Buka Media Sosial Malah Isinya Kriminal Semua: Kok Kayaknya Kejahatan Lagi Naik Daun, Ya?
RAU - Tuesday, 21 April 2026 | 09:20 AM


Buka Media Sosial Malah Isinya Kriminal Semua: Kok Kayaknya Kejahatan Lagi Naik Daun, Ya?
Pernah nggak sih lo ngerasa kalau akhir-akhir ini scrolling media sosial itu rasanya kayak lagi baca laporan harian kantor polisi? Pagi-pagi buka Twitter atau X, isinya berita begal di pinggir kota. Agak siang dikit, muncul video viral maling motor yang ketangkep warga. Malemnya, ada lagi berita penipuan tiket konser atau investasi bodong yang korbannya sampai miliaran rupiah. Rasanya tuh, dunia lagi nggak baik-baik aja, atau malah emang penjahatnya yang makin rajin lembur?
Kalau kita ngobrolin soal kenapa kejahatan makin meningkat, jawabannya nggak bakal sesederhana karena "orangnya emang jahat". Nggak gitu, Bosku. Ada banyak benang kusut yang bikin fenomena ini makin subur. Mari kita coba bedah satu-satu pake kacamata orang biasa yang juga was-was kalau naruh helm di spion motor.
Isi Perut yang Nggak Bisa Diajak Kompromi
Mari kita jujur, faktor paling klasik tapi tetep paling relevan adalah urusan perut. Ekonomi kita ini lagi dalam kondisi yang "ya gitu deh". Harga bahan pokok naik terus kayak lagi ikut lomba panjat pinang, sementara nyari kerja susahnya minta ampun. Pas lapangan kerja sempit, sementara tuntutan hidup jalan terus, orang yang mentalnya lagi goyah bakal ngambil jalan pintas.
Ditambah lagi sekarang ada fenomena Pinjaman Online (Pinjol) yang bunganya mencekik leher. Banyak banget kasus kriminal yang motifnya cuma satu: buat bayar utang pinjol. Dari yang tadinya cuma niat minjam buat gaya hidup atau darurat, malah jadi gali lubang tutup lubang yang ujungnya gelap mata. Kalau udah kepepet dikejar debt collector, moralitas kadang suka terbang entah ke mana.
Budaya Flexing dan Standar Hidup yang Ketinggian
Ini dia penyakit zaman sekarang. Media sosial bikin kita terpapar sama gaya hidup orang lain 24 jam nonstop. Lihat si A ganti HP tiap tahun, si B liburan ke Jepang mulu, si C pamer mobil baru. Fenomena "flexing" ini secara nggak sadar bikin standar hidup orang meningkat tajam. Masalahnya, pendapatan nggak naik, tapi nafsu pengen terlihat kaya itu gede banget.
Rasa iri dan pengen diakui ini seringkali jadi bahan bakar buat orang ngelakuin kejahatan, terutama penipuan atau korupsi tipis-tipis. Banyak orang yang sebenernya nggak miskin-miskin amat, tapi karena gengsinya setinggi langit, mereka akhirnya nekat nipu temen sendiri atau nge-scam orang di internet demi bisa tetep "eksis".
Lahan Basah Bernama Dunia Digital
Kalau dulu maling harus nunggu tuan rumah tidur atau manjat pagar, sekarang kejahatan bisa dilakuin sambil rebahan di kamar pake kaos oblong. Dunia digital itu luas banget dan celah keamanannya masih banyak banget yang bolong. Dari phising, penipuan lewat WhatsApp, sampai jual beli data pribadi, semuanya makin canggih.
Penjahat zaman sekarang itu pinter-pinter, mereka paham teknologi. Sementara itu, literasi digital masyarakat kita masih agak kurang. Masih banyak orang yang gampang banget klik link nggak jelas atau percaya sama janji manis hadiah jutaan rupiah. Kejahatan meningkat karena medianya emang makin gampang diakses dan risikonya buat ketangkep di dunia maya itu lebih kecil dibanding jambret di lampu merah.
