Jumat, 1 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

1 dari 9000 Orang Menderita Albino

Liaa - Friday, 01 May 2026 | 10:05 AM

Background
1 dari 9000 Orang Menderita Albino

Pernah nggak sih, pas kamu lagi jalan-jalan di pasar atau nunggu TransJakarta, tiba-tiba ngelihat seseorang yang penampilannya mencolok banget? Bukan karena dia pakai baju warna neon atau gaya rambut punk, tapi karena kulit dan rambutnya putih pucat, hampir transparan, padahal wajahnya tipikal orang lokal. Kalau iya, kemungkinan besar kamu baru saja berpapasan dengan seorang albino.

Statistik bilang, perbandingannya itu sekitar 1 banding 9.000 orang di dunia. Angka ini sebenarnya cukup "ajaib". Bayangin, di sebuah stadion sepak bola yang penuh sesak dengan 45.000 penonton, mungkin cuma ada 5 orang yang punya kondisi ini. Mereka ini ibarat limited edition yang diproduksi alam, tapi sayangnya, sering kali kita yang "normal" ini malah gagal paham cara bersikap di depan mereka.

Bukan Bule, Cuma Kurang Melanin

Jujurly, stereotip pertama yang nempel di kepala orang Indonesia saat melihat pengidap albinisme adalah sebutan "Bule Kampung". Kedengarannya mungkin kayak candaan akrab, tapi kalau dipikir-pikir lagi, label ini tuh agak reduktif. Albino bukan soal ras atau keturunan luar negeri. Ini murni perkara genetik yang bikin tubuh nggak bisa memproduksi melanin zat pigmen yang ngasih warna ke kulit, rambut, sampai mata kita.

Gara-gara absennya melanin ini, mereka jadi terlihat "berbeda". Kulitnya super sensitif sama sinar matahari. Buat kita, panas-panasan di siang bolong mungkin cuma bikin keringetan atau kulit agak gosong. Tapi buat teman-teman albino, matahari itu bisa jadi musuh bebuyutan. Tanpa pelindung yang cukup, kulit mereka bisa terbakar hebat dalam waktu singkat. Jadi, kalau kamu lihat mereka pakai jaket tebal, payung, atau kacamata hitam di tengah cuaca terik, jangan mikir mereka lagi gaya-gayaan. Itu adalah mode bertahan hidup.

Drama Mata dan Pandangan yang Bergetar

Satu hal yang jarang diketahui orang awam adalah bahwa albinisme itu nggak cuma soal warna kulit. Masalah utamanya justru sering ada di mata. Kebanyakan pengidap albino punya gangguan penglihatan yang lumayan mengganggu, mulai dari rabun dekat/jauh yang ekstrem sampai kondisi yang namanya nystagmus alias bola mata yang bergerak-gerak sendiri tanpa bisa dikontrol.



Bayangin betapa capeknya harus fokus melihat sesuatu sementara "kamera" di mata kamu goyang terus. Belum lagi soal fotofobia, alias rasa sakit atau silau berlebih saat kena cahaya terang. Makanya, jangan heran kalau mereka sering memicingkan mata atau harus melihat objek dari jarak yang sangat dekat. Ini bukan karena mereka kurang vitamin A, tapi memang struktur mata mereka nggak punya cukup pigmen untuk menyerap cahaya dengan benar.

Mitos, Stigma, dan Tatapan "Kepo"

Di Indonesia, hidup sebagai 1 dari 9.000 orang itu penuh tantangan sosial. Masih ada aja mitos-mitos nggak jelas yang beredar. Ada yang bilang ini kutukan, ada yang bilang gara-gara ibunya dulu "salah makan" pas hamil, bahkan di beberapa belahan dunia lain kayak di Afrika, ada takhayul yang lebih ngeri lagi. Untungnya di sini nggak se-ekstrem itu, tapi tetap aja, tatapan orang asing yang ngelihatin dari ujung kepala sampai ujung kaki itu rasanya risih banget.

Gini deh, bayangin kamu lagi makan bakso, terus semua orang di warung itu ngelihatin kamu seolah-olah kamu itu alien yang baru turun dari UFO. Nggak enak, kan? Itulah makanan sehari-hari teman-teman kita yang albino. Mereka sering banget jadi pusat perhatian yang nggak diinginkan. Padahal, ya mereka pengennya dianggap biasa aja. Mereka pengen sekolah, kerja, nongkrong di kafe, tanpa harus merasa jadi tontonan sirkus.

Penerimaan: Berhenti Bertanya "Kok Bisa?"

Kita hidup di zaman yang katanya sudah inklusif, tapi kadang empati kita masih suka "delay". Padahal, kalau kita mau sedikit lebih santai, orang dengan albinisme itu punya keunikan estetika yang luar biasa. Banyak fotografer dunia yang justru mencari model albino karena mereka punya aura "ethereal" atau keindahan yang nggak duniawi.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan biar nggak jadi orang yang nyebelin saat ketemu mereka:



  • Jangan melotot. Ya, mereka unik, tapi mereka bukan objek wisata.
  • Jangan asal potret tanpa izin. Ini sopan santun dasar, sih.
  • Berhenti tanya "Kok putih banget?" atau "Bapak-Ibunya orang mana?". Percayalah, mereka udah dengar pertanyaan itu sejuta kali.
  • Pahami kalau mereka mungkin butuh bantuan lebih dalam soal visual, tapi jangan meremehkan kemampuan mereka.

Kesimpulan: Lebih Dari Sekadar Warna

Pada akhirnya, menjadi 1 di antara 9.000 orang adalah tentang ketangguhan. Mereka harus berdamai dengan matahari yang galak dan masyarakat yang sering kali kurang literasi. Albino hanyalah variasi kecil dalam kode genetik manusia yang luas. Kulit putih mereka bukan penyakit menular, bukan kutukan, dan jelas bukan penghalang buat mereka untuk berprestasi.

Jadi, lain kali kalau kamu ketemu seseorang dengan rambut putih salju dan kulit pucat di tengah kerumunan, nggak perlu heboh. Cukup kasih senyum ramah (kalau mereka balas melihat) atau ya udah, lanjutin aja aktivitasmu. Karena sejatinya, yang bikin kita manusia bukan warna kulit yang kita pakai, tapi gimana cara kita menghargai orang lain yang "berbeda" dari kita.