Bukan Cuma Tren, Ini Alasan Matcha Latte Makin Populer
Nanda - Tuesday, 31 March 2026 | 03:50 PM


Mengapa Gen Z Begitu Terobsesi dengan Matcha Latte?
Kalau lo jalan-jalan ke mall atau sekadar scrolling TikTok belakangan ini, ada satu pemandangan yang rasanya sulit banget buat dihindarin. Bukan, gue nggak lagi ngomongin soal tren celana gombrang atau lagu-lagu galau yang seliweran di FYP. Gue lagi ngomongin soal cairan hijau pekat yang ada di dalam gelas plastik transparan, lengkap dengan gradasi putih susu yang perlahan menyatu. Yak, apalagi kalau bukan Matcha Latte.
Dulu, kalau kita ngomongin soal minuman "anak gaul," pilihannya nggak jauh-jauh dari kopi susu gula aren. Pokoknya, kopi adalah kunci. Tapi sekarang? Peta kekuatan minuman di kalangan Gen Z udah bergeser drastis. Kopi emang masih ada, tapi posisinya mulai digoyang oleh kehadiran bubuk teh hijau asal Jepang ini. Matcha nggak cuma sekadar minuman penghilang haus, dia sudah bertransformasi jadi sebuah simbol gaya hidup, identitas visual, bahkan indikator seberapa "estetik" hidup seseorang.
Kenapa Harus Hijau?
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa sih mendadak semua orang pengen minum air yang bagi sebagian orang rasanya kayak rumput yang diblender? Jawabannya nggak sesederhana rasa enak atau nggak enak. Di mata Gen Z, matcha adalah antitesis dari kopi yang serba buru-buru dan bikin jantung berdebar-debar.
Banyak anak muda zaman sekarang yang mulai sadar sama kesehatan mental dan fisik mereka. Kopi, buat sebagian orang, justru memicu anxiety atau kecemasan karena kandungan kafeinnya yang "nendang" banget. Nah, matcha hadir sebagai penyelamat. Kandungan L-theanine di dalamnya memberikan efek relaksasi tapi tetap bikin fokus. Istilah kerennya, calm energy. Jadi, lo bisa tetap produktif ngerjain tugas kuliah atau kerjaan kantor tanpa harus merasa gemeteran kayak lagi dikejar debt collector.
Selain itu, jangan lupakan faktor estetika. Kita hidup di era di mana "makan dan minum buat kamera" adalah sebuah keharusan nggak tertulis. Warna hijau matcha yang vibrant itu kontras banget kalau difoto bareng outfit minimalis atau latar belakang kafe yang bergaya industrial. Matcha itu very Instagrammable, titik. Nggak percaya? Coba aja liat berapa banyak foto tangan pegang gelas matcha dengan caption "Sunday vibes" atau "Manifesting a good day" yang bertebaran di luar sana.
Matcha dan "Clean Girl" Aesthetic
Tren matcha ini nggak bisa dipisahkan dari menjamurnya tren clean girl aesthetic di media sosial. Buat yang belum tahu, ini adalah gaya hidup yang menonjolkan kesan bersih, sehat, minimalis, dan teratur. Dan tebak apa minuman resmi para penganut gaya hidup ini? Tentu saja Matcha Latte, terutama yang pakai oat milk atau almond milk.
Ada semacam validasi sosial ketika seseorang menenteng segelas matcha. Seolah-olah mereka ingin bilang, "Gue peduli sama kesehatan gue, gue punya selera yang sophisticated, dan gue adalah bagian dari kalcer ini." Matcha bukan lagi sekadar minuman, tapi sudah menjadi aksesori fashion. Bahkan, sekarang banyak brand lokal yang berlomba-lomba bikin matcha specialty bar, di mana kita nggak cuma beli minumannya, tapi juga dapet pengalaman ngelihat proses pengadukannya pakai chasen (adukan bambu tradisional Jepang) yang sangat memanjakan mata.
Minuman yang Menenangkan di Tengah Dunia yang Chaos
Salah satu alasan kenapa matcha bisa bertahan lama (bukan cuma sekadar tren lewat kayak es kepal milo) adalah ritual pembuatannya. Bagi sebagian Gen Z, menyeduh matcha sendiri di kosan atau di rumah adalah bentuk self-care. Ada kepuasan tersendiri pas ngelihat bubuk hijau itu larut sempurna di air hangat, lalu dituang perlahan ke dalam susu dingin sampai membentuk gradasi yang cantik.
Ritual ini memberikan jeda sejenak dari hiruk-pikuk dunia digital. Di tengah gempuran notifikasi WhatsApp dan email kerjaan, mengaduk matcha selama dua menit adalah momen meditatif yang sangat berharga. Rasanya yang unik—perpaduan antara pahit, earthy, dan sedikit manis—mengajarkan kita untuk menikmati rasa yang lebih kompleks. Ya, meskipun buat orang tua kita, rasa itu mungkin bakal dikomentari dengan kalimat sakti: "Kok rasa jamu?"
Bukan Sekadar Minuman Estetik
Tentu saja, nggak semua matcha itu sama. Di kalangan hardcore fans, ada debat panjang soal ceremonial grade vs culinary grade. Anak-anak Gen Z yang udah mulai "sepuh" di dunia per-matcha-an biasanya bakal nyari kafe yang pakai bubuk matcha asli dari Uji atau Shizuoka. Mereka nggak mau yang cuma sekadar bubuk perasa matcha abal-abal yang manisnya minta ampun.
Mereka rela bayar lebih mahal buat dapet rasa yang otentik. Nggak jarang, segelas Matcha Latte di kafe-kafe hits Jakarta harganya bisa menyamai atau bahkan melebihi harga makan siang di warteg depan kantor. Tapi ya itulah Gen Z, mereka nggak masalah keluar uang lebih buat "pengalaman" dan kualitas, atau sekadar buat memuaskan rasa penasaran akan rasa umami yang katanya bikin nagih itu.
Next News

Misteri Hidung Meler Pasca Mandi Malam
17 minutes ago

Mengapa Lampu Kabin Pesawat Dimatikan Saat Take Off dan Landing? Ini Alasannya
13 hours ago

Benarkah Nenek Moyang Kita Seorang Pelaut?
13 hours ago

Angklung, Alat Musik Bambu Warisan Budaya Nusantara
14 hours ago

Benarkah Mandi Malam Bisa Membuat Tubuh "Dicubit Setan"?
14 hours ago

Mengapa Inhaler Selalu Ada di Saku Gen Z?
6 hours ago

10 Fakta Bahaya Sinar UV yang Wajib Kamu Ketahui
6 hours ago

Tak Sekadar Camilan, Ini 13 Manfaat Kacang Almond yang Jarang Diketahui
6 hours ago

7 Jenis Kucing Paling Populer di Dunia, Bukan Cuma Persia!
5 hours ago

Geraham bungsu : Wisdom Tooth yang Sering Bermasalah
6 hours ago