Efek "No Viral No Justice" dan Hilangnya Rasa Takut
Nah, ini opini yang agak pahit tapi perlu kita omongin. Ada semacam persepsi di masyarakat kalau penegakan hukum kita itu kadang lambat kalau nggak viral dulu. Fenomena "No Viral No Justice" bikin orang ngerasa kalau mau dapet keadilan itu harus lewat jalur netizen dulu. Di sisi lain, para calon penjahat juga ngelihat kalau hukuman buat pelaku kriminal tertentu kadang nggak bikin kapok atau malah bisa "diatur".
Ketika hukum dirasa kurang taji, atau ada ketimpangan di mana yang punya duit bisa lebih bebas, rasa takut orang buat berbuat jahat itu berkurang. Belum lagi urusan di jalanan, di mana pelaku kriminal ngerasa mereka punya peluang buat kabur lebih gede daripada ketangkepnya. Intinya, sistem pengawasan dan efek jera kita lagi diuji banget nih.
Renggangnya Hubungan Sosial Antar Tetangga
Ingat nggak zaman dulu kalau ada orang asing masuk komplek pasti ditanyain mau ke mana sama tetangga? Sekarang mah, boro-boro nanya, tetangga sebelah rumah aja kadang kita nggak tahu namanya siapa. Individualisme di kota-kota besar itu tinggi banget. Kita semua sibuk sama urusan masing-masing dan tutup pintu rapat-rapat.
Kondisi ini bikin lingkungan kita jadi "lapar" pengawasan. Penjahat paling suka sama lingkungan yang masa bodoh. Mereka bisa dengan bebas mondar-mandir mantau target tanpa dicurigai. Gotong royong dan rasa kepedulian antar warga itu sebenernya benteng paling murah buat mencegah maling, tapi sayangnya benteng itu sekarang lagi banyak yang roboh.
Terus, Kita Bisa Apa?
Melihat kenyataan pahit di atas, rasanya emang pengen nyerah aja terus pindah ke planet lain. Tapi ya nggak bisa juga kan. Yang bisa kita lakuin sekarang adalah balik lagi ke hal-hal dasar. Jaga diri sendiri, jaga keluarga, dan mulai peduli lagi sama lingkungan sekitar. Jangan gampang tergiur sama sesuatu yang keliatannya terlalu bagus buat jadi kenyataan, terutama di internet.
Kejahatan mungkin emang lagi meningkat, tapi jangan sampai kewaspadaan kita malah menurun. Jangan juga jadi orang yang terlalu parno sampai nggak bisa menikmati hidup. Cukup jadi orang yang pinter baca situasi dan tahu kapan harus waspada. Karena pada akhirnya, dunia emang nggak akan pernah bener-bener bersih dari orang jahat, tapi setidaknya kita bisa mempersulit ruang gerak mereka. Stay safe, kawan-kawan!
Next News

Sayur Direbus, Dikukus, atau Ditumis: Mana yang Paling Sehat?
6 hours ago

Benarkah Tempe Bisa Menggantikan Protein dari Daging?
6 hours ago

Tahu vs Tempe, Mana yang Lebih Bergizi?
7 hours ago

Tanda Skin Barrier Rusak yang Sering Disalahartikan sebagai Kulit Kusam
7 hours ago

Sunscreen adalah Skincare Anti-Aging Terbaik.Ini Alasannya
8 hours ago

Dulu dari Batu, Kini Super Empuk: Sejarah Bantal yang Jarang Diketahui
8 hours ago

Kunci Punya Nyawa? Simak Alasan Benda Kecil Ini Suka Sembunyi
in 4 hours

Posisi Tidur dan Dampaknya pada Kesehatan Tubuh
8 hours ago

Kolagen: Lebih Efektif yang Diminum atau Dioles?
8 hours ago

Kenapa Umur 35 Kelihatan Lebih Muda dari Umur 20? Ini Alasannya
in 4 hours





