Menelusuri Sejarah Warna Ungu Paling Hype Sepanjang Masa
Liaa - Friday, 15 May 2026 | 01:35 PM


Kenapa Ungu Dulu Cuma Buat Orang Tajir? Menelusuri Sejarah Warna Paling Hype Sepanjang Masa
Pernah nggak sih kalian lagi jalan-jalan di mall, terus lihat baju warna ungu lavender atau lilac yang lucu banget, terus langsung beli tanpa mikir panjang? Sekarang, warna ungu itu receh banget. Mau cat rambut warna ungu ala-ala idol K-Pop atau beli casing HP warna deep purple, semuanya tinggal gesek kartu atau bayar pakai QRIS. Tapi, tahu nggak sih, kalau kita hidup di zaman Romawi Kuno atau Abad Pertengahan, pakai baju warna ungu itu bisa bikin kita masuk penjara atau minimal dipandang sebagai orang yang nggak tahu diri?
Serius, sejarah warna ungu itu nggak seringan warna pastelnya. Ungu punya sejarah yang gelap, bau, mahal, dan penuh dengan gengsi tingkat dewa. Mari kita bedah kenapa warna yang satu ini bisa punya reputasi sebegitu elitnya sampai-sampai disebut sebagai warna para raja.
Bukan Sembarang Warna, Tapi Hasil 'Ekstrak' Siput
Zaman dulu, sebelum ada pabrik kimia yang bisa bikin pewarna sintetis, orang-orang harus putar otak buat dapetin warna dari alam. Kalau warna merah bisa didapat dari serangga, atau kuning dari kunyit, ungu itu beda kasta. Di kota Tyre (sekarang wilayah Lebanon), orang-orang Fenisia menemukan cara bikin warna ungu dari siput laut jenis Murex.
Jangan bayangin prosesnya estetik kayak konten DIY di TikTok, ya. Prosesnya itu brutal dan bau banget. Untuk dapetin cuma satu gram pewarna ungu yang disebut Tyrian Purple ini, mereka butuh ribuan—beneran, sekitar 9.000 sampai 10.000—ekor siput laut. Bagian kelenjar kecil dari siput itu diambil, direbus berhari-hari di dalam kuali raksasa. Bau busuknya? Jangan ditanya. Katanya, kota-kota pusat produksi warna ungu itu baunya nggak ketulungan sampai-sampai orang luar nggak mau mampir.
Karena prosesnya yang ribet, butuh jutaan siput, dan baunya yang minta ampun, harga kain warna ungu jadi selangit. Saking mahalnya, harga satu pound kain ungu itu setara dengan gaji orang biasa selama bertahun-tahun. Intinya, kalau kamu pakai ungu zaman dulu, itu adalah cara paling sombong buat bilang ke dunia, "Gue kaya banget sampai-sampai bisa beli bau siput yang harganya seharga emas."
Warna yang Diproteksi Undang-Undang
Saking spesialnya, warna ungu ini nggak cuma soal mampu atau nggak mampu beli. Di beberapa era, kayak zaman Kekaisaran Romawi, ada aturan hukum yang namanya Sumptuary Laws. Aturan ini melarang rakyat jelata pakai warna tertentu. Ungu, khususnya Tyrian Purple, cuma boleh dipakai sama Kaisar. Bahkan, ada istilah "Born in the Purple" buat anak-anak kaisar yang lahir saat orang tuanya sudah bertahta.
Bayangin deh, kalau kamu warga biasa yang lagi pengen tampil beda terus nekat pakai syal warna ungu, kamu bisa dianggap menghina negara. Ungu bukan sekadar selera fashion, tapi simbol kekuasaan yang mutlak. Para raja dan ratu suka banget warna ini karena di bawah lampu atau matahari, warna ungu Tyrian nggak gampang pudar, malah makin lama makin cerah. Beda sama pewarna alami lain yang biasanya gampang buluk kalau sering dicuci.
Si Remaja 18 Tahun yang Mengubah Segalanya
