aja karena tiap hari kita liat. Tapi pas orang sekelas Disney dateng, ngelihat, terus ngejadiin itu referensi buat film pemenang Oscar, di situ kita baru sadar kalau "Wah, ternyata alam kita se-magis itu ya?".
Zootopia sukses nampilin sisi eksotis tropis tanpa harus jatuh ke lubang klise. Mereka nggak cuma jualan "pohon kelapa dan pantai", tapi lebih ke gimana ekosistem hutan tropis itu bekerja secara vertikal. Bali dipilih bukan cuma karena cantik, tapi karena Bali punya karakter arsitektur alam yang unik yang nggak ditemuin di tempat lain.
Yuk, Rewatch Lagi!
Jadi, buat kalian yang malem minggu ini nggak ada acara atau lagi pengen santai, coba deh tonton ulang Zootopia. Tapi kali ini, coba pasang mata lebih jeli pas adegan di Rainforest District. Perhatiin lekuk-lekuk pohonnya, cara airnya jatuh, dan gimana cara mereka nyusun bangunan di sela-sela hutan. Kalian bakal ngerasa kayak lagi liat versi sci-fi dari Ubud atau Bedugul.
Fakta unik ini ngebuktiin kalau inspirasi itu bisa dateng dari mana aja, bahkan dari halaman belakang rumah kita sendiri. Bali emang nggak pernah abis buat bikin dunia kagum, entah itu lewat pariwisatanya, budayanya, atau bahkan lewat sabetan kuas digital para animator kelas dunia di film animasi. Jadi, makin bangga kan jadi warga Indonesia?
Next News

Seni Bicara Orang Batak: Suara Menggelegar Tapi Hati Tetap Lembut
in 5 hours

Bukan Sekadar Salah Ucap, Ini Keunikan di Balik Fenomena Cadel
in 5 hours

Jangan Salah! Ini Warna Jilbab Paling Cocok untuk Kuning Langsat
in 5 hours

Fanaa: Film Bollywood Paling Emosional yang Wajib Ditonton Ulang
in 5 hours

Alasan Kenapa Mulan Berbeda dari Princess Disney Lainnya
in 5 hours

Rahasia di Balik Rambut Botak Licin Biksu Borobudur
in 5 hours

Bahaya Tersembunyi di Balik Obsesi Makan Timun Berlebihan
in 4 hours

Kaget Lihat Cermin? Kenali Tanda Tubuh Mulai Membungkuk
in 3 hours

Hebatnya Merpati Pos: Kurir Legendaris yang Tak Pernah Salah Alamat
in 3 hours

Rahasia Kehebatan Kuda, Kendaraan Utama Sebelum Bensin
in 3 hours





