Jumat, 27 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bukan Sekadar Hiasan, Ini Rahasia Harum Daun Pandan

Tata - Friday, 27 February 2026 | 03:25 PM

Background
Bukan Sekadar Hiasan, Ini Rahasia Harum Daun Pandan

Si Hijau Wangi: Kenapa Daun Pandan Itu MVP-nya Dapur Kita?

Pernah nggak sih kalian lagi jalan-jalan di pasar atau masuk ke dapur rumah pas Ibu lagi masak, terus tiba-tiba hidung kalian disambut aroma wangi yang manis, menenangkan, sekaligus bikin perut langsung keroncongan? Kalau iya, kemungkinan besar pelakunya adalah selembar daun panjang berwarna hijau tua yang ujungnya runcing. Yup, apalagi kalau bukan daun pandan.

Bagi orang Indonesia, daun pandan itu sudah kayak "sahabat karib" di dapur. Mau bikin makanan manis, oke. Mau bikin masakan gurih, masuk juga. Bahkan kalau ditaruh di pojokan ruangan pun, dia bisa jadi pengharum alami yang jauh lebih enak daripada semprotan kimia di minimarket. Tapi, sebenarnya apa sih yang bikin daun ini begitu sakti sampai-sampai dijuluki sebagai "Vanilanya Asia"? Mari kita bedah bareng-bareng sambil santai.

Bukan Sekadar Aroma, Tapi Jiwa dari Masakan

Coba deh kalian bayangin lagi makan nasi uduk atau nasi kuning yang nggak pakai pandan. Pasti ada yang kurang, kan? Rasanya kayak nonton konser tapi nggak ada vokalisnya. Flat banget. Nah, kegunaan utama daun pandan itu memang ada pada aromanya yang khas. Secara ilmiah, pandan punya senyawa yang namanya 2-acetyl-1-pyrroline. Nama kimianya emang ribet, tapi intinya senyawa inilah yang ngasih aroma "nutty" atau seperti popcorn yang baru matang.

Dalam dunia kuliner kita, pandan itu ibarat penyempurna. Kalau kalian masak nasi putih biasa terus dimasukin satu ikat daun pandan yang sudah disimpul, kasta nasi itu otomatis naik. Baunya jadi lebih menggugah selera dan ada sedikit rasa manis samar yang bikin kita pengen nambah terus. Ini baru soal nasi, belum lagi kalau kita bicara soal kolak atau bubur kacang hijau. Tanpa pandan, kolak itu cuma sekadar air gula santan biasa. Pandanlah yang bikin kolak itu punya karakter "rumah" yang bikin kangen.

Pewarna Alami yang Nggak Pernah Gagal

Zaman sekarang, banyak banget makanan yang warnanya ngejreng tapi ternyata pakai pewarna buatan yang kalau dimakan sering bikin tenggorokan gatal. Di sinilah daun pandan (terutama jenis pandan suji yang sering dipasangkan dengannya) menunjukkan taringnya. "Hijau Pandan" itu bukan cuma sekadar warna, tapi sebuah identitas estetika makanan tradisional.



Kue talam, dadar gulung, sampai klepon, semuanya bergantung pada ekstrak daun sakti ini. Cara bikinnya juga organik banget. Tinggal diblender atau ditumbuk, terus diperas airnya. Hasilnya? Warna hijau emerald yang cantik banget dan aromanya meresap sampai ke dalam adonan. Kalau kalian perhatiin, hijau pandan itu punya efek psikologis yang bikin makanan kelihatan segar dan "bersih". Jadi, nggak heran kalau sampai sekarang pewarna alami ini masih jadi juara di hati para pengusaha kue subuh.

Penghilang Bau Amis yang Ampuh

Nah, ini nih kegunaan yang mungkin jarang disadari anak muda zaman sekarang yang jarang turun ke dapur. Daun pandan itu punya kemampuan buat "menjinakkan" aroma-aroma yang terlalu kuat atau amis. Misalnya, kalau kalian masak daging atau makanan laut yang punya bau tajam, selembar pandan bisa jadi penetral yang oke banget. Di Thailand, ada menu terkenal namanya Pandan Chicken. Ayamnya dibungkus pakai daun pandan terus digoreng. Hasilnya? Daging ayamnya jadi super lembut dan bau amisnya hilang total, digantikan sama aroma wangi yang meresap sampai ke tulang.

Selain itu, pandan juga sering dipakai saat merebus telur atau membuat santan agar aromanya tidak terlalu "enek". Intinya, pandan itu kayak filter alami yang bikin semua masakan jadi lebih ramah di hidung manusia.

Naik Kelas: Dari Dapur Nenek ke Kafe Hits

Menariknya, sekarang pandan nggak cuma berhenti di masakan tradisional kayak getuk atau serabi doang. Pandan lagi mengalami masa "rebranding" besar-besaran. Di kota-kota besar, kalian bakal sering nemuin Pandan Latte atau Pandan Chiffon Cake yang dijual di kafe-kafe mahal. Bahkan, chef-chef internasional mulai melirik pandan sebagai bahan eksotis yang setara dengan vanilla bourbon dari Madagaskar.

Menurut gue sih, ini keren banget. Pandan yang dulu kesannya "ndeso" atau cuma ada di pekarangan rumah, sekarang jadi tren gaya hidup. Orang luar negeri mulai sadar kalau aroma pandan itu sophisticated banget. Dan kita sebagai orang Indonesia harusnya bangga karena bahan ini melimpah ruah di sekitar kita. Bayangin, tinggal petik di belakang rumah, kita udah dapet bahan kelas dunia.



Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Daun

Pada akhirnya, daun pandan itu bukan cuma soal kegunaan teknis di dapur. Dia adalah bagian dari memori kolektif kita. Aroma pandan adalah aroma sore hari di rumah nenek, aroma takjil pas bulan puasa, dan aroma hajatan di kampung. Dia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang rela diikat simpul, direbus, lalu dibuang begitu saja setelah sarinya habis, demi membuat masakan kita jadi luar biasa.

Jadi, lain kali kalau kalian makan nasi uduk atau jajan pasar dan nemu potongan daun hijau di dalamnya, jangan cuma disingkirin gitu aja. Kasih sedikit apresiasi buat si "hijau wangi" ini. Tanpa dia, dunia kuliner kita bakal terasa jauh lebih sepi dan hambar. Setuju, nggak?