Lalu, kapan warna ungu mulai jadi 'merakyat'? Jawabannya ada pada tahun 1856. Pelakunya bukan desainer fashion, tapi seorang remaja berusia 18 tahun bernama William Henry Perkin. Dia ini mahasiswa kimia yang sebenarnya lagi nyoba bikin obat buat penyakit malaria (sintesis kina). Namanya juga eksperimen, eh malah gagal total. Tabung reaksinya malah berisi cairan item kental yang aneh.
Tapi, bukannya dibuang, Perkin malah ngelihat ada semburat warna ungu di residu percobaannya itu. Begitu dia celupin kain sutra ke sana, warnanya nempel kuat banget dan cakep. Dia pun menamai penemuannya itu sebagai "Mauveine". Ini adalah pewarna sintetis pertama di dunia. Berkat ketidaksengajaan ini, warna ungu yang tadinya butuh ribuan siput mati sekarang bisa diproduksi massal di pabrik pakai bahan kimia.
Efeknya gila banget. Ratu Victoria di Inggris langsung jatuh cinta sama warna mauve ini dan memakainya ke acara-acara besar. Karena ratu pakai, semua orang jadi pengen ikut-ikutan. Ungu pun jadi tren global pertama yang berasal dari laboratorium kimia. Sejak saat itu, kasta warna ungu pelan-pelan turun dari warna eksklusif para dewa jadi warna yang bisa dibeli siapa saja di toko kain pinggir jalan.
Dari Simbol Kekuasaan ke Simbol Kreativitas dan Mistis
Sekarang, makna warna ungu sudah bergeser jauh. Di era modern, ungu sering dikaitkan dengan kreativitas, imajinasi, dan hal-hal yang berbau spiritual atau mistis. Mungkin karena ungu jarang banget muncul secara alami dalam jumlah besar (kayak langit biru atau hutan hijau), warna ini kerasa "nggak biasa" atau unik.
Lihat aja gimana Jimi Hendrix bikin lagu "Purple Haze" atau Prince dengan "Purple Rain"-nya yang ikonik. Di dunia K-Pop, BTS bikin istilah "I Purple You" (Borahae) yang maknanya dalem banget buat fans mereka. Ungu sekarang jadi simbol kasih sayang dan loyalitas. Nggak ada lagi tuh urusan bunuh-bunuhan siput atau kaisar yang marah-marah gara-gara kita pakai baju warna ungu.
Melihat sejarahnya yang panjang, kita harusnya agak lebih menghargai kalau lagi pakai barang warna ungu. Dari yang tadinya hasil rebusan siput yang bau sampai jadi simbol kemewahan yang dilarang buat rakyat jelata, sampai akhirnya ditemukan nggak sengaja oleh anak magang kimia yang gagal bikin obat. Ungu itu bukti kalau sesuatu yang spesial bisa berubah jadi umum seiring berjalannya waktu dan kemajuan teknologi.
Jadi, kalau nanti kamu pakai outfit warna ungu, ingatlah bahwa kamu lagi memakai warna yang dulu bikin Kaisar Romawi rela ngeluarin emas batangan demi bisa memilikinya. Meskipun mungkin baju yang kamu pakai itu cuma hasil diskonan di e-commerce, vibes "darah biru"-nya tetap ada dalam sejarah setiap serat warnanya. Keren juga ya, sebuah warna bisa punya perjalanan hidup yang lebih dramatis dari sinetron prime time?
Next News

Tips Mencuci Lemak dan Minyak di Wadah Plastik dengan Mudah
6 hours ago

Perpustakaan Tertua di Dunia
8 hours ago

Inilah Cara Mengatasi Noda Kotor pada Lemari Dapur
9 hours ago

Tips Memilih Makan Siang yang Lebih Sehat
10 hours ago

Cari Tahu Cara Memilih Ikan Segar untuk Keluarga di Rumah
10 hours ago

Ini Dia Cara Memilih Telur yang Baik dan Bagus
10 hours ago

Kenapa Setiap Kali Mendengar Lagu India Kita Spontan Ingin Menari?
10 hours ago

Taukah Kamu Lidah Paus Biru Lebih Berat dari Gajah?
10 hours ago

Kuda Laut Jantan yang Hamil dan Melahirkan: Peran Unik di Dunia Laut
10 hours ago

Awan Putih yang "Ringan" Itu Beratnya Sejuta Kilogram!
10 hours ago





