Jumat, 1 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Benarkah 70 Helai Itu Tanda Kiamat Kecil bagi Perempuan?

Liaa - Friday, 01 May 2026 | 09:45 AM

Background
Benarkah 70 Helai Itu Tanda Kiamat Kecil bagi Perempuan?

Misteri Helai Rambut di Lantai Kamar Mandi: Benarkah 70 Helai Itu Tanda Kiamat Kecil bagi Perempuan?

Pernah nggak sih, sehabis mandi atau sekadar menyisir rambut di pagi hari yang cerah, tiba-tiba pandanganmu tertuju ke lantai? Di sana, ada tumpukan rambut yang menggulung menyerupai bola debu atau mungkin lebih mirip bayi kucing saking banyaknya. Refleks pertama pasti panik. Pikiran langsung melayang ke mana-mana: "Aduh, gue mau botak ya?", "Apa gue kurang vitamin?", atau yang paling ekstrem, "Jangan-jangan gue sakit parah?"

Tenang, Bestie. Tarik napas dalam-dalam dulu. Fenomena rambut rontok ini emang horor, apalagi buat perempuan yang sering menganggap rambut adalah mahkota paling berharga—bahkan kalaupun rambut itu cuma diikat asal-asalan pakai jedai pas lagi kerja lembur. Faktanya, para ahli bilang kalau kehilangan sekitar 70 sampai 100 helai rambut per hari itu masih masuk kategori normal. Kedengarannya emang banyak banget, sih. Bayangkan saja, kalau setiap hari ada 70 helai yang "pamit", dalam sebulan sudah ada ribuan prajurit kepala yang gugur.

Tapi, kenapa sih angka 70 itu dianggap wajar? Dan kenapa kita sebagai perempuan rasanya lebih sering stres gara-gara ini dibanding para cowok yang mungkin baru sadar botak pas jidatnya sudah melebar ke belakang?

Siklus Hidup Rambut: Ada Masa 'Resign' dan 'Open Recruitment'

Rambut kita itu sebenarnya kayak karyawan di perusahaan startup yang sibuk. Mereka punya siklus hidup yang dinamis. Ada fase Anagen, yaitu saat rambut lagi semangat-semangatnya tumbuh (ini bisa berlangsung bertahun-tahun). Lalu ada fase Katagen atau masa transisi yang singkat banget. Nah, yang bikin kita parno adalah fase Telogen alias masa istirahat. Di fase inilah rambut bersiap-siap untuk lepas dari kulit kepala.

Logikanya gini: kalau di kepala kita ada sekitar 100.000 folikel rambut, rontok 70 helai itu nggak ada apa-apanya secara persentase. Itu cuma cara alami kulit kepala kita buat "bersih-bersih" dan kasih ruang buat rambut baru yang lebih sehat buat tumbuh. Jadi, kalau kamu lihat ada rambut di sisir, itu sebenarnya adalah rambut-rambut yang memang sudah waktunya "pensiun". Mereka nggak rontok karena benci sama kamu, mereka cuma mau kasih kesempatan buat generasi muda. Istilah kerennya, regeneration at its best.



Kenapa Perempuan Sering Jadi Korban 'Overthinking' Soal Rambut?

Masalahnya, rontoknya rambut perempuan itu sering kali dipengaruhi oleh banyak variabel yang lebih kompleks dibanding laki-laki. Kita bicara soal hormon yang naik-turun kayak roller coaster tiap bulan pas lagi PMS. Belum lagi urusan catokan, hair dryer yang panasnya mengalahkan omongan tetangga, sampai hobi gonta-ganti warna rambut demi konten estetik di Instagram.

Jangan lupakan juga faktor stres. Pernah nggak kamu ngerasa pas lagi banyak deadline atau habis putus cinta, rambut rasanya makin gampang lepas? Itu bukan cuma perasaanmu doang. Secara medis, ada kondisi namanya Telogen Effluvium. Ini adalah keadaan di mana stres fisik atau emosional mendorong rambut lebih cepat masuk ke fase istirahat (telogen). Hasilnya? Ya itu tadi, jumlah yang rontok bisa melonjak drastis melewati angka 70 helai yang kita bicarakan tadi.

Ditambah lagi, standar kecantikan di media sosial sering kali menampilkan rambut yang tebal, berkilau, dan bervolume. Begitu kita ngaca dan lihat lantai kamar mandi penuh rambut, rasanya kepercayaan diri langsung anjlok ke titik nadir. Kita jadi sering mendiagnosis diri sendiri lewat TikTok atau Google, yang ujung-ujungnya malah bikin makin stres. Padahal, stres itu sendiri adalah musuh utama kesehatan rambut. Lingkaran setan, kan?

Kapan Kamu Harus Benar-benar Curiga?

Meskipun 70 helai itu normal, bukan berarti kita boleh abai 100 persen. Ada garis tipis antara rontok normal dan rontok yang butuh bantuan profesional. Cara paling gampang buat ngetesnya—selain menghitung helai satu-persatu (yang mana bakal bikin kamu kelihatan kurang kerjaan)—adalah dengan "Pull Test" sederhana. Coba pegang sekitar 40 helai rambut, lalu tarik perlahan dari pangkal ke ujung. Kalau yang ikut ketarik lebih dari 6 helai, mungkin kamu perlu evaluasi gaya hidup atau konsultasi ke dokter kulit.

Ciri lainnya adalah kalau kamu mulai melihat adanya bald spot alias pitak di bagian tertentu, atau kalau garis rambutmu mulai mundur secara signifikan. Kalau rontoknya merata di seluruh kepala sih biasanya masih aman, tapi kalau sudah bolong-bolong di titik tertentu, nah itu baru lampu kuning menuju merah.



Berdamai dengan Sisir dan Lantai Kamar Mandi

Daripada setiap hari stres menghitung jumlah rambut di lantai, mending kita fokus ke hal-hal yang bisa kita kendalikan. Kurangi penggunaan panas yang berlebihan, pilih sampo yang nggak terlalu keras kimianya, dan yang paling penting: jangan pelit soal nutrisi. Rambut itu butuh protein, zat besi, dan biotin buat tetap kuat. Kalau kamu cuma makan seblak tiap hari tanpa asupan nutrisi seimbang, jangan kaget kalau rambutmu protes dan milih buat lepas jabatan.

Pada akhirnya, kehilangan 70 helai rambut sehari adalah bagian dari menjadi manusia yang hidup. Itu adalah pengingat bahwa tubuh kita terus bekerja, terus memperbarui diri, bahkan saat kita lagi tidur atau bengong nungguin ojek online. Jadi, besok-besok kalau lihat rambut di lantai, nggak usah langsung panik cari klinik tanam rambut. Ambil sapu, bersihkan, lalu kasih sedikit vitamin rambut sambil bilang, "Makasih ya sudah nemenin gue selama ini."

Lagipula, kecantikanmu nggak cuma ditentukan oleh seberapa tebal kunciran rambutmu, tapi gimana kamu bisa tetap pede meskipun "mahkota" itu lagi butuh waktu buat tumbuh kembali. Stay chill and keep glowing, ladies!