Benarkah Bermain Game Bisa Merusak Otak Anak? Fakta Ilmiah dan Panduan Aman
Nanda - Friday, 06 February 2026 | 07:49 AM


Bagaimana Game Mempengaruhi Otak Anak
Aktivitas bermain game tidak sekadar hiburan. Saat anak bermain game, beberapa bagian penting otak ikut bekerja secara aktif, seperti korteks prefrontal (pengambilan keputusan dan kontrol emosi), hipokampus (memori dan pembelajaran), serta striatum (motivasi dan sistem penghargaan). Aktivasi area-area ini menjelaskan mengapa game bisa terasa menarik sekaligus menantang bagi anak.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP, 2021), dampak game terhadap perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh usia, durasi bermain, dan jenis konten. Game yang bersifat edukatif dapat merangsang kemampuan berpikir, sementara game dengan unsur kekerasan atau dimainkan berlebihan berpotensi menimbulkan efek negatif.
Dampak Positif Bermain Game
Jika dimainkan secara tepat dan terkontrol, game dapat memberikan sejumlah manfaat bagi perkembangan anak. Dari sisi kognitif, game strategi dan game edukatif membantu melatih memori, kemampuan merencanakan, pemecahan masalah, serta berpikir logis. Anak belajar membuat keputusan dan memahami konsekuensi dari pilihannya.
Dari aspek koordinasi motorik, game aksi melatih kecepatan reaksi dan koordinasi tangan-mata. Hal ini bermanfaat untuk keterampilan motorik halus, terutama pada anak usia sekolah. Selain itu, game multiplayer juga dapat menjadi sarana sosialisasi digital, melatih kerja sama tim, komunikasi, dan kemampuan mengikuti aturan dalam kelompok.
Dampak Negatif Bermain Game Berlebihan
Sebaliknya, bermain game secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Salah satunya adalah gangguan fokus dan konsentrasi, terutama jika waktu bermain mengganggu jam belajar atau aktivitas akademik. Anak dapat menjadi sulit berkonsentrasi dalam jangka waktu lama.
Dari sisi emosional, paparan game yang bersifat adiktif atau mengandung kekerasan berisiko meningkatkan iritabilitas, agresivitas, dan ledakan emosi. Selain itu, kebiasaan bermain game hingga malam hari dapat mengganggu kualitas tidur karena cahaya layar menekan produksi hormon melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur.
Dampak lainnya berkaitan dengan kesehatan fisik. Duduk terlalu lama dan minim aktivitas fisik meningkatkan risiko obesitas, nyeri otot, serta kelelahan mata pada anak.
Usia dan Durasi Bermain Game yang Aman
AAP merekomendasikan batasan waktu bermain game yang berbeda sesuai usia anak.
Pada anak di bawah 6 tahun, waktu layar sebaiknya dibatasi maksimal 1 jam per hari, dengan prioritas pada aktivitas fisik, bermain langsung, dan interaksi sosial.
Untuk anak usia 6–12 tahun, durasi bermain game yang disarankan adalah 1–2 jam per hari, dengan memilih game yang bersifat edukatif dan sesuai usia.
Sementara pada remaja usia 13–18 tahun, durasi bermain bisa mencapai hingga 2 jam per hari, namun tetap perlu pengawasan, terutama terkait konten kekerasan dan perubahan perilaku.
Tips Pengawasan Orang Tua
Peran orang tua sangat penting dalam memastikan game memberikan dampak positif. Orang tua disarankan memilih game sesuai usia dengan memeriksa rating ESRB atau rekomendasi umur. Mendampingi anak saat bermain juga membantu orang tua memahami isi dan pesan dalam game.
Pengaturan waktu bermain dapat dilakukan dengan jadwal yang jelas, penggunaan timer, atau fitur parental control. Selain itu, penting untuk menyeimbangkan aktivitas digital dengan kegiatan lain seperti olahraga, bermain di luar rumah, dan aktivitas kreatif. Diskusi terbuka mengenai isi game juga membantu anak membedakan antara dunia virtual dan kehidupan nyata.
Bermain game tidak secara otomatis merusak otak anak. Dampaknya sangat bergantung pada usia, durasi bermain, jenis game, serta pengawasan orang tua. Game edukatif dan dimainkan secara seimbang dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan sosial, sementara game berlebihan atau bermuatan kekerasan berisiko memengaruhi fokus, emosi, dan kesehatan anak. Kunci utamanya adalah keseimbangan antara hiburan digital, aktivitas fisik, dan interaksi sosial di dunia nyata.
Next News

Tren Mobil Listrik 2026 dan Masa Depan Transportasi
15 hours ago

Senam Taichi: Seni Beladiri yang Menyehatkan Tubuh dan Pikiran
15 hours ago

Tanda Awal Demensia yang Perlu Diwaspadai Keluarga, Bukan Sekadar Lupa Biasa
15 hours ago

Asam Urat: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengelola Kesehatan Sendi
15 hours ago

Teknologi yang Diam-diam Mengubah Hidup Kita
15 hours ago

Benarkah Kecerdasan Seseorang Diturunkan dari Ibu?
15 hours ago

Harimau Sumatra, Penjaga Hutan yang Terancam Punah
8 hours ago

Kegunaan Cacing dalam Pengobatan Penyakit Tifus
8 hours ago

Sayur Bayam,Sayuran Sederhana dengan Segudang Manfaat untuk Kesehatan
8 hours ago

Bunga Rafflesia: Keajaiban Alam Indonesia yang Langka dan Menakjubkan
21 hours ago





