Jumat, 15 Mei 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Begadang dan Rasa Lapar di Malam Hari: Penjelasan Ilmiah di Balik Keinginan Makan Berlebih

Laila - Wednesday, 13 May 2026 | 05:30 PM

Background
Begadang dan Rasa Lapar di Malam Hari: Penjelasan Ilmiah di Balik Keinginan Makan Berlebih

Begadang dan Rasa Lapar yang Meningkat

Banyak orang mengalami peningkatan nafsu makan ketika terjaga hingga larut malam. Meskipun telah mengonsumsi makan malam dalam jumlah cukup, rasa lapar kembali muncul pada tengah malam. Kondisi ini sering kali berujung pada konsumsi makanan tinggi kalori.

Fenomena tersebut bukan semata-mata persoalan kurangnya pengendalian diri, melainkan berkaitan erat dengan mekanisme biologis tubuh yang terganggu akibat kurang tidur.

Ketidakseimbangan Hormon: Ghrelin dan Leptin

Dalam tubuh manusia terdapat dua hormon utama yang mengatur rasa lapar dan kenyang, yaitu ghrelin dan leptin. Ghrelin berfungsi merangsang rasa lapar, sedangkan leptin berperan menekan nafsu makan serta memberikan sinyal kenyang kepada otak.

Ketika seseorang kurang tidur, kadar ghrelin cenderung meningkat, sementara kadar leptin menurun. Ketidakseimbangan ini menyebabkan tubuh terus mengirimkan sinyal lapar meskipun kebutuhan energi sebenarnya telah terpenuhi. Akibatnya, individu menjadi lebih mudah terdorong untuk makan, terutama pada malam hari.

Mengapa Cenderung Menginginkan Makanan Tinggi Kalori?

Menariknya, keinginan makan saat begadang umumnya tertuju pada makanan tinggi lemak, gula, atau karbohidrat sederhana. Hal ini berkaitan dengan sistem reward di otak yang menjadi lebih sensitif ketika tubuh mengalami kelelahan.



Kurang tidur juga meningkatkan kadar endokanabinoid dalam darah, yaitu zat kimia yang dapat memperkuat sensasi kenikmatan saat makan. Dampaknya, makanan tinggi kalori terasa lebih menggugah selera dan memberikan efek peningkatan suasana hati secara instan.

Penurunan Fungsi Pengambilan Keputusan

Selain memengaruhi hormon dan sistem reward, kurang tidur juga berdampak pada fungsi prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri.

Ketika tubuh lelah, kemampuan berpikir rasional menurun. Individu menjadi lebih impulsif dan cenderung memilih kepuasan jangka pendek dibandingkan mempertimbangkan dampak kesehatan jangka panjang. Inilah sebabnya keputusan untuk memesan makanan tengah malam terasa lebih mudah dilakukan.

Dampak terhadap Berat Badan dan Metabolisme

Jika kebiasaan begadang disertai makan berlebih terus berlangsung, dampaknya dapat memicu peningkatan berat badan. Selain asupan kalori yang meningkat, kurang tidur juga dapat memperlambat metabolisme tubuh.

Tubuh yang kekurangan istirahat cenderung berada dalam kondisi stres fisiologis, sehingga pembakaran energi menjadi kurang optimal. Kombinasi peningkatan asupan dan penurunan pembakaran kalori ini berpotensi memicu kenaikan berat badan dalam jangka panjang.



Upaya Mengurangi Lapar Akibat Begadang

Solusi utama untuk mencegah peningkatan nafsu makan akibat begadang adalah menjaga kualitas dan durasi tidur yang cukup. Tidur yang teratur membantu menstabilkan hormon serta menjaga fungsi otak tetap optimal.

Apabila begadang tidak dapat dihindari, disarankan untuk menyediakan camilan yang lebih sehat, seperti buah, kacang-kacangan, atau makanan tinggi serat. Langkah ini dapat membantu mengurangi konsumsi makanan tinggi kalori secara berlebihan.

Rasa lapar yang meningkat saat begadang bukan sekadar kebiasaan, melainkan akibat perubahan hormonal, peningkatan sensitivitas sistem reward otak, serta penurunan kemampuan pengendalian diri. Menjaga pola tidur yang baik merupakan langkah paling efektif untuk mengontrol nafsu makan dan menjaga kesehatan secara menyeluruh.