Bahaya Doomscrolling Drama: Tahu-Tahu Waktu Istirahat Sudah Habis
RAU - Monday, 18 May 2026 | 01:45 PM


Candu Drama Semenit: Mengapa Kita Betah Nonton CEO Galak di Sela Makan Siang?
Pernah nggak sih, niatnya cuma buka TikTok atau Instagram buat nyari resep seblak atau sekadar cek kabar teman, eh malah nyangkut nonton drama pendek yang judulnya agak ajaib semacam "Istri yang Dibuang Ternyata Anak Sultan"? Awalnya mungkin kita bakal ngebatin, "Halah, apaan sih ini? Aktingnya lebay, plotnya nggak masuk akal." Tapi anehnya, jari ini bukannya geser ke atas, malah keterusan nonton sampai episode dua puluh. Tahu-tahu, waktu istirahat makan siang sudah habis, dan kita masih penasaran apakah si CEO galak itu beneran jatuh cinta sama asistennya yang ceroboh itu.
Fenomena short drama atau drama pendek berdurasi satu sampai dua menit per episode ini memang lagi meledak banget. Platform kayak ReelShort, DramaBox, sampai fitur video pendek di SnackVideo dan TikTok penuh dengan konten begini. Fenomena ini bukan cuma soal tren sesaat, tapi refleksi nyata dari betapa berantakannya rentang perhatian (attention span) manusia modern yang makin mirip ikan mas koki—singkat banget.
Zaman Serba Sat-Set, Hiburan pun Harus Kilat
Kita hidup di era yang menuntut semuanya serba cepat atau istilah anak sekarang: sat-set. Mau makan tinggal pesan lewat ojek online, mau belanja tinggal klik, bahkan nyari jodoh pun tinggal geser kanan. Budaya instan ini akhirnya merembet ke cara kita mengonsumsi hiburan. Menonton film durasi dua jam di bioskop atau serial Netflix dengan 16 episode yang masing-masing sejam itu rasanya kayak komitmen yang berat banget, lho. Kadang kita merasa nggak punya energi mental yang cukup buat ngikutin plot yang lambat dan penuh teka-teki.
Di sinilah short drama masuk sebagai pahlawan kesiangan. Konten ini adalah "makanan cepat saji" bagi otak kita yang haus dopamine. Dengan durasi cuma 60 detik, mereka harus bisa narik perhatian kita dalam tiga detik pertama. Kalau nggak menarik, ya di-skip. Makanya, jangan heran kalau tiap episodenya selalu penuh konflik meledak-ledak, tamparan tiba-tiba, atau rahasia besar yang terbongkar di detik terakhir. Itu semua adalah trik biar kita nggak beranjak.
Plot "Cringe" yang Justru Jadi Daya Tarik
Kalau kita bedah dari segi kualitas sinematografi atau kedalaman naskah, jujur aja, drama-drama pendek ini sering kali jauh dari kata "berkualitas" dalam standar Oscar. Aktingnya kadang kaku, dubbing-nya nggak pas, dan jalan ceritanya sering kali pengulangan dari kiasan (tropes) yang sudah basi. Ada si kaya yang pura-pura miskin buat nyari cinta sejati, ada balas dendam menantu yang dizalimi mertua, sampai kisah cinta bos dan karyawan yang bumbunya kebencian jadi cinta.
Tapi, kenapa tetap laku keras? Karena konten ini menawarkan katarsis instan. Kita nggak perlu mikir keras buat paham ceritanya. Semua emosinya gamblang. Tokoh jahat bakal beneran kelihatan jahat sampai kita pengen maki-maki, dan tokoh protagonisnya biasanya bakal dapet "keajaiban" yang bikin kita ngerasa puas. Di tengah hidup yang makin kompetitif dan penuh tekanan, menonton sesuatu yang nggak menuntut kerja otak adalah sebuah kemewahan tersendiri. Istilahnya, ini adalah guilty pleasure kita.
Ekonomi Perhatian dan Budaya Komuter
Selain soal psikologi, kesuksesan short drama juga didukung oleh pergeseran cara kita bergerak. Bayangkan orang-orang di Jakarta yang harus menempuh perjalanan satu sampai dua jam pakai KRL atau TransJakarta. Di tengah keramaian, berdiri sambil pegangan handstrap, nggak mungkin banget mereka buka laptop buat nonton film panjang. Yang paling nyaman adalah pegang HP dengan satu tangan dalam posisi vertikal (portrait mode).
Format vertikal ini krusial banget. Ia menciptakan rasa intim antara penonton dan karakter di layar. Seolah-olah kita lagi video call-an sama pemainnya. Para produser drama pendek ini paham betul kalau pasar mereka adalah orang-orang sibuk yang cuma punya waktu luang lima menit di sela nunggu antrean kopi, di atas ojek, atau pas lagi nunggu lift. Mereka nggak jualan kualitas estetika, mereka jualan "pengisi kekosongan waktu".
Apakah Ini Masa Depan Industri Kreatif?
Melihat kesuksesannya, banyak rumah produksi besar mulai melirik format ini. Nggak sedikit aktor yang dulunya main di layar lebar mulai nyicipin main di drama pendek karena perputarannya yang cepat dan uangnya yang nggak kalah kencang. Meskipun banyak yang mencibir kalau ini merusak kualitas seni, tapi kita nggak bisa menutup mata kalau inilah yang diinginkan pasar saat ini.
Pada akhirnya, short drama adalah cermin dari masyarakat kita saat ini: haus akan pengakuan, suka dengan hal-hal yang bombastis, dan selalu merasa kekurangan waktu. Kita mungkin bakal tetap menganggapnya konten "sampah" atau "receh", tapi faktanya, saat malam hari sebelum tidur, jari kita tetap saja asyik menggulir layar, mencari tahu apakah si istri yang dizalimi itu akhirnya berhasil merebut kembali hartanya dari suami yang selingkuh. Dan selama rasa penasaran itu masih ada, drama semenit ini nggak bakal hilang dari layar HP kita.
Jadi, jangan merasa bersalah kalau kamu ketagihan. Kita semua cuma manusia biasa yang butuh hiburan tanpa tapi, dan tanpa perlu mikir tinggi-tinggi. Selamat menikmati episode berikutnya!
Next News

Jangan Lewatkan! Keutamaan Dzulhijjah yang Sering Terlupakan
in 6 hours

Mengenal 4 Jenis Roti India Populer: Naan, Chapati, Paratha, dan Papadam
in 5 hours

Hari Besar 18 Mei: Hari Museum Internasional hingga Hari Vaksin AIDS Sedunia
in 5 hours

Perbedaan Skin Tone dan Undertone Kulit: Cara Menentukan dan Manfaat Mengetahuinya
in 5 hours

Teras Makin Cantik! 9 Bunga Gantung yang Tahan Terik Matahari
in 5 hours

Dari Nikotin hingga Arsenik, Kenali Bahaya Rokok bagi Tubuh
in 5 hours

Dari Pangan hingga Farmasi, Mengenal 10 Rumput Laut Andalan Nusantara
in 5 hours

Si Kecil Kecanduan HP? Yuk Cegah Dampak Buruk Generasi Tunduk
in 5 hours

Fakta Unik Kura-Kura: Kelamin Ditentukan Suhu Bukan Gen
in 4 hours

Self-Awareness pada Simpanse, Fakta Ilmiah yang Menarik
in 4 hours





